Dunia dikejutkan oleh momen langka di KTT APEC Busan, Korea Selatan, pada Kamis (30/10/2025). Presiden China Xi Jinping secara terbuka melontarkan pujian setinggi langit kepada mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pujian ini bukan sembarang sanjungan, melainkan apresiasi atas kontribusi besar Trump dalam mendorong gencatan senjata di Jalur Gaza, Palestina.
Pertemuan dua tokoh besar ini, yang berlangsung di tengah ketegangan perang dagang dan gejolak geopolitik, sontak menjadi sorotan utama. Banyak pihak bertanya-tanya, ada apa di balik ucapan terima kasih yang tak terduga ini? Apakah ini sinyal meredanya friksi antara dua negara adidaya?
Pujian Tak Terduga dari Xi Jinping untuk Trump
Presiden Xi Jinping tak ragu menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Donald Trump. Ia secara eksplisit menyebut kontribusi besar Trump dalam mencapai gencatan senjata di Jalur Gaza. Ini adalah pengakuan yang mengejutkan, mengingat posisi China yang seringkali berseberangan dengan AS dalam banyak isu global.
"Saya mengapresiasi kontribusi besar Anda terhadap gencatan senjata di Gaza," kata Xi dalam bahasa Mandarin, yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah. Pernyataan ini menunjukkan bahwa peran Trump dalam meredakan konflik di Timur Tengah sangat diperhitungkan, bahkan oleh rival geopolitiknya.
Gencatan senjata di Gaza sendiri merupakan isu yang sangat sensitif dan kompleks. Konflik berkepanjangan di wilayah tersebut telah menyebabkan krisis kemanusiaan parah dan menarik perhatian seluruh dunia. Oleh karena itu, peran siapa pun yang berhasil mendorong perdamaian akan selalu menjadi sorotan.
Peran Trump di Konflik Regional Lain: Thailand-Kamboja
Tak hanya soal Gaza, Xi Jinping juga menyoroti peran Trump dalam isu-isu panas di kawasan lain. Ia menyebut bahwa Trump "sangat antusias" terlibat dalam upaya perdamaian, termasuk dalam konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Upaya ini berujung pada penandatanganan kesepakatan damai di Malaysia beberapa hari sebelumnya.
"Selama kunjungan Anda ke Malaysia, Anda menyaksikan penandatanganan Deklarasi Bersama tentang perdamaian di perbatasan Kamboja-Thailand, dan Anda memberi masukan untuk itu," ucap Xi, seperti dikutip dari laporan BBC. Pengakuan ini semakin memperkuat citra Trump sebagai negosiator ulung dalam meredakan ketegangan.
Xi menambahkan bahwa China juga telah membantu mengendalikan konflik perbatasan kedua negara Asia Tenggara "dengan cara kami sendiri." Ia menekankan bahwa Beijing juga telah mempromosikan perundingan damai untuk menyelesaikan isu-isu penting lainnya di berbagai belahan dunia. Ini menunjukkan adanya titik temu dalam upaya menjaga stabilitas regional, meskipun dengan pendekatan yang berbeda.
Di Balik Pertemuan Penting di Busan: Perang Dagang dan Harapan Baru
Pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump di Busan berlangsung di sela-sela KTT APEC. Momen ini sangat krusial, mengingat gejolak perang dagang antara China dan AS yang telah berlangsung bertahun-tahun. Mata dunia kini tertuju pada pertemuan keduanya, berharap ada sinyal positif untuk meredakan pergolakan ekonomi global.
Perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini telah menciptakan ketidakpastian besar. Dampaknya terasa di berbagai sektor, mulai dari rantai pasok global hingga pasar keuangan. Oleh karena itu, setiap pertemuan antara pemimpin kedua negara selalu dinanti dengan penuh harap.
Sebelum pertemuan, Trump sendiri menyatakan optimismenya bahwa ia dan Xi akan mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Namun, ia juga tak menampik bahwa pembicaraan ini tak akan mudah, mengingat Xi Jinping dikenal sebagai negosiator yang sangat andal dan strategis.
Konsensus Dasar dan Kemajuan Menggembirakan
Dalam pernyataannya, Xi Jinping menyambut hangat pertemuannya dengan Trump. Ia mengaku sudah berbicara tiga kali dengan Trump melalui sambungan telepon setelah Trump menjabat, dan terus menjalin hubungan erat selama ini. Ini menunjukkan adanya jalur komunikasi yang terbuka di antara keduanya, meskipun di tengah persaingan sengit.
"Mengingat kondisi nasional kami yang berbeda, kami tidak selalu sependapat, dan wajar jika kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia sesekali berselisih," kata Xi, seperti dikutip dari Al Jazeera. Pernyataan ini menggarisbawahi realitas hubungan AS-China yang kompleks, di mana persaingan dan kerja sama seringkali berjalan beriringan.
Yang menarik, Xi juga menyampaikan bahwa tim ekonomi dan perdagangan dari negaranya dan AS telah mencapai "konsensus dasar" dalam mengatasi permasalahan utama masing-masing negara. Mereka, menurutnya, sudah membuat "kemajuan yang menggembirakan." Ini adalah kabar baik yang bisa menjadi angin segar bagi pasar global.
Dinamika Hubungan AS-China: Dari Ketegangan ke Kerja Sama?
Hubungan antara Amerika Serikat dan China seringkali digambarkan sebagai roller coaster. Ada kalanya tegang, ada kalanya sedikit mereda. Namun, pertemuan di Busan ini memberikan gambaran bahwa di balik persaingan, ada juga keinginan untuk mencari titik temu dan membangun fondasi yang lebih stabil.
Pujian Xi kepada Trump, terutama terkait isu sensitif seperti Gaza, bisa diinterpretasikan sebagai upaya untuk membangun jembatan diplomatik. Ini mungkin merupakan strategi untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi negosiasi perang dagang yang jauh lebih besar dan berdampak luas.
Kedua pemimpin ini menyadari bahwa meskipun ada perbedaan ideologi dan kepentingan, stabilitas hubungan AS-China sangat penting. Bukan hanya untuk kedua negara itu sendiri, tetapi juga untuk stabilitas dan kemakmuran global. Mereka memikul tanggung jawab besar sebagai pemimpin dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Membangun Fondasi Kokoh untuk Masa Depan
Xi Jinping menegaskan kesiapannya untuk terus bekerja sama dengan Trump. Tujuannya adalah membangun fondasi yang kokoh bagi hubungan AS-China. Ini termasuk menciptakan suasana yang baik bagi perkembangan kedua negara di masa depan.
Visi ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak, meskipun dengan segala perbedaan, memiliki kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas. Hubungan yang konstruktif antara AS dan China dapat membuka jalan bagi solusi terhadap berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga pandemi.
Tentu saja, jalan menuju hubungan yang sepenuhnya harmonis masih panjang dan penuh liku. Namun, sinyal-sinyal positif seperti pujian terbuka dari Xi Jinping ini memberikan harapan. Ini menunjukkan bahwa dialog dan diplomasi masih menjadi kunci utama dalam mengelola kompleksitas hubungan internasional.
Apa Implikasi Global dari Pujian Ini?
Pujian Xi Jinping kepada Donald Trump memiliki implikasi yang luas dan mendalam bagi geopolitik global. Pertama, ini bisa menjadi indikasi adanya pergeseran dalam dinamika hubungan AS-China. Jika kedua negara bisa menemukan titik temu dalam isu-isu sensitif, bukan tidak mungkin mereka juga bisa lebih kooperatif dalam isu-isu lain.
Kedua, ini dapat meredakan ketegangan perang dagang yang telah membebani ekonomi dunia. Jika "konsensus dasar" yang disebutkan Xi benar-benar mengarah pada kesepakatan konkret, maka pasar global akan merespons positif. Ini bisa memicu pemulihan ekonomi dan stabilitas perdagangan internasional.
Ketiga, pengakuan atas peran Trump dalam gencatan senjata Gaza bisa meningkatkan kredibilitasnya di panggung internasional, terutama jika ia kembali mencalonkan diri sebagai presiden. Ini menunjukkan bahwa terlepas dari gaya politiknya yang kontroversial, Trump memiliki kemampuan untuk mencapai hasil diplomatik yang signifikan.
Pertemuan di Busan ini mungkin hanya satu babak dalam saga hubungan AS-China yang panjang. Namun, pujian tak terduga dari Xi Jinping kepada Donald Trump telah menciptakan gelombang kejutan. Ini membuka spekulasi dan harapan baru akan kemungkinan meredanya ketegangan global. Akankah ini menjadi awal dari era baru kerja sama, atau hanya jeda sesaat sebelum badai berikutnya? Waktu yang akan menjawab.


















