Pendudukan Jepang di tanah air, meski hanya seumur jagung selama 3,5 tahun, meninggalkan luka yang sangat dalam. Ribuan nyawa melayang akibat kekejaman yang tak terbayangkan. Kita sering mendengar tentang romusha, kerja paksa yang merenggut banyak korban.
Namun, di balik kisah romusha yang sudah mengerikan itu, ada fakta yang jauh lebih gelap. Jepang ternyata juga mengoperasikan unit laboratorium rahasia. Di sana, eksperimen mengerikan dilakukan, menjadikan para romusha dan tahanan sebagai kelinci percobaan. Salah satu peristiwa paling kelam dan terkenal adalah tragedi Klender.
Panggilan Darurat dari Klender: Awal Mula Tragedi
Bayangkan ini: pagi hari Minggu, 6 Agustus 1944. Telepon berdering di Rumah Sakit Pusat Jakarta. Penelepon dari kamp transit romusha di Klender terdengar panik, memohon bantuan medis secepatnya. Ratusan romusha tiba-tiba berubah postur aneh, mengerang kesakitan yang luar biasa.
Tim medis segera dikirim, menduga ada wabah meningitis yang menyerang. Namun, apa yang mereka temukan di sana jauh lebih mengerikan dari dugaan awal. Para romusha itu bukan terkena meningitis, melainkan tetanus akut.
Yang lebih mengejutkan lagi, tetanus itu bukan muncul secara alami. Basil mematikan itu disuntikkan ke dalam tubuh mereka beberapa hari sebelumnya. Sebuah fakta yang membuat bulu kuduk merinding.
Bukan Sekadar Vaksin Biasa: Eksperimen Keji di Balik Dinding Kamp
Ternyata, para dokter Jepang diketahui menyuntikkan vaksin campuran TCD (Typhus, Cholera, Disentri) kepada para pekerja paksa ini. Namun, ada yang tidak beres dengan vaksin tersebut. Salah seorang dokter pribumi yang ikut memeriksa, dokter Bahder Johan, yang kelak menjadi guru besar dan rektor di Universitas Indonesia, menjadi saksi bisu kekejaman ini.
Catatan Jepang sendiri menyebutkan, dari 900 romusha yang terlibat dalam insiden ini, sekitar 400 orang tewas mengenaskan. Hasil pemeriksaan medis mengungkapkan penyebab kematian yang sebenarnya: basil Clostridium tetani yang menghasilkan toksin tetanus, bukan bakteri itu sendiri. Ini adalah bukti jelas adanya kesengajaan.
Bagaimana mungkin vaksin yang seharusnya melindungi justru menjadi alat pembunuh massal? Ini adalah pertanyaan yang menghantui. Kamp Klender telah menjadi saksi bisu eksperimen manusia paling brutal dalam sejarah.
Upaya Penutupan dan Penangkapan Massal
Tak butuh waktu lama, tentara Jepang langsung menyegel kamp di Klender, hanya beberapa jam setelah insiden itu terungkap. Permintaan untuk menerima lebih banyak pasien yang sekarat untuk perawatan medis ditolak mentah-mentah. Mereka seolah ingin menutupi jejak.
Mayat-mayat romusha yang tewas segera dipindahkan dari rumah sakit. Diduga kuat, mereka dikuburkan secara massal bersama para korban lain yang meninggal dan sekarat di Klender. Sebuah upaya sistematis untuk menghilangkan bukti kejahatan.
Kenpeitai, polisi militer Jepang yang terkenal kejam, segera melakukan penyelidikan. Sepanjang Agustus dan September, mereka bergerak cepat, hingga akhirnya melakukan penangkapan pada awal Oktober. Target mereka? Para tenaga medis Indonesia.
Penangkapan itu mencakup dua dokter Indonesia dari dinas kesehatan kota yang terlibat dalam pemberian suntikan. Bos mereka, Dr. Marzoeki, dan sebagian besar staf ilmiah Lembaga Eijkman juga ikut diciduk. Termasuk di antaranya adalah Dr. Ahmad Mochtar, kepala Laboratorium Eijkman yang disegani.
Neraka Penjara Kenpeitai: Penyiksaan Brutal untuk Sebuah Pengakuan
Begitu ditangkap, para tenaga medis itu langsung merasakan neraka di tangan Kenpeitai. Mereka dipaksa untuk memberikan pengakuan melalui penyiksaan sistematis dan brutal. Metode penyiksaan yang digunakan sungguh di luar batas kemanusiaan.
Mereka dipukuli, di-wash boarding (disiksa dengan papan), di-waterboarding (disiksa dengan air), dibakar, disetrum listrik, digantung dalam posisi menyiksa untuk waktu yang lama, dan diberi ransum kelaparan. Semua ini berlangsung selama dua bulan, sebuah periode yang terasa seperti keabadian.
Puncaknya, seorang dokter meninggal dunia akibat penyiksaan keji ini. Beberapa penyintas mengingat jenazah dokter Arief yang termutilasi diarak di depan sel mereka pada awal Desember 1944. Tubuhnya penuh bekas puluhan luka bakar rokok dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Wajahnya dipukuli hingga tak dapat dikenali, dan kakinya dibentangkan dari mata kaki hingga bokong akibat penyiksaan wash boarding. Pemandangan itu sengaja ditunjukkan untuk mematahkan semangat dan memaksa pengakuan dari para tahanan lainnya.
Pengorbanan Heroik Dr. Ahmad Mochtar: Menyelamatkan Kolega dengan Nyawa
Melihat penderitaan rekan-rekannya dan tak kuat lagi menahan derita penyiksaan, Dr. Ahmad Mochtar mengambil keputusan yang sangat berat. Demi menyelamatkan para kolega lain yang tak bersalah, ia membuat pengakuan palsu. Ia mengaku bahwa dirinyalah yang telah memasukkan vaksin tetanus kepada para romusha, sehingga menyebabkan kematian massal itu.
Pengakuan itu adalah pengorbanan heroik. Dr. Mochtar tahu konsekuensinya, namun ia memilih untuk melindungi rekan-rekannya. Jepang pun menyalahkan Dr. Ahmad Mochtar sebagai biang keladi peristiwa ini.
Pada 3 Juli 1944, Dr. Mochtar dieksekusi dengan pedang. Sebuah akhir yang tragis bagi seorang ilmuwan yang berdedikasi. Ironisnya, kematiannya bahkan tidak diberitahukan kepada keluarga. Mereka baru mengetahui nasib Dr. Mochtar bertahun-tahun kemudian.
Mengenang Kembali Sejarah Kelam: Pelajaran dari Tragedi Klender
Tragedi Klender adalah salah satu babak paling kelam dalam sejarah pendudukan Jepang di Indonesia. Ini bukan sekadar kisah tentang kerja paksa, melainkan tentang eksperimen keji yang merenggut nyawa ratusan orang tak bersalah. Kisah Dr. Ahmad Mochtar adalah simbol pengorbanan dan keberanian di tengah kekejaman yang tak terlukiskan.
Mengenang kembali peristiwa ini adalah penting. Ini adalah pengingat akan bahaya absolutisme kekuasaan dan dehumanisasi. Sejarah kelam ini harus terus diceritakan, agar kita tidak pernah lupa akan harga kemerdekaan dan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Semoga arwah para romusha dan pahlawan medis yang gugur dalam tragedi Klender mendapatkan tempat terbaik. Kisah mereka adalah pelajaran berharga bagi kita semua.


















