Performa Mohamed Salah di awal musim ini menjadi sorotan tajam, bahkan cenderung mengkhawatirkan. Sang "Raja Mesir" yang selama ini dikenal sebagai mesin gol dan penyelamat Liverpool, kini tampak kehilangan sentuhan magisnya, bahkan mulai akrab dengan bangku cadangan. Situasi ini memicu banyak pertanyaan tentang masa depan dan peran sang bintang di Anfield.
Liverpool memang baru saja menghentikan rentetan kekalahan beruntun mereka yang mencapai empat pertandingan. Kemenangan meyakinkan 5-1 atas tuan rumah Eintracht Frankfurt di laga tandang menjadi angin segar, namun ironisnya, nama Mohamed Salah tidak tercantum dalam daftar pencetak gol.
Awal Musim yang Tak Indah: Statistik Bicara
Musim 2025/2026 ini jelas bukan awal yang ideal bagi Mohamed Salah. Pemain asal Mesir tersebut gagal menunjukkan performa menakjubkan seperti musim-musim sebelumnya yang selalu membuatnya menjadi kandidat top skor. Angka-angka berbicara lebih jelas dari segalanya.
Dari 12 pertandingan yang telah dimainkan Liverpool di semua kompetisi, Salah baru berhasil mencetak tiga gol dan menyumbangkan tiga assist. Statistik ini jelas jauh di bawah standar seorang Mohamed Salah yang biasanya sudah mengoleksi dua digit gol di fase awal musim.
Bukan Lagi Sang Penyelamat: Momen Kritis Liverpool Tanpa Gol Salah
Lebih jauh lagi, kegagalan Salah dalam mencetak gol memiliki korelasi langsung dengan hasil buruk yang menimpa Liverpool. Ketika The Reds menelan empat kekalahan beruntun yang memilukan, Mohamed Salah sama sekali tidak mampu menyumbangkan gol maupun assist.
Momen-momen krusial tersebut biasanya menjadi panggung bagi Salah untuk bersinar dan menyelamatkan tim. Namun, kali ini, keheningan dari sang bintang justru memperparah krisis yang dialami Liverpool, meninggalkan para penggemar bertanya-tanya.
Keputusan Berani Arne Slot: Mengapa Salah Dicadangkan?
Kondisi ini akhirnya mendorong manajer baru Liverpool, Arne Slot, untuk mengambil keputusan berani. Dalam pertandingan melawan Eintracht Frankfurt, Salah ditempatkan di bangku cadangan, sebuah pemandangan yang jarang terjadi dalam beberapa musim terakhir.
Slot memilih untuk menurunkan trio penyerang yang terdiri dari Hugo Ekitike, Alexander Isak, dan Cody Gakpo sejak menit pertama. Keputusan ini terbukti jitu dengan kemenangan telak 5-1 yang diraih Liverpool, menunjukkan bahwa tim bisa tampil produktif tanpa Salah sebagai starter.
Salah baru masuk ke lapangan pada menit ke-74, menggantikan Hugo Ekitike. Namun, penampilannya yang singkat justru memicu kritik. Ia dinilai terlalu egois di menit-menit akhir pertandingan, memilih untuk mengeksekusi sendiri peluang emas daripada mengoper bola kepada Florian Wirtz yang berada di posisi lebih baik.
Momen tersebut seolah menjadi gambaran nyata dari frustrasi yang dialami Salah. Tekanan untuk kembali mencetak gol dan menjadi pahlawan lagi mungkin membuatnya mengambil keputusan yang kurang tepat di lapangan.
Transisi Era: Dampak Sistem Baru dan Persaingan Internal
Perubahan taktik di bawah Arne Slot juga bisa jadi faktor penting dalam menurunnya performa Salah. Setiap manajer memiliki filosofi bermain yang berbeda, dan mungkin saja Salah membutuhkan waktu lebih untuk beradaptasi dengan sistem baru yang diterapkan Slot.
Di era Jurgen Klopp, Salah adalah poros utama serangan, seringkali diberikan kebebasan untuk bergerak dan menjadi target utama umpan. Kini, dengan adanya pemain-pemain baru seperti Ekitike dan Isak yang juga haus gol, persaingan di lini depan semakin ketat.
Slot mungkin sedang mencoba mencari formula terbaik untuk lini serangnya, dan itu berarti tidak ada pemain yang dijamin posisinya, bahkan seorang bintang sekalipun. Ini adalah sinyal jelas bahwa era baru di Anfield telah dimulai, di mana meritokrasi menjadi kunci utama.
Masa Depan Sang Firaun: Tantangan di Anfield dan Laga Kontra Brentford
Dengan hasil kemenangan 5-1 yang meyakinkan, ditambah fakta bahwa Salah kembali tidak mencetak gol, bukan tidak mungkin Arne Slot akan kembali mencadangkan sang bintang di pertandingan berikutnya. Liverpool dijadwalkan menghadapi Brentford pada Minggu (26/10) dini hari WIB.
Keputusan Slot di laga tersebut akan sangat menentukan arah masa depan Salah di Liverpool. Apakah ia akan kembali menjadi starter, atau justru semakin akrab dengan bangku cadangan? Ini adalah tantangan besar bagi Salah untuk membuktikan bahwa ia masih layak menjadi andalan utama.
Bagi para penggemar Liverpool, situasi ini tentu membingungkan dan sedikit menyakitkan. Mereka terbiasa melihat Salah sebagai sosok yang tak tergantikan, pahlawan yang selalu bisa diandalkan untuk mencetak gol-gol penting. Kini, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa bahkan seorang "Firaun" pun bisa kehilangan singgasananya.
Apakah ini hanya fase sementara ataukah pertanda akhir dari dominasi Mohamed Salah di Anfield? Hanya waktu dan konsistensi performa yang bisa menjawabnya. Yang jelas, tekanan kini berada di pundak Salah untuk membuktikan bahwa ia masih memiliki magis yang dibutuhkan Liverpool.


















