Gaza kembali memanas, tapi kali ini ada secercah harapan. Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas, siap melakukan pertukaran sandera hari ini demi memuluskan gencatan senjata. Hamas bahkan sudah mengumumkan persetujuan untuk membebaskan seluruh sandera Israel di Gaza, termasuk jenazah yang telah meninggal dunia.
Kesepakatan ini menjadi bagian dari proposal perdamaian yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, jangan salah sangka. Aksi tukar menukar sandera ini bukanlah hal baru. Sejak lama, konflik di wilayah ini selalu diwarnai drama negosiasi pembebasan tahanan.
Mengapa Pertukaran Sandera Selalu Terjadi?
Sejak 1948, Israel, Palestina, dan negara-negara Arab lainnya memang seringkali terlibat dalam upaya saling membebaskan tahanan. Ini bukan sekadar pertukaran biasa, melainkan bagian dari strategi perang psikologis dan upaya menjaga moral di kedua belah pihak. Setiap tahanan dan sandera memiliki nilai tawar yang tinggi.
Saling bebaskan sandera mungkin sudah menjadi salah satu "kenyataan" yang selalu menyertai di tengah konflik berkepanjangan ini. Berikut cuplikan sejarah pembebasan sandera dua negara tersebut yang penuh liku dan intrik.
Drama Pertukaran Sandera di Masa Lalu
1969: Pembajakan Pesawat dan Aksi Nekat Leila Khaled
Tahun 1969, dunia dihebohkan oleh aksi Front Populer Pembebasan Palestina (PFLP) yang dipimpin Leila Khaled. Mereka mencoba membajak pesawat Israel demi menjamin pembebasan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel. Pesawat itu akhirnya mendarat darurat di Inggris.
Meski operasi pembajakan itu gagal dan Leila sempat ditangkap oleh otoritas Inggris, PFLP tak menyerah. Anggota PFLP kemudian membajak pesawat Inggris lainnya dan melakukan pertukaran sandera yang menghasilkan pembebasan Leila Khaled. Sebuah kisah yang menunjukkan betapa ekstremnya upaya mereka.
1971: Tukar Guling Fatah dan Israel
Hanya dua tahun berselang, tepatnya 28 Januari 1971, Palang Merah Internasional (PMI) memfasilitasi pertukaran antara Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), khususnya Fatah, dan Israel. Tahanan Palestina Mahmoud Bakr Hijazi dibebaskan.
Sebagai imbalannya, Israel mendapatkan kembali tentara Shmuel Faiyaz, yang diculik Fatah pada akhir 1969. Pertukaran ini menjadi bukti bahwa negosiasi tetap berjalan di tengah panasnya konflik.
1979: Operasi "Norus" yang Membebaskan Puluhan Tahanan
Operasi pertukaran "Norus" pada 14 Maret 1979 kembali mencatat sejarah antara Israel dan PLO, yang dilakukan salah satu faksi FPLP. Operasi ini berhasil membebaskan tentara Israel Abraham Amram, yang ditangkap PFLP pada 5 April 1978 dalam operasi Litani.
Sebagai imbalannya, Israel membebaskan 76 tahanan dari berbagai faksi Palestina, termasuk 12 perempuan Palestina. Angka yang cukup signifikan kala itu, menunjukkan skala pertukaran yang tidak main-main.
1980: Agen Rahasia Mossad pun Jadi Alat Tukar
Februari 1980, drama pertukaran semakin menarik. Pemerintah Israel memutuskan untuk membebaskan tahanan Palestina Mahdi Bssaiso. Imbalannya? Pembebasan warga negara Yordania Amina Dawood Al-Mufti.
Amina diketahui telah bekerja untuk agen intelijen asing Israel, Mossad, dan ditahan oleh Fatah. Pertukaran ini terjadi di Siprus di bawah pengawasan ketat Palang Merah Internasional. Ini menunjukkan bahwa bahkan agen rahasia pun bisa menjadi komoditas dalam negosiasi.
1983: Pembebasan Massal dari Kamp Penahanan Ansar
Pada 23 November 1983, pemerintah Israel dan Fatah mencapai kesepakatan besar. Israel membebaskan semua tahanan dari ‘Kamp Penahanan Ansar’ di selatan Lebanon. Ini mencakup 4.700 tahanan Palestina dan Lebanon, bersama dengan 65 tahanan dari penjara Israel.
Sebagai imbalannya, Israel mengamankan pembebasan enam tentara Israel dari unit khusus "Nahal," yang ditangkap di daerah Bhamdoun selatan Lebanon pada 4 September 1982. Sebuah pertukaran dengan jumlah tahanan yang sangat besar.
1985: Operasi ‘Galilea’ dan Ribuan Tahanan yang Bebas
Dua tahun kemudian, 20 Mei 1985, Israel kembali melakukan pertukaran besar dengan PFLP, melalui Operasi ‘Galilea’. Israel membebaskan 1.155 tahanan Palestina dan Lebanon dari penjaranya.
Sebagai ganti tiga tentara Israel yang ditahan PFLP, operasi ini berhasil membebaskan ribuan orang. Sebuah operasi dengan skala yang masif, menunjukkan betapa pentingnya setiap nyawa dalam konflik ini.
1997: Pendiri Hamas Pun Ikut Dibebaskan
Tahun 1997, giliran Yordania dan Israel yang terlibat dalam pertukaran. Tel Aviv membebaskan Ahmed Yassin, pendiri Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), beserta dua rekannya. Ini adalah momen penting yang menunjukkan pengaruh Hamas yang semakin besar.
Sebagai imbalannya, Israel mendapatkan kembali dua agen Mossad yang ditangkap pasukan keamanan Yordania. Kedua agen ini ditangkap dalam upaya pembunuhan gagal terhadap ketua biro politik Hamas saat itu, Khaled Meshaal. Sebuah pertukaran yang melibatkan tokoh penting dan agen intelijen.
Pertukaran Sandera: Bukan Sekadar Negosiasi Biasa
Dari rentetan peristiwa di atas, jelas terlihat bahwa pertukaran sandera di konflik Israel-Palestina bukan sekadar transaksi biasa. Ini adalah cerminan kompleksitas politik, keamanan, dan kemanusiaan yang terus berulang. Setiap pertukaran membawa harapan, namun juga mengingatkan pada luka yang belum sembuh.
Meskipun gencatan senjata kali ini membawa angin segar, sejarah menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian sejati masih sangat panjang dan penuh tantangan. Pertukaran sandera adalah salah satu babak dramatis yang tak terhindarkan dalam narasi konflik yang tak kunjung usai ini.


















