Jakarta, CNN Indonesia — Arena berkuda Arthayasa Stable di Depok baru-baru ini menjadi saksi bisu pertarungan sengit yang memacu adrenalin. Empat atlet berkuda belia terbaik Indonesia saling beradu keahlian, kecepatan, dan ketepatan dalam kelas Kategori A 130 cm seri 1 dan 2 FEI Jumping World Challenge 2025. Kompetisi yang berlangsung pada 7 dan 9 November 2025 ini bukan sekadar ajang biasa, melainkan gerbang menuju panggung internasional yang lebih besar.
Impian untuk mewakili Merah Putih di Olimpiade Remaja 2026 di Dakar, Senegal, menjadi bahan bakar utama semangat para atlet. Mereka adalah Gadis Kireina Iskandar, Nathanael Gabriel Stevano Menayang, Nusrtdinov Zayan Fatih (akrab disapa Dinov), dan Teuku Rifat Harsya. Nama-nama ini kini menjadi sorotan, digadang-gadang sebagai masa depan olahraga berkuda Indonesia.
Pertarungan Sengit Menuju Dakar, Senegal
Kompetisi FEI Jumping World Challenge 2025 merupakan ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Federasi Equestrian Internasional (FEI). Tujuannya mulia, yakni mengembangkan olahraga berkuda di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Melalui ajang ini, para atlet muda diberi kesempatan emas untuk mengasah kemampuan dan merasakan atmosfer kompetisi tingkat dunia.
Indonesia sendiri tergabung dalam Zona 9, bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Thailand, India, dan Malaysia. Hanya dua atlet terbaik dari setiap zona yang akan melaju ke putaran final tahun depan. Ini berarti, persaingan di tingkat nasional pun sudah terasa seperti final, di mana setiap kesalahan kecil bisa berakibat fatal.
Mengenal Lebih Dekat Tantangan Kategori A 130 cm
Kelas Kategori A 130 cm dalam cabang lompat rintangan (show jumping) bukanlah kelas sembarangan. Para atlet harus menunggangi kuda mereka melintasi belasan rintangan dengan ketinggian mencapai 130 sentimeter. Ini membutuhkan kombinasi presisi, kekuatan, kecepatan, dan tentu saja, ikatan kuat antara penunggang dan kuda.
Setiap rintangan yang jatuh atau waktu yang melebihi batas akan berujung pada penalti. Di sinilah letak drama dan ketegangan, di mana sepersekian detik atau satu sentimeter saja bisa menentukan nasib seorang atlet. Ini adalah ujian mental dan fisik yang luar biasa bagi para penunggang muda.
Dinamika Seri 1 dan 2: Siapa Unggul Sementara?
Dua seri awal di Arthayasa Stable telah menyajikan tontonan yang mendebarkan. Para atlet menunjukkan performa terbaik mereka, saling mengalahkan dan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hasil dari dua seri ini menjadi bekal penting sebelum menghadapi seri penentu.
Kejutan di Seri Perdana: Dominasi Dinov
Pada seri pertama yang digelar Jumat (7/11), Dinov berhasil mencuri perhatian dengan performa gemilang. Ia tampil sangat meyakinkan, menunggangi kudanya dengan cekatan dan berhasil menjadi yang terbaik dalam dua sesi. Dinov mengungguli Gadis dan Teuku Rifat dengan catatan waktu yang impresif.
Dengan waktu 53,53 detik, Dinov berhasil mengamankan posisi puncak, meninggalkan Gadis dengan catatan waktu 55,51 detik. Kemenangan ini tentu menjadi suntikan motivasi besar bagi Dinov, sekaligus memberikan sinyal kuat kepada para pesaingnya bahwa ia adalah kandidat serius untuk tiket final.
Balas Dendam Gadis Kireina di Seri Kedua
Namun, persaingan di olahraga berkuda seringkali penuh kejutan. Pada seri kedua yang berlangsung Minggu (9/11), giliran Gadis Kireina yang menunjukkan taringnya. Ia berhasil membalikkan keadaan dan mengungguli Dinov dengan performa yang lebih bersih.
Gadis hanya mencatat empat penalti total dalam dua ronde, sementara Dinov harus menerima delapan penalti. Hasil ini menunjukkan bahwa Gadis memiliki mental juara dan mampu bangkit setelah seri pertama. Kemenangan di seri kedua ini secara signifikan meningkatkan peluang Gadis untuk lolos ke putaran final FEI Jumping World Challenge 2025.
Mengintip Peluang ke Putaran Final dan Olimpiade Remaja
Meskipun Gadis kini berada di posisi yang menguntungkan setelah dua seri, perjalanan masih panjang. Semuanya akan ditentukan di seri ketiga yang akan digelar di Pulomas pekan depan. Selain itu, hasil para atlet Indonesia juga akan dibandingkan dengan performa atlet dari negara-negara Asia lain di Zona 9.
FEI Jumping World Challenge dirancang dengan satu desain lintasan standar yang digunakan di seluruh zona kualifikasi. Ini memastikan keadilan dan standar kompetisi yang sama di seluruh dunia. Dua atlet terbaik dari Zona 9 akan mendapatkan kehormatan untuk melaju ke putaran final tahun depan.
Seri Penentu: Gerbang Menuju Youth Olympic Games 2026
Seri ketiga bukan hanya penentu untuk FEI Jumping World Challenge, tetapi juga menjadi babak kualifikasi krusial untuk Youth Olympic Games (YOG) 2026. Olimpiade Remaja adalah ajang multi-olahraga internasional yang setara dengan Olimpiade bagi atlet muda. Kesempatan untuk berlaga di Dakar, Senegal, adalah impian setiap atlet.
Rafiq Radinal, Ketua Komisi Equestrian PP Pordasi, menjelaskan betapa pentingnya seri ketiga ini. "FEI Jumping World Challenge 2025 ini juga akan menjadi kualifikasi untuk Youth Olympic Games [YOG] 2026 di Senegal. Mudah-mudahan mereka lolos masuk ke YOG," ujarnya penuh harap. Ia menambahkan bahwa atlet yang lolos dengan paling banyak dua kesalahan dari dua putaran di seri ketiga memiliki peluang besar.
Harapan dan Target dari Komisi Equestrian PP Pordasi
PP Pordasi menaruh harapan besar pada keempat atlet muda ini. Rafiq Radinal menegaskan bahwa persaingan untuk mendapatkan tiket YOG sangat ketat. "Siapa yang lolos ini berebut antara mereka berempat. Yang lolos satu atau dua tergantung FEI," jelasnya, menunjukkan bahwa kuota bisa bervariasi.
Keberhasilan para atlet ini bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga cerminan kemajuan olahraga berkuda di Indonesia. Pordasi berkomitmen untuk terus mendukung dan membina talenta-talenta muda agar bisa bersaing di kancah internasional. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan equestrian Indonesia.
Keyakinan Gadis Kireina: Optimisme Menuju Dakar
Gadis Kireina Iskandar, yang kini unggul sementara, menunjukkan optimisme tinggi. Dengan senyum penuh harap, ia menyatakan tekadnya. "Saya akan berusaha sebaik mungkin. Saya sangat senang bahwa Indonesia memiliki kesempatan ini. Saya sangat berharap untuk menjadi pemenang," tutur Gadis.
Pengalamannya melihat Asian Youth Games juga memberinya keyakinan tambahan. "Setelah melihat Asian Youth Games, saya pikir saya memiliki kesempatan," tambahnya. Keyakinan diri ini menjadi modal penting bagi Gadis untuk menghadapi tekanan di seri terakhir dan mewujudkan mimpinya berlaga di Dakar.
Lebih dari Sekadar Kompetisi: Pembibitan Atlet Masa Depan
Selain kelas utama Kategori A 130 cm, FEI Jumping World Challenge 2025 juga mempertandingkan berbagai kelas lainnya. Ada kelas 130 cm, kelas 50-60 cm, 70 cm, 80-90 cm, 110-110 cm, dan 120 cm. Ini menunjukkan bahwa ajang ini tidak hanya fokus pada level tertinggi, tetapi juga menjadi wadah pembibitan bagi atlet-atlet di berbagai tingkatan.
Keberadaan kelas-kelas yang bervariasi ini memastikan bahwa bakat-bakat muda dari berbagai usia dan tingkat pengalaman memiliki kesempatan untuk berkompetisi dan berkembang. Ini adalah langkah strategis untuk menciptakan regenerasi atlet berkuda yang berkelanjutan di Indonesia, memastikan masa depan olahraga ini tetap cerah.
Dengan seri ketiga yang akan segera tiba, seluruh mata akan tertuju pada Pulomas. Siapa di antara Gadis, Dinov, Nathanael, dan Rifat yang akan berhasil mengamankan tiket emas menuju putaran final FEI Jumping World Challenge 2025 dan, yang lebih penting, mewakili Indonesia di Youth Olympic Games 2026? Pertarungan sengit ini menjanjikan drama dan emosi yang tak terlupakan.


















