Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Gawat! Rusia Bongkar ‘Permainan’ AS di Venezuela, Ancaman Invasi Militer Kian Dekat?

gawat rusia bongkar permainan as di venezuela ancaman invasi militer kian dekat portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali memanas, memicu kekhawatiran serius di panggung global. Rusia, sebagai salah satu anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), secara terang-terangan menyuarakan kecemasannya terhadap eskalasi konflik ini. Situasi yang kian genting ini membuat dunia bertanya-tanya: apakah ancaman invasi militer sudah di depan mata?

Ketegangan AS-Venezuela Memanas, Rusia Angkat Bicara

banner 325x300

Pada Sabtu, 11 Oktober 2025, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, mengungkapkan keprihatinan mendalamnya dalam sebuah rapat DK PBB. Ia menyoroti hubungan AS dan Venezuela yang disebutnya "kian panas," memperingatkan bahwa Venezuela memiliki alasan kuat untuk meyakini tindakan AS akan melangkah lebih jauh. Ancaman yang dilontarkan Washington, menurut Nebenzia, bukan sekadar gertakan biasa.

Sejak Agustus tahun ini, Washington dilaporkan telah mengumpulkan pasukan militer dalam jumlah signifikan di Karibia selatan. Nebenzia mempertanyakan motif di balik penempatan pasukan ini, apakah ini persiapan invasi atau hanya latihan militer rutin. "Yang terakhir mungkin masuk akal jika kita tak bicara soal negara merdeka yang pergantian rezimnya telah berulang kali dan secara terbuka dinyatakan perwakilan AS sebagai salah satu tujuan kebijakan mereka," tegasnya, dikutip dari TASS.

Washington Dituding Siapkan Invasi Militer?

Rusia secara cermat memantau setiap langkah terang-terangan yang diambil AS, baik itu politik, militer, maupun psikologi, terhadap pemerintahan Venezuela. Menurut Nebenzia, semua aksi ini memiliki "tujuan tunggal" yaitu menggulingkan rezim yang tidak diinginkan oleh Amerika Serikat. Ini bukan lagi sekadar persaingan politik biasa, melainkan sebuah strategi yang lebih besar.

Upaya yang dilakukan AS, lanjut Dubes Rusia ini, mencakup taktik "revolusi warna" dan "perang hibrida" yang telah mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Rusia melihat pola yang sama diterapkan di Venezuela, di mana ketegangan sengaja ditingkatkan untuk menciptakan suasana permusuhan. Bahkan, seruan pemerintahan Nicolas Maduro untuk memerangi perdagangan narkoba pun diabaikan, seolah ada agenda tersembunyi.

"Tindakan semacam itu semakin dekat membawa agresi bersenjata langsung," ujar Nebenzia, memperingatkan potensi konflik bersenjata yang nyata. Pernyataan ini tentu saja memicu alarm di kalangan komunitas internasional, mengingat dampak buruk yang bisa ditimbulkan oleh agresi semacam itu.

Insiden Penembakan Kapal Sipil, Pelanggaran Hukum Internasional?

Salah satu insiden paling mencolok yang disoroti Rusia adalah penembakan kapal di lepas pantai Venezuela oleh Angkatan Laut AS. Nebenzia mengecam keras aksi ini, menyebutnya sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia. "Kapal-kapal yang ditumpangi sipil ditembaki begitu saja di laut lepas tanpa pengadilan atau penyelidikan," imbuhnya, dikutip Reuters.

Insiden ini bukan hanya sekadar gesekan kecil, melainkan sebuah tindakan yang berpotensi memicu eskalasi yang lebih besar. Asisten Sekretaris Jenderal PBB, Miroslav Jenca, juga mengakui bahwa tindakan AS menembaki kapal tersebut telah meningkatkan ketegangan di kawasan dan menuai kritik tajam dari Caracas. PBB menekankan bahwa upaya melawan perdagangan narkoba harus dilakukan sesuai hukum internasional dan menghormati HAM.

Jenca lantas meminta semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan provokatif. "Kami terus menekankan perlunya semua upaya untuk melawan kejahatan terorganisir dilakukan sesuai dengan hukum internasional," ucapnya, seperti dilansir situs resmi PBB. Seruan ini menunjukkan betapa seriusnya PBB memandang situasi di Karibia selatan.

AS Akui Serangan, Apa Tujuannya?

Menariknya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri pekan lalu mengakui bahwa Angkatan Laut AS telah melakukan serangan di lepas pantai Venezuela. "Dalam beberapa minggu terakhir, Angkatan Laut telah mendukung misi kami untuk menghancurkan kartel teroris," kata Trump. Pernyataan ini mengkonfirmasi keterlibatan AS dalam insiden penembakan tersebut, namun dengan narasi yang berbeda.

Trump mengklaim bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari upaya memerangi kartel narkoba. Namun, Rusia dan Venezuela melihatnya sebagai dalih untuk tujuan yang lebih besar, yaitu intervensi militer dan pergantian rezim. Dalam beberapa waktu terakhir, AS tercatat melakukan serangan hingga empat kali ke kapal-kapal di lepas pantai Venezuela, menunjukkan intensitas operasi yang tidak biasa.

Dunia Khawatir Konflik Meluas, Apa Selanjutnya?

Situasi di Karibia selatan kini menjadi sorotan tajam dunia. Kekhawatiran akan pecahnya konflik bersenjata langsung antara dua negara berdaulat semakin meningkat. Rusia, dengan posisinya sebagai anggota DK PBB, jelas tidak akan tinggal diam jika AS terus meningkatkan tekanan militer terhadap Venezuela. Ini bukan hanya masalah regional, melainkan isu yang bisa mengguncang stabilitas global.

Implikasi dari eskalasi ini bisa sangat luas, mulai dari krisis kemanusiaan hingga dampak ekonomi yang signifikan. Komunitas internasional, termasuk PBB, terus menyerukan dialog dan de-eskalasi. Namun, dengan retorika yang semakin keras dan tindakan militer yang nyata, jalan menuju perdamaian tampaknya masih panjang dan penuh tantangan. Akankah ketegangan ini berujung pada invasi militer, ataukah diplomasi masih punya harapan? Hanya waktu yang bisa menjawab.

banner 325x300