Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Gencatan Senjata Hanya Ilusi? Gaza Berdarah Lagi, Puluhan Anak Jadi Korban Serangan Israel

gencatan senjata hanya ilusi gaza berdarah lagi puluhan anak jadi korban serangan israel portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Dunia kembali menahan napas. Janji gencatan senjata yang sempat membawa secercah harapan di Gaza kini seolah hanya ilusi belaka, terkoyak oleh dentuman bom dan tangisan pilu. Gelombang serangan udara Israel kembali menghantam wilayah Palestina tersebut, memicu duka dan kehancuran yang tak terhingga.

Ironisnya, serangan ini terjadi di tengah masa yang seharusnya masih menjadi periode gencatan senjata. Sebuah kesepakatan yang diharapkan mampu meredakan ketegangan, kini justru dipertanyakan validitasnya oleh setiap ledakan yang mengguncang.

banner 325x300

Puluhan Nyawa Melayang, Mayoritas Anak-anak

Angka korban jiwa menjadi saksi bisu betapa brutalnya eskalasi ini. Dalam gelombang serangan selama pekan ini, setidaknya lebih dari 100 orang dilaporkan tewas, menambah daftar panjang penderitaan di tanah konflik. Yang paling menyayat hati, separuh dari korban tersebut adalah anak-anak tak berdosa yang seharusnya bermain, bukan menjadi statistik perang.

Data dari pemerintahan lokal di Gaza, yang dikutip AlJazeera, menyebutkan 109 orang meninggal dalam 12 jam terakhir saja. Di antara mereka, terdapat 52 anak-anak, 23 perempuan, empat lansia, dan tujuh penyandang disabilitas, sebuah potret kelam dari dampak konflik yang tak pandang bulu. Kehilangan nyawa dalam skala sebesar ini dalam waktu singkat menunjukkan betapa rapuhnya situasi kemanusiaan di sana.

Perang Narasi: Klaim dan Bantahan dari Kedua Pihak

Kantor Media Pemerintahan Gaza tak tinggal diam melihat situasi ini. Mereka menuduh Israel melanjutkan "pencitraan sistematis" untuk menyebarkan misinformasi, pemalsuan, dan kebohongan. Tujuannya, menurut mereka, adalah memutarbalikkan kebenaran dan menutupi kejahatan yang sedang berlangsung terhadap warga sipil di Jalur Gaza.

Mereka bahkan menyoroti daftar 26 nama yang diterbitkan Israel, mengklaim sebagai korban agresi. Setelah pemeriksaan, Gaza menemukan adanya tiga nama palsu yang bukan berasal dari Bahasa Arab dan tidak tercatat dalam arsip resmi Palestina, di samping nama-nama fiktif, beberapa di antaranya tanpa foto. Ini menunjukkan adanya upaya untuk mengendalikan narasi di tengah kekacauan.

Di sisi lain, Israel punya narasi sendiri untuk membenarkan tindakannya. Mengutip AFP, militer Israel (IDF) menyatakan telah menyerang gudang senjata di Beit Lahia, Gaza utara, beberapa jam setelah malam pengeboman paling mematikan sejak dimulainya gencatan senjata. Mereka mengklaim lokasi tersebut digunakan untuk menimbun senjata yang akan digunakan kembali menyerang wilayah Negara Yahudi.

IDF juga memperingatkan akan terus melancarkan operasi untuk mengatasi ancaman yang dirasakan. Mereka menegaskan pasukannya akan tetap beroperasi "sesuai dengan perjanjian gencatan senjata dan akan terus beroperasi untuk mengatasi ancaman langsung apa pun itu," sebuah pernyataan yang menyiratkan kesiapan untuk terus bertindak defensif. Serangan ini dipicu setelah seorang tentara Israel tewas di Rafah, dan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuduh Hamas melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Namun, Hamas membantah keras tuduhan tersebut. Mereka menegaskan "tidak memiliki koneksi apapun dengan insiden penembakan di Rafah," dan kembali menyatakan komitmen untuk tetap melanjutkan gencatan senjata yang telah dimediasi oleh dunia internasional. Situasi ini menciptakan lingkaran tuduhan dan bantahan yang semakin memperkeruh upaya perdamaian.

Kecamuk di Tepi Barat: Dari Serangan Militer hingga Pohon Zaitun yang Ditebang

Konflik tak hanya berpusat di Gaza. Ketegangan juga merayap ke Tepi Barat, wilayah pendudukan Palestina lainnya, menambah daftar panjang penderitaan warga sipil. Pasukan Israel menyerbu kota Qabatiya dan desa Anza, selatan Jenin, dengan beberapa kendaraan militer dan mengerahkan unit-unit infanteri di jalan-jalan kota.

Bom suara ditembakkan, dan beberapa rumah digerebek, menciptakan suasana mencekam bagi penduduk setempat. Sementara itu, pemukim Israel dilaporkan menyerang kendaraan warga Palestina dan merusak kebun pohon zaitun di desa Deir Nidham, barat laut Ramallah, mengakibatkan kerusakan pada sejumlah mobil dan kaca jendela pecah.

Yang lebih parah, ratusan pohon zaitun tua di desa Qaryut, selatan Nablus, ditebang oleh para pemukim. Para petani terkejut mendapati lahan mereka hancur, terutama karena lahan tersebut terletak dekat permukiman ilegal Israel, Eli. Peristiwa ini bukan hanya kerugian materi, tetapi juga pukulan telak bagi mata pencarian dan warisan budaya mereka.

Dunia Bersuara: PBB Mengutuk, AS Tetap Berharap

Gelombang kekerasan ini sontak menuai kecaman keras dari dunia internasional, yang frustrasi melihat janji perdamaian kembali terkoyak. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres "mengutuk keras" agresi militer Israel yang masih terjadi saat kesepakatan gencatan senjata berlangsung.

Melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric, Guterres menyatakan keprihatinannya mendalam atas pembunuhan warga sipil, terutama anak-anak, di Gaza. Ia menekankan pentingnya perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil berdasarkan hukum humaniter internasional, serta menyerukan de-eskalasi segera.

Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Türk juga tak kalah tegas. Ia menyerukan masyarakat internasional untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan menuju masa depan yang lebih adil dan aman, serta mendesak Israel mematuhi kewajibannya dan bertanggung jawab atas setiap pelanggaran. Türk menegaskan, "Hukum perang sangat jelas menekankan pentingnya melindungi warga sipil dan infrastruktur sipil."

Ia juga menyerukan kepada semua pihak yang terlibat perang untuk bertindak dengan itikad baik dan melaksanakan gencatan senjata. Türk mengungkapkan kesedihannya, "Sangat menyedihkan bahwa pembunuhan ini terjadi tepat ketika penduduk Gaza yang telah lama menderita mulai merasa ada harapan bahwa rentetan kekerasan yang tak henti-hentinya mungkin akan berakhir."

Amerika Serikat, yang menjadi mediator gencatan senjata, memiliki pandangan yang sedikit berbeda. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa gencatan senjata di Gaza tetap berlaku, meskipun ada pertempuran kecil. Vance berujar, "Kami tahu bahwa Hamas atau pihak lain di Gaza menyerang seorang tentara IDF. Israel mungkin akan membalas, namun menurut saya gencatan senjata tetap berlaku." Pernyataan ini menunjukkan kompleksitas situasi dan interpretasi yang berbeda terhadap kesepakatan damai, sekaligus harapan agar gencatan senjata tidak sepenuhnya runtuh.

Akankah Kedamaian Kembali?

Situasi di Gaza dan Tepi Barat kembali memanas, mengancam setiap upaya perdamaian yang telah dibangun dengan susah payah. Dengan puluhan nyawa melayang, terutama anak-anak, pertanyaan besar muncul: sampai kapan siklus kekerasan ini akan terus berulang, menjebak generasi demi generasi dalam pusaran konflik?

Dunia menanti langkah konkret dari semua pihak untuk menghentikan pertumpahan darah dan mengembalikan harapan bagi masa depan yang lebih aman di Palestina. Akankah gencatan senjata ini benar-benar bisa bertahan, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah konflik yang tak berkesudahan, meninggalkan luka yang semakin dalam?

banner 325x300