Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Pecah Rekor! 7 Juta Warga AS ‘Kepung’ Trump, Bendera One Piece Jadi Simbol Perlawanan Global?

pecah rekor 7 juta warga as kepung trump bendera one piece jadi simbol perlawanan global portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Minggu, 19 Oktober 2025, menjadi saksi bisu gelombang protes masif yang mengguncang Amerika Serikat, ketika hampir tujuh juta warga turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk "No Kings." Aksi ini menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap berbagai kebijakan Presiden Donald Trump, mencatat sejarah baru dalam gerakan sipil di Negeri Paman Sam. Tersebar di lebih dari 2.700 lokasi, mulai dari kota-kota besar hingga pelosok kecil, perlawanan ini menunjukkan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Gelombang Perlawanan Terbesar dalam Sejarah Modern AS

Angka partisipasi yang fantastis ini, menurut penyelenggara "No Kings," melampaui demonstrasi serupa pada Juni 2025 dengan selisih dua juta orang. Ini bukan sekadar protes biasa; ini adalah manifestasi kolektif dari jutaan suara yang menuntut perubahan, sebuah sinyal kuat bahwa kebijakan yang diambil oleh Gedung Putih sedang dipertanyakan secara serius oleh rakyatnya sendiri.

banner 325x300

Meskipun skalanya luar biasa, kepolisian melaporkan bahwa sebagian besar demonstrasi berlangsung damai. Di banyak kota besar, tidak ada insiden signifikan atau penangkapan yang terjadi, menunjukkan kematangan dan kedewasaan para demonstran dalam menyampaikan aspirasi mereka. Namun, di balik ketenangan itu, ada pesan yang sangat jelas dan mendesak yang ingin disampaikan kepada pemimpin negara.

Chicago Berteriak “Hands Off,” Los Angeles Penuh Warna

Di jantung kota Chicago, ribuan orang membanjiri jalanan dengan spanduk-spanduk buatan tangan yang berbunyi "Hands Off Chicago." Pemandangan unik terlihat dengan bendera AS yang dikibarkan secara terbalik – sebuah simbol universal untuk kondisi darurat atau bahaya – berdampingan dengan bendera Meksiko dan bendera pelangi (Pride Flag). Ini menunjukkan solidaritas lintas isu dan komunitas yang bersatu dalam satu tujuan.

Para pengunjuk rasa di Chicago mengungkapkan kekhawatiran mendalam mereka kepada CNN. Isu-isu seperti penggerebekan imigrasi yang agresif, pemotongan anggaran Medicaid – program jaminan kesehatan vital bagi jutaan warga miskin dan rentan – serta berbagai kebijakan kontroversial Trump lainnya menjadi pemicu utama kemarahan publik di kota yang dikenal sebagai salah satu target utama penindakan keras imigrasi tersebut.

Sementara itu, di Los Angeles, suasana protes terasa lebih meriah namun tetap sarat makna. Demonstran dengan kostum tiup yang unik memenuhi jalanan, mengibarkan bendera AS sebagai bentuk protes terhadap penilaian Trump yang kerap meremehkan kelompok-kelompok pengunjuk rasa. Mereka membuktikan bahwa perlawanan bisa disampaikan dengan cara yang kreatif dan damai, tanpa harus kehilangan esensinya.

Bendera One Piece: Simbol Kebebasan yang Mendunia

Salah satu pemandangan paling mencuri perhatian di Los Angeles adalah kemunculan bendera One Piece, Jolly Roger, yang dikibarkan oleh seorang pengunjuk rasa. Simbol bajak laut ikonik dari serial manga dan anime populer ini telah menjadi lambang perlawanan dan pencarian kebebasan di berbagai aksi protes menentang pemerintahan di negara-negara Asia. Kini, ia menemukan rumah baru di tengah-tengah demonstrasi di Amerika Serikat.

Kemunculan bendera One Piece ini bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah pernyataan. Ia merepresentasikan semangat petualangan, persahabatan, dan perlawanan terhadap otoritas yang menindas, nilai-nilai yang sangat relevan dengan gerakan "No Kings." Ini menunjukkan bagaimana budaya pop bisa menjadi medium ampuh untuk menyuarakan aspirasi politik dan menyatukan generasi muda dalam sebuah gerakan yang lebih besar.

Respon Trump dan Balasan Cerdas dari Jalanan

Sebelumnya, pada awal Oktober 2025, Presiden Trump menyamakan gerakan protes yang dikenal sebagai Antifa (anti-fasis) dengan "gangster," bahkan menganggap mereka setara dengan mafia dan kartel narkoba yang ia lawan dengan kekuatan militer. Pernyataan ini tentu saja memicu kemarahan dan rasa tidak adil di kalangan para aktivis yang merasa disalahpahami.

Namun, para pengunjuk rasa tidak tinggal diam. Dengan cerdas, seorang demonstran di LA membalas pernyataan Trump, "Saya rasa sulit menyebut sesuatu sebagai zona perang jika yang dilihat hanyalah pesta blok dan orang-orang berkostum Halloween." Balasan ini menyoroti kontras antara retorika keras pemerintah dan realitas protes damai yang penuh kreativitas di lapangan.

Washington DC: Suara Pegawai Federal yang Terluka

Di ibu kota negara, Washington DC, Pennsylvania Avenue menjadi saksi bisu perjuangan para pegawai pemerintah federal. Baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, mereka turun ke jalan pada hari ke-18 penutupan pemerintahan (shutdown) AS. Tuntutan mereka sederhana namun mendesak: politik pemerintah yang lebih tenang, stabil, dan fungsional agar roda pemerintahan bisa berjalan semestinya.

Seorang pegawai federal yang dirumahkan dan ikut berunjuk rasa pada Sabtu itu menceritakan kepada CNN tentang penderitaannya. Ia mengaku sulit tidur karena dihantui kekhawatiran akan pekerjaannya dan kesulitan membayar tagihan kebutuhan hidup sehari-hari. Kisah-kisah personal seperti ini menjadi pengingat nyata akan dampak kebijakan pemerintah terhadap kehidupan individu dan keluarga.

New York City: Generasi Lintas Zaman Bersatu Kembali

Di Times Square, New York City, kerumunan pengunjuk rasa membentang sepanjang beberapa blok, bergerak menuju Lower Manhattan, pusat pemerintahan di kota metropolitan tersebut. Suasana yang penuh semangat ini memperlihatkan bagaimana warga New York, yang dikenal dengan keberanian dan keberagamannya, ikut serta dalam gelombang perlawanan ini.

Seorang pengunjuk rasa veteran, yang mengaku telah berunjuk rasa sejak dekade 1960-an, memegang spanduk yang sangat menyentuh: "Kami berunjuk rasa karena kami mencintai Amerika, dan kami menginginkannya kembali." Kalimat ini merangkum esensi dari gerakan "No Kings," bukan hanya tentang menentang seorang presiden, tetapi tentang memperjuangkan kembali nilai-nilai dan arah yang mereka yakini sebagai jati diri Amerika.

Pesan “No Kings”: Lebih dari Sekadar Protes, Ini Panggilan untuk Demokrasi

Demonstrasi "No Kings" ini lebih dari sekadar aksi protes sporadis. Ini adalah sebuah gerakan yang terorganisir, masif, dan sarat makna. Nama "No Kings" sendiri menyiratkan penolakan terhadap pemerintahan yang dianggap otoriter atau bertindak layaknya seorang raja, tanpa mendengarkan suara rakyat. Ini adalah seruan untuk kembali pada prinsip-prinsip demokrasi yang menghargai partisipasi dan hak-hak sipil.

Dari Chicago hingga Los Angeles, dari Washington DC hingga New York City, jutaan warga Amerika telah menunjukkan bahwa mereka tidak akan diam. Dengan spanduk, kostum, bahkan bendera One Piece, mereka mengirimkan pesan yang tak terbantahkan kepada Gedung Putih: bahwa kekuasaan sejati ada di tangan rakyat, dan suara mereka tidak bisa dibungkam. Ini adalah babak baru dalam sejarah perlawanan sipil di Amerika Serikat, sebuah peringatan keras bagi siapa pun yang mencoba mengabaikan kehendak publik.

banner 325x300