Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Deal Raksasa Rp172 Triliun! Turki Borong Jet Tempur Inggris, Siap Guncang NATO?

deal raksasa rp172 triliun turki borong jet tempur inggris siap guncang nato portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Langkah mengejutkan datang dari Ankara, Turki, yang baru saja meneken kesepakatan fantastis senilai US$11 miliar atau setara Rp172 triliun untuk membeli 20 unit jet tempur Eurofighter Typhoon dari Inggris. Perjanjian monumental ini bukan sekadar transaksi militer biasa, melainkan sebuah deklarasi ambisi Turki untuk memperkuat pertahanan udaranya secara signifikan.

Kesepakatan ini juga menjadi jembatan penting bagi Turki, sembari mereka terus mengembangkan pesawat tempur generasi kelima buatan lokal, KAAN. Penandatanganan perjanjian bersejarah ini dilakukan langsung oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara pada Senin lalu (28/10), menandai babak baru dalam hubungan strategis kedua negara.

banner 325x300

Langkah Strategis Turki Perkuat Pertahanan Udara

Kementerian Pertahanan Inggris tidak ragu menyebut kesepakatan ini sebagai "kesepakatan jet tempur terbesar dalam satu generasi." Pernyataan ini menegaskan skala dan dampak dari transaksi yang akan mengubah lanskap pertahanan udara di kawasan. Erdogan sendiri memuji perjanjian tersebut sebagai "simbol baru hubungan strategis" antara dua sekutu dekat dalam Aliansi NATO.

Bagi Perdana Menteri Starmer, kesepakatan ini adalah kemenangan ganda. Selain menguntungkan industri pertahanan Inggris, ia juga menegaskan bahwa ini adalah kemenangan bagi NATO secara keseluruhan. Mengingat Turki adalah "sayap tenggara NATO," memiliki kemampuan pertahanan udara yang terikat dengan Inggris dianggap sangat krusial untuk stabilitas dan kekuatan aliansi.

Jet-jet Typhoon yang dipesan ini diperkirakan akan tiba di Ankara pada tahun 2030, sesuai dengan jadwal yang disampaikan oleh Starmer. Kedatangan armada baru ini diharapkan mampu memberikan dorongan signifikan bagi Angkatan Udara Turki, yang tengah berupaya memodernisasi dan memperkuat kapabilitasnya di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Mengapa Eurofighter Typhoon Jadi Pilihan?

Eurofighter Typhoon dikenal sebagai salah satu jet tempur multiperan tercanggih di dunia, hasil kolaborasi empat negara Eropa: Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol. Jet ini menawarkan kecepatan, kelincahan, dan kemampuan tempur udara-ke-udara serta udara-ke-darat yang superior, menjadikannya aset berharga bagi setiap angkatan udara modern.

Pilihan Turki terhadap Typhoon tidak lepas dari kebutuhan mendesak untuk mengisi kekosongan kapasitas tempur. Meskipun Turki memiliki proyek pesawat tempur generasi kelima KAAN, pengembangan dan produksinya membutuhkan waktu. Typhoon hadir sebagai solusi jangka menengah yang efektif untuk menjaga superioritas udara dan menanggapi ancaman regional.

Sebelumnya, pada bulan Juli, Turki dan Inggris sebenarnya telah menandatangani kesepakatan awal untuk pengiriman 40 jet Typhoon. Rencana ambisius ini telah disetujui oleh anggota konsorsium Eurofighter lainnya, yakni Jerman, Italia, dan Spanyol, menunjukkan adanya konsensus di antara negara-negara produsen untuk mendukung modernisasi pertahanan Turki.

Ambisi Modernisasi Angkatan Udara Turki: Dari F-16 hingga KAAN

Para pejabat Turki telah lama menyatakan keinginan mereka untuk membeli total 120 jet tempur baru. Target ini dimaksudkan untuk memperkuat armada mereka secara substansial sebelum jet KAAN buatan sendiri sepenuhnya beroperasi dan siap tempur. Ini menunjukkan strategi pertahanan yang terencana dan berjangka panjang dari Ankara.

Kementerian Pertahanan Turki juga tengah menjajaki opsi untuk mengakuisisi 12 Jet Typhoon tambahan dari negara lain, seperti Qatar dan Oman. Langkah ini merupakan bagian dari upaya agresif Turki untuk menjembatani kesenjangan kemampuan militer dengan negara-negara rival di kawasan, seperti Israel, yang memiliki armada udara modern dan canggih.

Modernisasi angkatan udara Turki memang menghadapi beberapa tantangan. Tahun lalu, Turki mengkonfirmasi kesepakatan senilai US$7 miliar untuk 40 unit jet tempur F-16 dari Amerika Serikat. Namun, pesanan vital tersebut mengalami penundaan yang signifikan, menyisakan celah dalam rencana peningkatan kekuatan udara mereka.

Masa Depan Jet Tempur Turki: Menjembatani Kesenjangan

Presiden Erdogan sendiri baru-baru ini juga telah berdialog dengan mitranya dari AS, Presiden Donald Trump, membahas kemungkinan Turki untuk kembali bergabung dalam program jet tempur F-35 yang dipimpin Washington. Ini adalah langkah penting, mengingat Turki sebelumnya dikeluarkan dari program F-35 pada tahun 2019.

Penyebab dikeluarkannya Turki dari program F-35 adalah keputusan kontroversial Ankara untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia. Pembelian S-400 dianggap AS sebagai ancaman terhadap keamanan teknologi F-35, sehingga memicu sanksi dan penarikan Turki dari proyek jet tempur canggih tersebut.

Dengan akuisisi Eurofighter Typhoon, Turki menunjukkan fleksibilitas dan determinasi untuk memastikan kekuatan udaranya tetap relevan dan tangguh. Ini bukan hanya tentang membeli jet, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan strategis di kawasan yang penuh gejolak, serta menegaskan posisi Turki sebagai pemain penting dalam arsitektur pertahanan global.

Latar Belakang Politik: Kunjungan Starmer dan Kontroversi Imamoglu

Di balik gemerlapnya kesepakatan jet tempur, kunjungan pertama Keir Starmer ke Turki sebagai perdana menteri juga diwarnai oleh isu politik domestik yang sensitif. Kunjungan tersebut bertepatan dengan munculnya dakwaan baru terhadap Ekrem Imamoglu, wali kota Istanbul yang kini dipenjara dan secara luas dianggap sebagai rival politik utama Erdogan.

Pada hari Senin yang sama, jaksa Turki menuduh Imamoglu, yang sebelumnya ditangkap pada Maret atas dugaan korupsi, terlibat dalam kegiatan "spionase." Imamoglu dengan tegas membantah semua tuduhan tersebut, menyatakan bahwa kasus yang menimpanya bermotif politik dan merupakan upaya untuk menyingkirkannya dari panggung politik.

Situasi ini menambah kompleksitas pada latar belakang kunjungan Starmer, menunjukkan bahwa meskipun ada kerja sama strategis yang kuat antara Inggris dan Turki, dinamika politik internal di Turki tetap menjadi sorotan. Ini juga mengingatkan bahwa hubungan antarnegara seringkali terjalin di tengah berbagai lapisan isu, baik domestik maupun internasional.

banner 325x300