Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Gaza Geger! Semua Sandera Israel Bebas, Tapi ‘Syarat’ Hamas Bikin Jalan Damai Makin Rumit

gaza geger semua sandera israel bebas tapi syarat hamas bikin jalan damai makin rumit portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kabar mengejutkan datang dari Jalur Gaza. Kelompok Hamas dilaporkan telah membebaskan seluruh warga Israel yang disandera sejak agresi brutal Israel dimulai pada 13 Oktober lalu. Pembebasan ini menjadi titik terang di tengah konflik yang berkepanjangan, sekaligus bagian dari kesepakatan gencatan senjata fase pertama yang telah dinanti.

Tak hanya sandera yang masih hidup, Hamas juga menyerahkan empat jenazah sandera yang tewas selama dalam tawanan. Dua di antaranya telah berhasil diidentifikasi, yakni Guy Iluzz, warga Israel berusia 26 tahun, dan Bipin Joshi, seorang pelajar asal Nepal berusia 22 tahun.

banner 325x300

Meski demikian, Hamas masih menahan 24 jenazah sandera lainnya. Sebagai imbalannya, Israel telah melepas hampir 2.000 tahanan Palestina. Salah satu nama besar yang turut dibebaskan adalah Marwan Barghouti, tokoh terkemuka dari faksi Fatah.

Gencatan senjata fase pertama ini berhasil tercapai berkat mediasi intensif dari sejumlah negara, termasuk Qatar, Mesir, Amerika Serikat, dan Turki. Kesepakatan ini mencakup beberapa poin penting, mulai dari pertukaran tahanan dan sandera hingga penarikan sebagian pasukan Israel dari Gaza dengan syarat tertentu.

Selain itu, kesepakatan ini juga membuka pintu bagi lebih banyak bantuan kemanusiaan untuk masuk ke Gaza, wilayah yang sangat membutuhkan uluran tangan. Namun, di balik euforia pembebasan ini, muncul pertanyaan besar: apa yang akan terjadi selanjutnya?

Misteri Fase Kedua: Syarat Berat dari Hamas

Hamas berulang kali menegaskan sikapnya yang tak tergoyahkan. Mereka menyatakan tidak akan melepas sisa sandera yang masih ditawan sebelum Israel menarik seluruh pasukannya dari Gaza dan mengakhiri agresinya secara total. Ini menjadi poin krusial yang membuat negosiasi selanjutnya diprediksi akan jauh lebih alot.

Menariknya, setelah menekan kesepakatan gencatan senjata ini, Hamas disebut-sebut mengandalkan jaminan keamanan dari mantan Presiden AS Donald Trump. Jaminan tersebut terkait dengan penarikan pasukan Israel dari Gaza, demikian laporan dari NBC News.

Memang, kesepakatan penarikan pasukan Israel ini pernah tertuang dalam "Peace Plan" yang diusulkan oleh Trump. Namun, hingga saat ini, belum ada kejelasan lebih lanjut mengenai kapan penarikan sepenuhnya akan benar-benar terjadi, menambah daftar panjang ketidakpastian di wilayah tersebut.

Tak hanya soal penarikan pasukan, Hamas juga secara tegas menolak untuk angkat kaki dari Gaza atau melucuti senjatanya. Dalam proposal Trump, Gaza akan dikontrol oleh pemerintahan sementara yang dibentuk dari sebuah komite, yang kabarnya akan diketuai oleh mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.

Pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, sempat menyatakan bahwa kelompoknya tidak akan menerima pihak asing mana pun untuk menguasai Gaza. Ini adalah garis merah yang tidak bisa ditawar.

"Pemerintahan Gaza akan selalu menjadi bagian dari kesepakatan nasional warga Palestina dan akan dibahas selama fase kedua gencatan," kata Hamdan kepada Al Jazeera pada 9 Oktober, seperti dikutip media Lebanon. Ia menambahkan, "Kami tak akan menerima pengawasan asing. Sudah saatnya pendudukan diakhiri dan negara Palestina dengan ibu kota Yerusalem didirikan."

Hamdan juga menegaskan bahwa Hamas menolak pelucutan senjata sampai Israel betul-betul mengakhiri pendudukannya di Tepi Barat atau di sudut manapun di Palestina. "Tak ada warga Palestina yang sepakat gencatan untuk meletakkan senjata mereka," ujarnya, menunjukkan tekad kuat kelompok tersebut.

KTT Perdamaian Gaza: Harapan Semu di Tengah Ketidakpastian

Setelah gencatan senjata diteken Israel dan Hamas, sejumlah kepala negara berkumpul di Mesir dalam pertemuan puncak Perdamaian Gaza pada Senin lalu. Pertemuan ini diharapkan bisa membawa angin segar dan solusi konkret bagi konflik yang tak berkesudahan.

Namun, KTT tersebut ternyata tidak menghasilkan kejelasan mengenai kapan agresi Israel di Gaza akan berakhir. Trump, yang terlibat dalam mediasi awal, hanya meninggalkan jejak yang sama seperti sebelum ada pertemuan puncak itu, tanpa terobosan signifikan.

Pertemuan puncak tersebut seolah menjadi perayaan sesaat setelah gencatan senjata fase pertama tercapai. Sementara itu, fase kedua kesepakatan, yang mencakup pelucutan senjata Hamas dan pembentukan pemerintahan Gaza, masih terus menjadi tanda tanya besar.

Misteri yang Belum Terpecahkan

Selain isu-isu krusial tersebut, ada beberapa pertanyaan mendesak lain yang juga belum terpecahkan. Misalnya, seperti apa fase negosiasi berikutnya di Gaza? Siapa yang akan membentuk pasukan multinasional untuk menjaga perdamaian dan apa mandatnya?

Dan yang tak kalah penting, apakah negara Palestina akan pernah terbentuk? Semua isu vital ini, menurut analisis CNN, juga tidak menjadi pembahasan utama dalam pertemuan-pertemuan yang telah berlangsung. Ini menunjukkan betapa kompleks dan panjangnya jalan menuju perdamaian sejati di Timur Tengah.

Pembebasan sandera Israel oleh Hamas memang menjadi secercah harapan. Namun, dengan syarat-syarat yang diajukan Hamas dan ketidakjelasan langkah selanjutnya dari Israel serta komunitas internasional, jalan menuju perdamaian di Gaza masih terjal dan penuh misteri. Dunia kini menanti, apakah kesepakatan fase pertama ini akan menjadi awal dari perdamaian abadi, atau hanya jeda sesaat sebelum badai berikutnya datang.

banner 325x300