banner 728x250

Wanda Hamidah Buka Suara: Misi Kemanusiaan ke Gaza Legal, Israel Justru Melanggar Hukum Internasional!

wanda hamidah buka suara misi kemanusiaan ke gaza legal israel justru melanggar hukum internasional scaled portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Minggu, 05 Okt 2025 11:00 WIB

Setelah melalui perjalanan penuh drama, aktivis sekaligus selebriti Wanda Hamidah akhirnya tiba kembali di Tanah Air. Dengan tegas, ia menyatakan bahwa misi Global Sumud Flotilla (GSF) yang berupaya menembus blokade perairan Israel di Gaza adalah tindakan yang sepenuhnya legal dan dilindungi hukum internasional.

banner 325x300

Pernyataan ini dilontarkan Wanda di Jakarta Selatan, Sabtu (4/10), setelah upayanya bersama relawan lain untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Palestina terhambat kendala teknis dan pencegatan oleh Israel. Ia kembali ke Indonesia usai gagal melanjutkan pelayaran yang penuh tantangan tersebut.

Misi Kemanusiaan yang Dianggap Legal

Menurut Wanda, setiap langkah yang diambil oleh GSF, termasuk upaya menembus blokade, adalah sah di mata hukum. "Yang kami lakukan adalah legal, yang kami lakukan adalah dilindungi oleh undang-undang dan peraturan internasional," ujarnya, mengutip laporan Antara.

Ia menjelaskan, pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik seperti Gaza adalah hak fundamental yang dijamin oleh berbagai instrumen hukum internasional. Konvensi Jenewa 1949, Piagam PBB, hingga Resolusi Dewan Keamanan PBB secara eksplisit melindungi kegiatan kemanusiaan ini sebagai pilar hukum humaniter internasional.

Bahkan, Wanda juga menyinggung keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) yang telah menyatakan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melakukan genosida. ICJ bahkan memerintahkan penangkapan terhadap Netanyahu, sebuah fakta yang semakin memperkuat argumen Wanda tentang pelanggaran hukum oleh Israel.

Drama Penangkapan dan Pilihan Sulit Para Aktivis

Wanda tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Sabtu malam, setelah misinya terhenti akibat kendala teknis. Ia tidak sendiri, aktivis Indonesia lainnya, Muhammad Fatur Rohman dari Aqsa Working Group (AWG), juga turut serta dalam misi berani ini.

Global Sumud Flotilla sendiri merupakan konvoi besar yang melibatkan 42 kapal dan sekitar 500 relawan dari berbagai penjuru dunia. Namun, ironisnya, sebagian besar kapal ini dicegat oleh Israel, dan 461 relawan dilaporkan ‘diculik’, termasuk aktivis lingkungan terkenal asal Swedia, Greta Thunberg.

Wanda menyoroti nasib para relawan yang ditangkap Israel. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit yang penuh tekanan: menandatangani surat deportasi untuk dipulangkan, atau menolak dan harus mendekam di penjara Israel.

"Kalau kami menandatangani surat deportasi kami akan dikirim pulang kembali, tapi kalau kamu tidak mau menandatangani surat deportasi kami akan ditahan di penjara Israel," jelasnya, menggambarkan dilema moral dan fisik yang dialami para aktivis. Pilihan ini menjadi bukti nyata beratnya perjuangan mereka.

Amanat Konstitusi dan Kesadaran Global

Lebih dari sekadar misi kemanusiaan, Wanda menegaskan bahwa tujuannya adalah membangkitkan kesadaran. Terutama bagi warga negara Indonesia, ia ingin mengingatkan tentang pentingnya membebaskan Palestina dari penjajahan, sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Ia menekankan bahwa Indonesia, sebagai negara yang menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi, memiliki tanggung jawab moral yang besar. "Kita tidak lagi menginginkan ada penjajahan di muka bumi, Indonesia, dan kita menolak setiap tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan Indonesia menolak setiap tindakan yang tidak berperikeadilan," tegas Wanda.

Baginya, ini bukan hanya soal politik luar negeri, melainkan esensi dari identitas bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. "Ini sudah jelas, ini adalah esensi dari Undang-Undang 1945," pungkasnya, menyerukan agar nilai-nilai tersebut selalu dijunjung tinggi dalam setiap tindakan.

Perjalanan Penuh Tantangan Wanda Hamidah

Perjalanan Wanda menuju Gaza tidaklah mudah dan penuh liku. Awalnya, ia bergabung dengan rombongan Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) dan mendarat di Tunisia untuk memulai misi.

Namun, di tengah perjalanan, IGPC memutuskan untuk mengundurkan diri dari misi tersebut. Wanda, dengan tekad bulat dan semangat yang tak tergoyahkan, memilih untuk tetap melanjutkan perjalanannya seorang diri.

Ia kemudian tiba di Italia dan bertemu dengan Fatur, aktivis senegaranya. Sayangnya, kapal yang seharusnya mereka gunakan di Italia mengalami kendala teknis serius, membuat pelayaran terhenti dan rencana awal terpaksa diubah.

Tak menyerah, Wanda kemudian bergabung dengan kapal bernama Nusantara. Kapal ini membawa 13 orang dari tujuh kewarganegaraan berbeda dan disebut-sebut sebagai kapal terakhir yang berlayar menuju Gaza.

Namun, lagi-lagi, masalah teknis menghantam. Kapal Nusantara pun tak bisa menyusul kapal-kapal lain yang sudah lebih dulu berangkat, mengakhiri upaya Wanda untuk mencapai Gaza secara langsung dan mengirimkan bantuan.

Meskipun gagal mencapai Gaza secara langsung, pernyataan Wanda Hamidah ini menjadi pengingat penting bagi kita semua. Ia menyoroti bahwa di balik blokade dan penangkapan, ada perjuangan hukum dan moral yang kuat yang terus berlangsung.

Misi kemanusiaan seperti GSF, menurutnya, adalah wujud nyata dari upaya menegakkan keadilan dan kemanusiaan di tengah konflik yang berkepanjangan. Kisah Wanda dan GSF adalah cerminan dari keberanian para aktivis yang tak gentar menyuarakan kebenaran, bahkan di hadapan kekuatan besar, demi kebebasan dan hak asasi manusia yang universal.

banner 325x300