Dunia politik Korea Utara kembali berduka. Kim Yong Nam, sosok yang selama puluhan tahun menjadi "wajah" diplomatik Pyongyang di kancah internasional, dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (4/11). Ia tutup usia di umur 97 tahun, mengakhiri perjalanan panjangnya sebagai salah satu figur paling berpengaruh di balik tirai besi.
Media pemerintah Korut, KCNA, melaporkan bahwa politisi veteran ini meninggal karena kegagalan organ yang terkait dengan penyakit kanker. Kepergiannya menandai berakhirnya sebuah babak penting dalam sejarah modern Korea Utara, mengingat perannya yang sentral dalam berbagai peristiwa kenegaraan.
Siapa Sebenarnya Kim Yong Nam?
Kim Yong Nam bukan sekadar nama biasa dalam hierarki Korea Utara. Ia adalah mantan kepala negara seremonial sekaligus eks kepala parlemen, sebuah posisi yang memberinya peran sentral dalam setiap acara kenegaraan penting. Selama lebih dari dua dekade, suaranya yang dalam dan menggelegar menjadi ciri khas dalam pidato-pidato propaganda yang disiarkan ke seluruh negeri.
Lahir pada tahun 1928, perjalanan politik Kim Yong Nam adalah cerminan kesetiaan tak tergoyahkan kepada dinasti Kim. Ia telah menyaksikan dan melayani tiga generasi pemimpin: Kim Il Sung, Kim Jong Il, dan Kim Jong Un. Dedikasinya inilah yang menjadikannya figur abadi dalam lanskap politik Korut yang seringkali bergejolak dan penuh intrik.
Sebagai Ketua Presidium Majelis Rakyat Tertinggi dari tahun 1998 hingga April 2019, Kim Yong Nam secara teknis adalah kepala negara seremonial Korea Utara. Meskipun kekuasaan riil berada di tangan pemimpin tertinggi, perannya sangat vital dalam memberikan legitimasi dan representasi resmi di mata dunia. Ia adalah simbol stabilitas di tengah perubahan.
Peran Kunci di Panggung Internasional
Sebagai diplomat senior, Kim Yong Nam adalah jembatan utama Korea Utara dengan dunia luar. Ia kerap muncul menyambut pejabat asing yang berkunjung, menjadi representasi formal negara dalam berbagai pertemuan penting. Perannya ini membuatnya menjadi salah satu wajah paling dikenal dari rezim yang seringkali tertutup itu, memberikan kesan formalitas dan diplomasi.
Salah satu momen paling ikonik adalah perjalanannya ke Korea Selatan pada Februari 2018. Saat itu, ia bersama adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong, menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Pyeongchang. Kehadirannya menjadi simbol langka dari keterbukaan diplomatik yang sempat menghiasi semenanjung Korea, menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan dinamika politik.
Selama masa jabatannya, Kim Yong Nam juga seringkali memimpin delegasi Korut dalam kunjungan ke negara-negara sahabat. Ia menjadi duta besar tidak resmi yang menyampaikan pesan-pesan Pyongyang, membangun hubungan, dan menegaskan posisi Korea Utara di panggung global. Perannya ini sangat krusial dalam menjaga citra negara di tengah isolasi internasional.
Sosok di Balik Propaganda
Lebih dari sekadar diplomat, Kim Yong Nam adalah seorang orator ulung. Pidato-pidato yang penuh semangat dan retorika revolusioner selalu berhasil membakar semangat patriotisme di kalangan rakyat Korea Utara. Ia adalah corong resmi yang menyampaikan pesan-pesan penting dari partai dan negara, seringkali dengan intonasi yang tegas dan meyakinkan.
Ia juga mengemban tugas krusial untuk secara resmi mencalonkan Kim Jong Il sebagai ketua Komisi Pertahanan Nasional. Ini terjadi setelah putra Kim Il Sung menjalani masa berkabung selama tiga tahun, menunjukkan betapa sentralnya peran Kim Yong Nam dalam transisi kekuasaan di dalam dinasti Kim. Ia adalah penjaga tradisi dan kontinuitas.
Suaranya yang menggelegar dan pembawaannya yang berwibawa membuatnya menjadi figur yang disegani. Dalam setiap acara kenegaraan, mulai dari parade militer hingga kongres partai, kehadiran Kim Yong Nam selalu menjadi penanda penting. Ia adalah simbol dari kekuatan dan kebanggaan nasional Korea Utara.
Masa Senja dan Pergeseran Kekuasaan
Meski memiliki rekam jejak yang panjang, pengaruh Kim Yong Nam diyakini telah memudar dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena usianya yang semakin lanjut. Puncaknya terjadi pada April 2019, ketika ia digantikan oleh Choe Ryong Hae sebagai kepala parlemen. Choe Ryong Hae sendiri dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan terdekat Kim Jong Un.
Pergantian ini terjadi di tengah periode keterbukaan diplomatik sementara Korea Utara, yang mencapai puncaknya dengan pertemuan puncak antara Kim Jong Un dan Presiden AS Donald Trump pada 2018 dan 2019. Namun, Kim Yong Nam tidak lagi hadir dalam pertemuan-pertemuan penting tersebut, menandakan pergeseran generasi kepemimpinan dan pengaruh di Pyongyang. Kepergiannya dari panggung utama seolah menjadi sinyal transisi.
Choe Ryong Hae, yang sebelumnya menjabat sebagai pejabat politik tertinggi militer Korea Utara, mengambil alih posisi tersebut. Ini menunjukkan konsolidasi kekuasaan di tangan lingkaran dalam Kim Jong Un, dengan figur-figur baru yang lebih muda dan lebih loyal menggantikan para veteran era sebelumnya.
Warisan dan Dampak
Kematian Kim Yong Nam menandai berakhirnya sebuah era. Ia adalah salah satu dari sedikit pejabat yang mampu mempertahankan posisinya di bawah tiga pemimpin Kim yang berbeda. Loyalitasnya yang tak tergoyahkan menjadi contoh bagi para pejabat lainnya, sekaligus menunjukkan stabilitas (atau kekakuan) sistem politik Korea Utara.
Meski perannya telah berkurang, kepergiannya tetap menjadi peristiwa penting. Ia adalah saksi hidup dan aktor kunci dalam banyak babak sejarah Korea Utara, dari era Kim Il Sung yang membangun negara, hingga era Kim Jong Un yang mencoba menavigasi tantangan modern. Warisannya akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi politik Pyongyang.
Kepergiannya juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Korea Utara akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh seorang diplomat veteran seperti dirinya. Meskipun ada figur-figur baru, pengalaman dan kedalaman sejarah yang dimiliki Kim Yong Nam sulit untuk digantikan dalam waktu singkat. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Belasungkawa dari Kim Jong Un
Media pemerintah Korut, KCNA, melaporkan bahwa Pemimpin Kim Jong Un sendiri telah datang untuk menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Kim Yong Nam. Kehadiran pemimpin tertinggi untuk memberikan penghormatan terakhir menunjukkan betapa pentingnya posisi Kim Yong Nam dalam sejarah partai dan negara. Ini adalah bentuk pengakuan tertinggi.
Upacara pemakaman dijadwalkan akan berlangsung pada Kamis (6/11) waktu setempat. Momen ini tidak hanya menjadi perpisahan bagi seorang politisi senior, tetapi juga simbol pengakuan atas kontribusinya yang luar biasa sepanjang hidupnya. Seluruh negeri akan mengheningkan cipta untuk menghormati salah satu pilar rezim.
Kim Yong Nam meninggal dunia karena kegagalan organ terkait penyakit kanker, sebuah akhir yang tenang bagi seorang revolusioner. Namun, kepergiannya meninggalkan kekosongan di panggung politik Korea Utara, sekaligus menutup lembaran panjang sejarah yang ia ukir dengan dedikasi dan kesetiaan. Dunia akan mengenangnya sebagai "wajah" yang tak tergantikan dari sebuah negara yang penuh misteri.


















