Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Bikin Geger! Eks Sandera Israel Ungkap Perlakuan Hamas: Diberi Fasilitas Ibadah, Kontras dengan Tahanan Palestina!

bikin geger eks sandera israel ungkap perlakuan hamas diberi fasilitas ibadah kontras dengan tahanan palestina portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Jumat, 17 Okt 2025 14:37 WIB

Dunia kembali dikejutkan dengan pengakuan seorang mantan sandera Israel yang baru saja dibebaskan oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Matan Angrest, seorang mantan tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), mengungkapkan detail yang tak terduga mengenai perlakuan yang ia terima selama masa penyekapan. Pengakuannya ini sontak menjadi sorotan, terutama karena sangat kontras dengan narasi yang selama ini beredar.

banner 325x300

Pengakuan Mengejutkan dari Mantan Tentara IDF

Angrest, yang merupakan salah satu dari 20 sandera yang dibebaskan Hamas pada Senin (13/10) dan Selasa (14/10) lalu, menceritakan pengalamannya dalam sebuah wawancara eksklusif dengan televisi Israel Channel 13. Pembebasannya terjadi setelah tercapainya gencatan senjata permanen antara Israel dan Hamas pada pekan sebelumnya, sebuah momen yang sangat dinantikan oleh banyak pihak.

Yang paling mencengangkan dari kesaksian Angrest adalah pengakuannya bahwa Hamas memberikan kebebasan penuh kepada para sandera untuk menjalankan ibadah. Bahkan, ia diizinkan untuk melakukan ibadah umat Yahudi sebanyak tiga kali dalam sehari, sebuah ritual yang sangat penting bagi penganut Yudaisme.

Fasilitas Ibadah di Tengah Penyekapan

Lebih jauh, Angrest mengungkapkan bahwa Hamas tidak hanya mengizinkan, tetapi juga menyediakan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk ibadah. Ia menyebutkan beberapa di antaranya, seperti tefilin, kotak pelapis kening terbuat dari kulit yang digunakan saat bersujud; siddur, buku bacaan doa; dan bahkan kitab suci Taurat. Ini adalah detail yang sangat spesifik dan menunjukkan tingkat "fasilitas" yang mungkin tidak banyak orang duga.

"Saya tidak pernah meninggalkan ibadah tiga kali sehari di dalam terowongan saat masih disekap Hamas," ujar Angrest, menegaskan betapa pentingnya ritual tersebut baginya dan bagaimana Hamas memfasilitasinya. Pengakuan ini jelas membongkar stereotip umum tentang perlakuan sandera dalam konflik bersenjata.

Ancaman Serangan Israel dan Klaim Hamas

Namun, di balik "kemudahan" beribadah, Angrest juga membeberkan sisi mengerikan dari penyekapannya. Ia mengaku beberapa kali nyaris tewas akibat serangan bom Israel yang menghantam terowongan tempat ia disekap. Ini menggarisbawahi bahaya ganda yang dihadapi para sandera: ditawan oleh satu pihak, namun juga terancam oleh serangan dari pihak mereka sendiri.

Hamas sendiri berulang kali menyatakan bahwa mereka berupaya melindungi nyawa para tahanan selama menyandera mereka. Mereka juga sering mewanti-wanti bahwa bombardir Israel yang intens dan tanpa pandang bulu di Jalur Gaza turut menimbulkan ancaman serius bagi para sandera, yang notabene adalah warga Israel sendiri. Klaim ini diperkuat dengan laporan bahwa beberapa sandera Hamas bahkan tewas imbas serangan Israel.

Kontras Mencolok: Nasib Tahanan Palestina di Penjara Israel

Kesaksian Angrest ini menjadi sangat menarik dan memicu perdebatan luas karena sangat kontras dengan berbagai laporan dari organisasi hak asasi manusia (HAM) mengenai kondisi tahanan Palestina di penjara-penjara Israel. Selama bertahun-tahun, berbagai laporan telah mendokumentasikan kondisi keras, bahkan penyiksaan, yang dialami oleh ribuan warga Palestina yang ditahan oleh Israel.

Organisasi-organisasi HAM internasional seperti Amnesty International dan Human Rights Watch, serta kelompok-kelompok HAM Palestina, secara konsisten melaporkan adanya praktik penyiksaan fisik dan psikologis, kelalaian medis yang disengaja, serta perlakuan buruk lainnya terhadap tahanan Palestina. Mereka seringkali ditahan tanpa pengadilan yang adil, dalam kondisi yang tidak manusiawi, dan seringkali akses terhadap keluarga atau pengacara sangat dibatasi.

Bayangkan saja, seorang mantan tentara Israel yang disandera oleh kelompok yang dianggap musuh bebuyutan, justru mengaku diberi kebebasan beribadah dan perlengkapan religius. Di sisi lain, ribuan warga Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan, yang ditahan oleh Israel, justru menghadapi tuduhan penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi. Ini adalah ironi yang menyayat hati dan membuka mata banyak pihak.

Implikasi dan Perspektif yang Berbeda

Pengakuan Angrest ini tentu saja memiliki implikasi besar. Bagi sebagian orang, ini bisa menjadi bukti bahwa Hamas, meskipun dicap sebagai kelompok teroris, memiliki sisi yang lebih "manusiawi" dalam perlakuan terhadap sandera, setidaknya dalam kasus ini. Ini juga bisa menjadi alat propaganda bagi Hamas untuk menunjukkan bahwa mereka menghormati keyakinan agama, bahkan dari musuh mereka.

Namun, bagi pihak lain, ini mungkin hanya sebuah kasus terisolasi atau bagian dari strategi Hamas untuk memengaruhi opini publik. Bagaimanapun, konflik Israel-Palestina adalah salah satu konflik paling kompleks di dunia, dengan narasi yang saling bertentangan dan seringkali membingungkan.

Kesaksian Angrest ini tidak lantas membenarkan tindakan penyanderaan, tetapi ia memberikan perspektif yang berbeda dan lebih nuansa tentang dinamika konflik. Ini memaksa kita untuk melihat lebih dalam, melampaui narasi tunggal, dan mempertanyakan asumsi-asumsi yang selama ini kita pegang teguh. Sebuah pengakuan yang benar-benar bikin geger dan membuka diskusi baru tentang kemanusiaan di tengah peperangan.

banner 325x300