Yerusalem, Palestina – Sebuah ancaman serius kini membayangi salah satu situs paling suci bagi umat Islam di seluruh dunia, Masjid Al Aqsa. Aktivitas penggalian terowongan yang dilakukan oleh Israel di bawah kompleks masjid tersebut dilaporkan berpotensi merusak fondasi dan bahkan menyebabkan keruntuhan. Peringatan keras telah dilayangkan oleh otoritas Palestina, menyoroti bahaya laten yang mengintai warisan sejarah dan keagamaan ini.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Kegubernuran Palestina Yerusalem berulang kali mendesak Israel untuk menghentikan penggalian, mengingat dampak langsung yang bisa ditimbulkan pada struktur bangunan bersejarah tersebut. Fondasi Masjid Al Aqsa, yang juga merupakan kiblat pertama umat Muslim, kini berada dalam kondisi yang sangat rentan.
Pada bulan Agustus lalu, laporan mengejutkan muncul mengenai hancurnya sejumlah artefak Islam akibat galian terowongan ini. Otoritas Palestina menuduh Israel sengaja menghancurkan peninggalan bersejarah dari zaman Umayyah. Artefak-artefak ini dianggap sebagai bukti tak terbantahkan atas kepemilikan sah umat Islam terhadap situs tersebut.
Marouf Al-Rifai, Penasihat Kegubernuran Yerusalem, menegaskan bahwa tindakan ini adalah bagian dari rencana sistematis untuk merusak landmark bersejarah Islam. Menurutnya, hal ini jelas melanggar hukum Islam dan norma internasional. Ia juga memperingatkan bahwa penggalian bisa menghancurkan bangunan Palestina lainnya, termasuk rumah-rumah bersejarah dan sekolah kuno di sekitarnya.
Sejak Kapan Ancaman Ini Dimulai?
Proyek penggalian terowongan oleh Israel di sekitar Masjid Al Aqsa ternyata sudah berlangsung cukup lama. Dilansir dari The New Arab, aktivitas ini telah dimulai sekitar sembilan bulan yang lalu, menunjukkan skala dan keseriusan proyek tersebut.
Keputusan Menteri Warisan Budaya Israel, Meir Porush, pada 16 Juli lalu semakin memperkuat kekhawatiran ini. Ia menargetkan sekitar 20 bangunan bersejarah dan arkeologi yang dihuni warga Yerusalem di wilayah Bab Al Silsla dan Bab Al Magharba. Ini mengindikasikan bahwa proyek ini memiliki cakupan yang luas dan berpotensi merusak banyak situs penting.
Fakhri Abu Diab, anggota Dewan Pengawas Masjid Al-Aqsa, mengungkapkan data yang lebih mencengangkan. Menurutnya, lebih dari 20 galian terowongan telah dilakukan Israel sejak awal tahun lalu. Empat di antaranya adalah terowongan baru yang membentang dari Tembok Barat dan permukiman Al Sharaf menuju langsung ke Masjid Al Aqsa.
Seberapa Panjang Terowongan yang Dibangun?
Skala proyek terowongan ini juga patut menjadi perhatian serius. Menurut Al-Araby Al-Jadeed, salah satu situs afiliasi The New Arab, terowongan yang dibangun Israel memiliki panjang kurang lebih 550 meter. Ini bukanlah jarak yang pendek untuk sebuah galian di bawah tanah yang padat sejarah.
Terowongan ini melintasi area yang sangat kaya akan sejarah peradaban. Di bawah tanah Yerusalem, terdapat situs-situs arkeologi penting yang berasal dari era Islam, Kanaan, hingga Romawi. Keberadaan terowongan ini berpotensi merusak lapisan-lapisan sejarah yang tak ternilai harganya.
Proyek Rahasia dengan Akses Ketat
Salah satu aspek paling mengkhawatirkan dari proyek ini adalah kerahasiaannya yang dijaga ketat. Fakhri Abu Diab menyatakan bahwa pembangunan terowongan ini dilakukan secara tertutup, jauh dari pantauan publik dan media. Akses menuju lokasi galian sangat dibatasi, hanya untuk para pekerja Israel yang terlibat langsung.
Pintu masuk terowongan juga dijaga ketat dengan benteng penyangga besi dan tenda-tenda, menyulitkan siapa pun untuk melihat ke dalam. Upaya Abu Diab untuk mendekati lokasi pun dihentikan oleh polisi Israel, yang bahkan memotret kartu identitasnya sebagai bentuk pembatasan.
Hingga saat ini, belum ada publikasi resmi dari Israel mengenai proyek galian terowongan ini. Spekulasi menyebutkan bahwa kerahasiaan ini bertujuan untuk menghindari reaksi keras dari dunia internasional. Mengingat status Yerusalem sebagai situs warisan dunia UNESCO, setiap perusakan terhadap area ini akan memicu kecaman global.
Bangunan Bersejarah Mulai Menunjukkan Kerusakan
Dampak nyata dari galian terowongan ini sudah mulai terlihat dan sangat mengkhawatirkan. Ekrima Sabri, Kepala Dewan Islam Tertinggi di Yerusalem, melaporkan bahwa sejumlah bangunan bersejarah di sekitar Masjid Al Aqsa mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Bangunan-bangunan ini utamanya berada di wilayah Bab Al Silsla dan Bab Al Magharba.
Beberapa bangunan bahkan dilaporkan sudah runtuh, seperti yang terjadi di wilayah Bab Al Qattanin. Ini adalah bukti konkret bahwa fondasi tanah di bawah Yerusalem Lama tidak stabil dan sangat rentan terhadap aktivitas penggalian skala besar yang terus-menerus.
Kerusakan ini tidak hanya mengancam bangunan fisik, tetapi juga identitas dan sejarah kota Yerusalem yang kaya. Setiap artefak dan struktur yang hancur adalah bagian dari warisan budaya yang tak bisa digantikan, yang seharusnya dilindungi oleh semua pihak tanpa terkecuali.
Ancaman terhadap Masjid Al Aqsa ini bukan hanya isu lokal yang terbatas pada Palestina, melainkan krisis global yang menyentuh hati miliaran umat Muslim di seluruh dunia. Masjid ini bukan sekadar bangunan, melainkan simbol spiritual, sejarah, dan identitas yang mendalam bagi umat Islam. Kerusakan atau keruntuhannya akan memicu gelombang kemarahan dan keprihatinan yang luas di kancah internasional.
Komunitas internasional memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk menekan Israel agar segera menghentikan aktivitas penggalian yang merusak ini. Melindungi situs warisan dunia seperti Masjid Al Aqsa adalah kewajiban bersama, demi menjaga perdamaian, stabilitas, dan menghormati keberagaman budaya serta agama.
Dunia harus segera bertindak sebelum terlambat dan kerugian menjadi permanen. Fondasi Masjid Al Aqsa yang terancam adalah peringatan keras bagi kita semua. Kehilangan situs suci ini akan menjadi tragedi tak terhingga bagi kemanusiaan dan sejarah peradaban global.


















