Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat gebrakan di panggung politik global. Secara mengejutkan, Trump mengumumkan bahwa tidak ada satu pun pejabat AS yang akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Afrika Selatan pada akhir November mendatang. Keputusan ini sontak memicu tanda tanya besar dan berpotensi mengguncang dinamika diplomasi internasional.
Padahal, sebelumnya Gedung Putih telah merencanakan Wakil Presiden JD Vance untuk mewakili AS dalam pertemuan penting tersebut. Perubahan mendadak ini menunjukkan adanya ketegangan serius antara Washington dan Pretoria, terutama di bawah kepemimpinan Trump yang dikenal dengan kebijakan luar negerinya yang tidak terduga.
Keputusan Mendadak yang Mengguncang Diplomasi
Pengumuman boikot KTT G20 ini disampaikan langsung oleh Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social. Dalam unggahannya, Trump tidak ragu melontarkan kritik pedas terhadap Afrika Selatan, menyebut penyelenggaraan KTT di negara tersebut sebagai "aib besar." Pernyataan ini jelas menunjukkan tingkat kekecewaan atau kemarahan yang mendalam dari sang Presiden.
Trump secara spesifik menyoroti apa yang ia sebut sebagai "pelanggaran hak asasi manusia" yang terus berlanjut di Afrika Selatan. Baginya, selama kondisi tersebut belum teratasi, kehadiran pejabat pemerintah AS di sana tidak dapat dibenarkan. Pernyataan ini langsung mengarah pada isu-isu sensitif yang telah lama menjadi sorotan Trump.
Di Balik Tuduhan “Aib Besar” Trump
Alasan utama di balik keputusan Trump ini ternyata bukan hal baru. Sejak kembali menduduki Gedung Putih pada Januari lalu, Trump memang telah berulang kali melontarkan tudingan serius terhadap Afrika Selatan. Inti dari tuduhannya adalah klaim bahwa orang-orang kulit putih Afrikaner, yang merupakan keturunan pemukim Eropa pertama di Afrika Selatan, menjadi korban genosida.
Trump menuduh bahwa mereka dibunuh dan tanah serta pertanian mereka disita secara ilegal. Narasi ini telah menjadi bagian dari retorika politiknya yang konsisten, seringkali memicu kontroversi dan perdebatan sengit di kancah domestik maupun internasional. Bagi Trump, isu ini adalah pelanggaran HAM fundamental yang tidak bisa ditoleransi.
Sejarah Ketegangan AS-Afrika Selatan di Era Trump
Ketegangan antara AS dan Afrika Selatan di bawah pemerintahan Trump memang bukan kali ini saja terjadi. Ada serangkaian insiden dan kebijakan yang menunjukkan hubungan kedua negara yang semakin memburuk. Salah satu momen paling mencolok adalah ketika Trump memutarkan sebuah video terkait pembantaian petani kulit putih di Afrika Selatan di hadapan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa di Gedung Putih pada Mei lalu.
Tindakan tersebut jelas merupakan bentuk teguran keras dan upaya untuk menekan Ramaphosa secara langsung. Selain itu, pemerintahan Trump juga mengumumkan rencana pemangkasan besar-besaran jumlah pengungsi yang diterima setiap tahun di AS, menjadi hanya 7.500 orang. Angka ini merupakan yang terendah dalam sejarah, dengan prioritas khusus diberikan kepada warga kulit putih asal Afrika Selatan.
Kebijakan imigrasi ini secara eksplisit mengindikasikan dukungan Trump terhadap narasi "genosida kulit putih" yang ia usung. Tidak hanya itu, Trump juga memberlakukan tarif sebesar 30 persen terhadap produk-produk dari Afrika Selatan, menjadikannya tarif tertinggi di kawasan Afrika sub-Sahara. Langkah-langkah ekonomi ini semakin memperkeruh hubungan bilateral yang sudah tegang.
Dampak dan Prospek Hubungan Kedua Negara
Hubungan antara Washington dan Pretoria semakin memburuk tidak hanya karena isu internal Afrika Selatan yang disoroti Trump, tetapi juga karena perbedaan pandangan dalam isu geopolitik global. Salah satu pemicu ketegangan terbaru adalah gugatan Afrika Selatan terhadap Israel atas tuduhan genosida di Gaza, Palestina, di Mahkamah Internasional (ICJ).
Langkah Afrika Selatan ini bertentangan langsung dengan posisi AS yang merupakan sekutu dekat Israel. Perbedaan sikap dalam isu krusial seperti konflik Israel-Palestina semakin memperlebar jurang di antara kedua negara. Bagi Trump, dukungan Afrika Selatan terhadap gugatan tersebut mungkin dianggap sebagai tindakan yang tidak bersahabat terhadap sekutu AS.
Di tengah semua ketegangan ini, Trump juga sempat menyinggung rencana masa depan. Ia mengatakan bahwa ia menantikan untuk menjadi tuan rumah KTT G20 2026 di AS, yang akan digelar di resor golf miliknya di Miami, Florida. Pernyataan ini seolah menunjukkan bahwa Trump tidak terlalu khawatir dengan dampak boikotnya terhadap KTT G20 di Afrika Selatan, dan justru fokus pada agenda diplomatik yang ia kendalikan sepenuhnya.
Keputusan Trump untuk memboikot KTT G20 di Afrika Selatan ini jelas akan memiliki implikasi yang luas. Ini bukan hanya tentang absennya pejabat AS, tetapi juga sinyal kuat mengenai ketidakpuasan dan tekanan yang diberikan Washington terhadap Pretoria. Dunia akan terus mengamati bagaimana dinamika hubungan kedua negara ini akan berkembang, serta bagaimana boikot ini akan memengaruhi agenda G20 secara keseluruhan.


















