Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Dunia Tutup Mata? Pembantaian Massal di Sudan Kembali Pecah, El Fasher Mencekam!

dunia tutup mata pembantaian massal di sudan kembali pecah el fasher mencekam portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Gelombang kekerasan tak berkesudahan kembali mengguncang Sudan, menyoroti krisis kemanusiaan yang sering terlupakan. Kota El Fasher menjadi saksi bisu pembantaian massal oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF), menewaskan ribuan warga sipil tak berdosa pada Rabu (29/10). Video-video mengerikan yang beredar di media sosial, dan telah diverifikasi oleh Al Jazeera, menunjukkan kekejaman RSF. Pasukan tersebut terekam menyiksa hingga mengeksekusi warga sipil secara brutal, menambah daftar panjang kejahatan perang yang terjadi di negara tersebut.

Akar Konflik Sudan: Perebutan Kekuasaan Sejak 2023

Konflik berdarah di Sudan bukanlah peristiwa instan, melainkan akumulasi ketegangan politik yang memuncak sejak April 2023. Perang saudara ini dipicu oleh perebutan kekuasaan sengit antara militer Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Akar masalahnya bermula setelah tergulingnya Presiden Omar al-Bashir pada 2019, yang berkuasa hampir 30 tahun melalui kudeta 1989. Kejatuhannya membuka babak baru ketidakpastian politik di negara tersebut.

banner 325x300

Dua jenderal yang awalnya bersekutu dalam kudeta 2021, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dari militer dan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti) dari RSF, kini saling berhadapan. Perselisihan utama mereka terletak pada rencana integrasi RSF ke dalam struktur militer nasional, yang memicu bentrokan bersenjata skala besar. Perang ini telah menciptakan jurang penderitaan mendalam, terutama di wilayah Darfur barat, dengan tuduhan genosida yang semakin menguat. Jatuhnya kota El Fasher baru-baru ini ke tangan RSF semakin memperburuk kekhawatiran akan nasib penduduk sipil yang terjebak di sana.

Korban Jiwa Fantastis: Lebih dari 150 Ribu Tewas, Jutaan Mengungsi

Angka-angka mengerikan terus bermunculan, menggambarkan skala tragedi kemanusiaan di Sudan. Lebih dari 150 ribu jiwa telah melayang akibat konflik brutal ini, meninggalkan duka mendalam bagi ribuan keluarga. Selain korban tewas, sekitar 12 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, mencari perlindungan dari kekerasan yang tak berkesudahan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menyebut situasi ini sebagai krisis kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di dunia, menuntut perhatian serius dari komunitas internasional. Jutaan orang kini hidup dalam ketidakpastian, kehilangan segalanya akibat perang yang tak kunjung usai.

Dominasi RSF: Darfur di Bawah Cengkeraman Pasukan Paramiter

Pada Oktober 2025, Rapid Support Forces (RSF) berhasil mencatat kemenangan signifikan dengan merebut kota strategis El-Fasher. Kota ini merupakan benteng terakhir militer Sudan di wilayah Darfur, menandai titik balik dalam konflik. Dengan jatuhnya El-Fasher, RSF kini menguasai hampir seluruh wilayah Darfur, serta sebagian besar Kordofan, memperkuat dominasi militer mereka secara drastis.

Kemenangan ini, sayangnya, memicu kekhawatiran serius akan terjadinya genosida terhadap kelompok non-Arab di wilayah tersebut, mengingatkan pada sejarah kelam Darfur. Kontrol penuh RSF atas wilayah-wilayah kunci ini semakin mempersulit upaya bantuan kemanusiaan dan perlindungan warga sipil.

Krisis Kesehatan Parah: Layanan Medis Lumpuh, Penyakit Merebak

Di tengah kancah perang, sistem kesehatan Sudan berada di ambang kehancuran total. Lebih dari 80 persen fasilitas kesehatan di wilayah konflik dilaporkan tidak berfungsi, meninggalkan jutaan warga tanpa akses medis dasar. Akibatnya, penyakit menular seperti kolera dan malaria merebak dengan cepat, memperparah penderitaan masyarakat.

Situasi ini diperburuk dengan ancaman malnutrisi akut yang membayangi lebih dari 3,4 juta anak di bawah usia lima tahun, membuat mereka rentan terhadap berbagai infeksi epidemi. Tanpa intervensi segera, krisis kesehatan ini akan terus merenggut lebih banyak nyawa, terutama dari kalangan yang paling rentan.

El Fasher: Episentrum Penderitaan, Terjebak Tanpa Harapan

El Fasher, yang telah dikepung selama lebih dari 18 bulan, kini menjadi simbol nyata penderitaan warga sipil di Sudan. Kota ini telah berubah menjadi penjara terbuka bagi ratusan ribu orang yang terjebak di dalamnya. Pasukan RSF secara sistematis menutup akses bantuan makanan, menghancurkan kamp pengungsi Zamzam, dan bahkan membangun tembok tanah untuk menjebak penduduk.

Sekitar 250 ribu warga kini terperangkap di El Fasher, hidup dalam kondisi serba kekurangan tanpa akses logistik dan kemanusiaan yang memadai. Kondisi ini menciptakan krisis kemanusiaan yang mendesak, di mana setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup. Dunia harus segera bertindak sebelum El Fasher menjadi kuburan massal bagi mereka yang tak bersalah.

Situasi di Sudan, khususnya di El Fasher, adalah pengingat pahit akan dampak brutal dari konflik bersenjata. Ketika dunia disibukkan dengan berbagai isu global, jutaan nyawa di Sudan terus terancam, menanti uluran tangan dan perhatian. Kekejaman yang terjadi, mulai dari pembantaian massal hingga krisis kemanusiaan yang melumpuhkan, menuntut respons tegas dari komunitas internasional. Sudah saatnya mata dunia terbuka lebar untuk Sudan, sebelum terlambat.

banner 325x300