Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Pakar Bongkar: Usul Damai Trump di Gaza ‘Manjakan’ Israel, Palestina Makin Terjepit?

Angka 20 berwarna biru, mewakili 20 poin usulan perdamaian Trump.
Usulan Trump berisi 20 poin, namun dinilai kontroversial dan memanjakan Israel.
banner 120x600
banner 468x60

Baru-baru ini, usulan damai Presiden Amerika Serikat terkait konflik di Jalur Gaza kembali menuai kontroversi. Sejumlah pakar dan pengamat kawasan Timur Tengah menilai proposal tersebut justru ‘memanjakan’ Israel. Alih-alih membawa keadilan, usulan ini dikhawatirkan makin merugikan warga Palestina yang sudah menderita.

Mengapa Usulan Trump Jadi Sorotan?

banner 325x300

Proposal yang diajukan Donald Trump ini mencakup 20 poin krusial yang diklaim bertujuan mengakhiri agresi Israel di Jalur Gaza. Poin-poin tersebut meliputi tuntutan pengembalian sandera, rekonstruksi Jalur Gaza, hingga pembentukan komite untuk pemerintahan sementara.

Trump mengklaim badan ini akan menerapkan standar internasional terbaik untuk menciptakan pemerintahan modern dan efisien. Tujuannya agar kondusif bagi investasi di Gaza dan melayani rakyatnya dengan baik.

Awalnya, proposal ini mendapat sambutan hangat dan pujian dari banyak pejabat negara-negara Barat. Namun, para pakar memiliki pandangan yang sangat berbeda, menganggapnya hanya menguntungkan satu pihak dan mengabaikan akar masalah.

‘Memanjakan’ Israel, Melupakan Palestina

Waffaa Kharisma, peneliti kebijakan luar negeri dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, menyoroti kelemahan fundamental usulan tersebut. Menurutnya, proposal ini secara terang-terangan meletakkan beban kesalahan perang dan genosida sepenuhnya di tangan Palestina atau warga Gaza.

Tidak ada satu pun poin yang menuntut pertanggungjawaban dari Israel atas agresi yang telah berlangsung. Waffaa menegaskan, tidak ada pengakuan atas kesalahan yang datang dari Israel, apalagi menyebutkan genosida yang sedang berlangsung.

Ia menilai, kondisi ini murni merupakan skenario yang sangat nyaman bagi Israel. Selain aneksasi, usulan ini juga dinilai lumayan dapat diterima oleh komunitas internasional tanpa memberikan keadilan sejati bagi Palestina.

Waffaa menekankan bahwa semua pihak memang mendambakan berakhirnya agresi Israel di Gaza. Namun, proposal ini justru menunjukkan bahwa komunitas internasional seolah tidak belajar apa pun dari tragedi yang menimpa Palestina selama ini.

Narasi Terorisme yang Menyesatkan

Salah satu masalah utama adalah bagaimana isu ini dibingkai sebagai masalah terorisme semata. Sejak awal agresi, Israel selalu mengklaim tindakannya bertujuan melenyapkan kelompok yang mereka labeli teroris, yakni Hamas.

Israel juga kerap memainkan peran sebagai korban, menuduh negaranya diserang dari berbagai front. Ini termasuk serangan dari Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, milisi di Iran, hingga Suriah, yang kemudian dijadikan justifikasi untuk serangan balasan besar-besaran.

Situasi ini membuat Israel berulang kali menuntut jaminan keamanan dari komunitas internasional, terutama negara-negara Barat. Narasi ini secara efektif mengaburkan akar masalah konflik dan mengalihkan perhatian dari penderitaan warga sipil yang tidak bersalah.

Dampak Buruk yang Mengancam

Konsekuensi dari agresi Israel telah sangat mengerikan dan tak terbayangkan. Lebih dari 65.000 warga Palestina telah tewas, sebuah angka yang terus bertambah setiap harinya, termasuk ribuan anak-anak dan perempuan.

Pengorbanan para jurnalis, tenaga medis, dan relawan yang mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan Palestina akan sia-sia. Jika poin-poin dalam usulan Trump disepakati, semua perjuangan dan pengorbanan ini terancam tak berarti.

Waffaa juga memperingatkan bahwa proposal ini membuka jalan bagi berlanjutnya penahanan dan penjara terbuka. Terutama merujuk pada zona keamanan penyangga yang akan didirikan, yang bisa menjadi bentuk pendudukan terselubung.

Pendudukan dan apartheid akan terus berlanjut tanpa henti di bawah skema ini. Ini sama sekali bukan kemenangan moral bagi Palestina, melainkan justru akan menjadikan Israel sebagai hegemoni baru yang tak tertandingi di kawasan Timur Tengah.

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Meskipun kritik keras dilayangkan dan situasi tampak suram, harapan untuk keadilan sejati bagi Palestina tidak boleh padam. Dunia perlu menuntut proposal damai yang adil, yang tidak hanya mengakhiri kekerasan, tetapi juga mengakui hak-hak dasar dan martabat rakyat Palestina.

Usulan yang hanya ‘memanjakan’ satu pihak hanya akan menunda konflik, bukan menyelesaikannya secara tuntas. Keadilan sejati, pengakuan hak asasi manusia, dan pertanggungjawaban atas kejahatan perang adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan di Timur Tengah.

Masyarakat internasional harus belajar dari sejarah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Perdamaian sejati hanya bisa tercapai jika didasari oleh prinsip keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan oleh kepentingan politik sesaat.

banner 325x300