Mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla (JK), kembali menggebrak panggung internasional dengan seruan lantang dari Roma. Ia menantang komunitas global, terutama Amerika Serikat, untuk memiliki keberanian politik menghentikan perang dan mewujudkan perdamaian abadi. Seruan ini menggema di tengah krisis kemanusiaan yang tak berkesudahan di berbagai belahan dunia.
Dalam pidatonya di acara bergengsi International Meeting for Peace yang berlangsung di Roma, Italia, pada 26-28 Oktober, JK tak segan menunjuk hidung. Ia secara gamblang menyoroti posisi krusial Amerika Serikat sebagai penentu utama arah perdamaian, khususnya di kawasan Timur Tengah yang bergejolak. Dunia, menurutnya, menanti langkah konkret dari Washington.
"Saya selalu mengatakan, hanya keberanian politik yang bisa menghentikan perang," tegas JK. Kalimat itu bukan sekadar retorika, melainkan sebuah penekanan pada kekuatan yang dimiliki Washington. Menurutnya, jika Amerika Serikat benar-benar memiliki niat dan kemauan, perdamaian global bukanlah utopia belaka.
Mengapa Amerika Serikat Jadi Kunci Perdamaian?
Seruan JK ini bukan tanpa alasan. Sebagai negara adidaya dengan pengaruh politik, ekonomi, dan militer yang tak terbantahkan, keputusan Amerika Serikat seringkali menjadi penentu. Baik sebagai mediator maupun sebagai pihak yang memiliki daya tawar tinggi, peran AS sangat vital dalam menekan pihak-pihak yang berkonflik.
Mantan Wapres dua periode ini juga menyerukan agar dunia tidak lagi menunda. Inisiatif untuk menekan pihak-pihak yang berseteru agar mau duduk di meja perundingan harus menjadi prioritas utama. Dialog, menurutnya, adalah satu-satunya jalan keluar yang bermartabat dari setiap konflik.
Luka Dunia yang Tak Kunjung Sembuh: Gaza dan Ukraina
Dunia saat ini sedang menahan napas, menyaksikan dua konflik besar yang tak kunjung menemukan titik terang. Perang Rusia-Ukraina terus merenggut nyawa dan menghancurkan peradaban, sementara krisis kemanusiaan di Jalur Gaza akibat agresi brutal Israel mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Jutaan warga sipil terpaksa menanggung derita yang tak terbayangkan.
Dalam kedua arena konflik ini, Amerika Serikat memang kerap tampil sebagai mediator. Namun, JK mempertanyakan efektivitas peran tersebut jika tidak dibarengi dengan keberanian politik yang nyata untuk memaksa penghentian permusuhan dan penegakan keadilan. Mediasi saja tidak cukup tanpa tekanan yang kuat.
JK menyayangkan, seolah dunia belum juga belajar dari lembaran-lembaran sejarah kelam. Ia mengingatkan dengan tegas bahwa perang, dalam bentuk apapun, selalu menjadi mimpi buruk bagi mereka yang paling lemah dan warga sipil tak berdosa. Anak-anak, perempuan, dan lansia adalah korban pertama dan utama.
Perang, lanjutnya, adalah pemecah belah. Ia menciptakan jurang pemisah antara ‘kami’ dan ‘mereka’, menumbuhkan benih-benih kecurigaan, dan pada akhirnya menghancurkan harmoni kehidupan yang telah dibangun susah payah. "Tidak ada yang menang dalam perang," kata JK. "Kemanusiaan selalu menjadi pihak yang kalah."
Solusi Dua Negara dan Rekonsiliasi Internal: Jalan Keluar Gaza?
Mantan Ketua Umum Palang Merah Indonesia ini menegaskan, hanya perdamaian yang mampu menjadi jaminan masa depan umat manusia yang berkelanjutan. Perang, di sisi lain, hanyalah jalan menuju kehancuran dan kepunahan nilai-nilai kemanusiaan. Tanpa perdamaian, pembangunan dan kemajuan hanyalah ilusi.
Khusus untuk konflik berkepanjangan di Gaza, JK secara lugas menyoroti Solusi Dua Negara (Two-State Solution) sebagai satu-satunya jalan keluar yang paling realistis dan berkeadilan. Kerangka ini telah lama disepakati komunitas internasional sebagai fondasi untuk perdamaian abadi di Timur Tengah.
Solusi ini mengacu pada pembentukan dua negara yang saling berdampingan: Israel dan Palestina, yang masing-masing memiliki kedaulatan penuh, saling menghormati, dan hidup dalam damai. Ini adalah konsensus global yang harus diwujudkan, bukan sekadar wacana. Pengakuan atas hak-hak dasar kedua bangsa adalah kuncinya.
JK, dengan pengalamannya yang luas dalam diplomasi perdamaian, bahkan mengungkapkan pernah menjalin komunikasi langsung dengan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh. Dari pengalamannya itu, ia menyimpulkan satu hal krusial: rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah adalah kunci utama menuju perdamaian yang stabil di Palestina. Perpecahan internal hanya akan memperpanjang penderitaan.
Perdamaian: Puncak Peradaban, Perang: Kegagalan Kemanusiaan
Dengan nada penuh keyakinan, JK menegaskan bahwa perdamaian bukanlah sekadar ketiadaan konflik. Ia adalah puncak peradaban manusia, sebuah pencapaian tertinggi yang harus terus diupayakan dan dijaga oleh setiap generasi. Perdamaian memungkinkan manusia untuk berkembang, berinovasi, dan hidup berdampingan.
Sebaliknya, perang adalah kegagalan terbesar umat manusia, sebuah jurang yang merendahkan nilai-nilai kehidupan. "Hanya perdamaian yang dapat membangun peradaban dan menjaga martabat umat manusia," pungkasnya, menutup pidato yang penuh makna tersebut. Seruan ini menjadi refleksi mendalam bagi kita semua.
Seruan Jusuf Kalla dari Roma ini menjadi pengingat keras bagi para pemimpin dunia. Bahwa di tengah gejolak dan kepentingan politik, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: kemanusiaan dan masa depan bersama. Bola panas perdamaian kini benar-benar ada di tangan mereka yang berkuasa, terutama Amerika Serikat, untuk berani mengambil keputusan yang benar.


















