Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Geger Vatikan! Paus Leo XIV Umumkan 7 Santo Baru, Salah Satunya Eks Pendeta Satanis!

geger vatikan paus leo xiv umumkan 7 santo baru salah satunya eks pendeta satanis portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Vatikan kembali menjadi sorotan dunia dengan pengumuman penting dari Paus Leo XIV. Pada Minggu, 19 Oktober 2025, bertepatan dengan World Mission Day, tujuh sosok luar biasa akan dikanonisasi sebagai santo baru dalam upacara khidmat di Lapangan Santo Petrus. Pengumuman ini menarik perhatian karena keragaman latar belakang para calon santo, termasuk seorang biarawati tanpa lengan, martir dari Papua Nugini, hingga yang paling mencengangkan, seorang mantan pendeta Satanis.

Paus Leo XIV, yang baru diangkat sebagai pemimpin Gereja Katolik pada 8 Mei 2025, menunjukkan visinya yang inklusif dan progresif melalui pilihan kanonisasi ini. Ini adalah kali kedua ia melakukan kanonisasi sejak menjabat, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan teladan iman dari berbagai lapisan masyarakat.

banner 325x300

Kisah Paling Mencengangkan: Dari Kegelapan Menuju Kekudusan

Di antara ketujuh nama tersebut, satu kisah paling mencengangkan datang dari Bartolo Longo. Lahir pada tahun 1841, Longo awalnya adalah seorang pengacara yang kemudian tersesat ke dalam ajaran Satanisme, bahkan menjadi pendetanya. Namun, ia mengalami pertobatan mendalam dan kembali memeluk Katolik, bergabung dengan Ordo Dominikan.

Transformasi spiritualnya tidak berhenti di situ. Bartolo Longo kemudian mendirikan Kepausan Santa Perawan Rosario Pompeii, sebuah karya besar yang menjadi bukti nyata kekuatan penebusan dan kasih Tuhan. Kisahnya menjadi simbol harapan bahwa setiap orang, tidak peduli sekelam apa pun masa lalunya, memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan terang dan mencapai kekudusan.

Tujuh Sosok Inspiratif yang Kini Diangkat Jadi Santo

Selain Bartolo Longo, enam tokoh lain yang akan dikanonisasi juga memiliki kisah hidup yang tak kalah inspiratif dan penuh pengorbanan. Mereka berasal dari berbagai belahan dunia dan latar belakang yang berbeda, menunjukkan universalitas panggilan untuk hidup kudus.

Peter To Rot: Martir dari Papua Nugini

Peter To Rot adalah seorang katekis awam dari Papua Nugini. Ia dikenal karena keberaniannya mempertahankan iman Katolik di tengah pendudukan Jepang selama Perang Dunia II. Kesetiaannya pada ajaran gereja membuatnya harus menghadapi siksaan dan akhirnya dibunuh pada tahun 1945, menjadikannya martir pertama dari Papua Nugini.

Ignazio Choukrallah Maloyan: Uskup Korban Genosida Armenia

Uskup Agung Ignazio Choukrallah Maloyan adalah seorang pemimpin gereja Armenia yang menjadi korban genosida pada tahun 1915. Ia dibunuh oleh pasukan Turki bersama ribuan umat Kristen Armenia lainnya. Kisahnya menjadi pengingat akan penderitaan dan keteguhan iman di tengah kekejaman sejarah.

Jose Gregorio Hernandez Cisneros: “Dokter Kaum Miskin” dari Venezuela

Jose Gregorio Hernandez Cisneros adalah seorang awam dari Venezuela yang meninggal pada tahun 1919. Dikenal sebagai "dokter kaum miskin," ia mendedikasikan hidupnya untuk melayani mereka yang paling rentan dan membutuhkan. Mendiang Paus Fransiskus pernah menyebutnya sebagai "dokter yang dekat dengan yang terlemah," menggarisbawahi komitmennya pada pelayanan sosial.

Maria Carmen Elena Rendiles Martinez: Biarawati Tanpa Lengan Kiri

Maria Carmen Elena Rendiles Martinez, seorang biarawati dari Venezuela, lahir tanpa lengan kiri. Namun, keterbatasan fisik ini tidak menghalanginya untuk melayani Tuhan dan sesama. Ia menaklukkan keterbatasannya dengan semangat luar biasa dan mendirikan Kongregasi Para Pelayan Yesus sebelum meninggal pada tahun 1977. Ia juga menjadi santa perempuan pertama dari negara Amerika Selatan tersebut.

Vincenza Maria Poloni: Pelayan Orang Sakit dari Italia

Vincenza Maria Poloni adalah biarawati asal Italia yang hidup pada abad ke-19. Ia adalah pendiri Institut Suster-Suster Belas Kasih Verona, sebuah kongregasi yang berfokus pada perawatan orang sakit di rumah sakit. Dedikasinya pada pelayanan kesehatan dan kasih sayang menjadi teladan bagi banyak orang.

Maria Troncatti: Pembela Penduduk Pribumi Ekuador

Maria Troncatti adalah anggota Suster-Suster Putri Maria Penolong Umat Kristen. Pada dekade 1920-an, ia tiba di Ekuador dan mengabdikan hidupnya untuk membantu penduduk pribumi setempat. Perjuangannya untuk keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat adat menjadikannya sosok yang sangat dihormati.

Jejak Kanonisasi Paus Leo XIV Sebelumnya

Sebelum mengumumkan ketujuh santo baru ini, Paus Leo XIV telah melakukan kanonisasi pertamanya pada September 2025. Saat itu, ia menobatkan Carlo Acutis sebagai orang suci. Acutis adalah remaja asal Italia yang dijuluki "influencer Tuhan" karena menyebarkan iman secara daring di internet sebelum meninggal dalam usia 15 tahun pada 2006. Ia menjadi orang suci pertama dari generasi milenial, menunjukkan bagaimana iman dapat relevan di era digital.

Selain Acutis, Paus Leo XIV juga menobatkan Pier Giorgio Frassati, yang meninggal pada 1925 dalam usia 24 tahun. Frassati dikenal sebagai teladan kasih dan pelayanan, terutama bagi kaum muda. Pilihan-pilihan kanonisasi Paus Leo XIV ini mencerminkan keinginannya untuk menghadirkan teladan kekudusan yang beragam, relevan, dan menginspirasi bagi umat Katolik di seluruh dunia.

Pengumuman ini tidak hanya menjadi peristiwa keagamaan yang penting, tetapi juga pesan kuat tentang universalitas panggilan kekudusan. Dari mantan pendeta Satanis hingga biarawati yang mengatasi keterbatasan fisik, setiap kisah adalah bukti bahwa rahmat Tuhan dapat menyentuh siapa saja, di mana saja, dan mengubah hidup mereka menjadi inspirasi bagi dunia. Ini adalah era baru di Vatikan, di bawah kepemimpinan Paus Leo XIV yang membawa angin segar dan harapan bagi Gereja Katolik.

banner 325x300