Panggung politik Amerika Serikat kembali bergejolak. Presiden Donald Trump secara mengejutkan mendeklarasikan Kota Chicago sebagai "zona perang" pada Minggu (5/10), diikuti pengerahan 300 tentara Garda Nasional. Keputusan kontroversial ini langsung memicu gelombang protes dan kemarahan dari para pejabat negara bagian.
Chicago, "Zona Perang" Versi Trump
Deklarasi "zona perang" oleh Trump ini bukan tanpa pembelaan. Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem, dengan tegas mendukung langkah presiden, mengklaim bahwa Chicago memang berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Namun, pandangan ini jauh berbeda dengan yang diungkapkan oleh Gubernur Illinois, JB Pritzker.
Pritzker, dengan nada geram, menolak keras pengerahan pasukan tersebut. Ia bahkan menuduh Partai Republik sengaja berusaha memprovokasi kerusuhan di wilayahnya. Menurut Pritzker, kerusuhan yang terjadi di Chicago terlihat terorganisir, terarah, dan sudah direncanakan.
"Mereka ingin menciptakan zona perang agar mereka bisa mengirim lebih banyak pasukan," ungkap Pritzker dalam wawancara dengan CNN. Ia melanjutkan dengan tuntutan tegas, "Mereka harus segera keluar." Pernyataan ini jelas menunjukkan ketegangan yang memuncak antara pemerintah federal dan negara bagian.
Akar Protes dan Kericuhan di Chicago
Situasi di Chicago sendiri memang sudah memanas jauh sebelum deklarasi Trump. Sejak pekan sebelumnya, warga Chicago telah aktif menggelar protes menentang kebijakan penegakan imigrasi Trump yang dinilai diskriminatif. Mereka mengecam penangkapan dan penahanan sewenang-wenang yang dilakukan oleh otoritas imigrasi.
Namun, protes damai ini seringkali berakhir dengan tindakan keras dari pasukan keamanan, termasuk penggunaan gas air mata. Di tengah demonstrasi, insiden kekerasan juga terjadi, di mana orang tak dikenal menyerang petugas dan merusak properti publik. Ketegangan semakin memuncak setelah insiden penembakan.
Petugas Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) menembak seorang pengendara yang dituduh membawa senjata dan menabrak kendaraan patroli. Insiden fatal ini terjadi pada 12 September, ketika pejabat Kementerian Keamanan Dalam Negeri (HDS) menembak mati Silverio Villegas Gonzalez, seorang imigran berusia 38 tahun. Ia dituduh berupaya melarikan diri dan menyeret seorang petugas dengan kendaraannya.
Respons Kota Chicago dan "Zona Bebas ICE"
Melihat situasi yang kian tak terkendali, pemerintah kota Chicago pun mengambil langkah-langkah darurat. Mereka menerapkan aturan jam demo, membatasi waktu protes hanya dari pukul 09.00 hingga 18.00 waktu setempat. Ini adalah upaya untuk mengendalikan kerumunan dan mencegah eskalasi kekerasan di malam hari.
Tidak hanya itu, Walikota Chicago, Brandon Johnson, juga menandatangani perintah eksekutif yang sangat signifikan, yang dikenal sebagai "Zona Bebas ICE." Aturan ini secara eksplisit melarang agen imigrasi pusat untuk menggunakan properti atau fasilitas milik kota selama beroperasi di wilayah Chicago. Ini adalah bentuk perlawanan langsung terhadap kebijakan imigrasi federal.
Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah kota dalam melindungi warganya dari tindakan yang mereka anggap tidak adil. Keputusan ini juga menjadi simbol perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai campur tangan berlebihan dari pemerintah federal dalam urusan lokal.
"Perang dari Dalam" Meluas ke Oregon
Strategi "perang dari dalam" yang diusung Trump ternyata tidak hanya berhenti di Chicago. Akhir pekan lalu, ia mengungkapkan rencana untuk memperluas pengerahan pasukan Garda Nasional ke Kota Portland, negara bagian Oregon. Trump mengklaim bahwa Portland juga berada dalam kondisi yang sangat genting.
"Portland terbakar habis. Pemberontak ada di mana-mana," kata Trump, seperti dikutip Channel NewsAsia. Ia menegaskan bahwa pengerahan pasukan di Portland sangat diperlukan untuk menanggapi protes yang terus berlangsung di fasilitas imigrasi kota tersebut. Ini menunjukkan pola yang sama dengan apa yang terjadi di Chicago.
Hakim dan Gubernur Menentang Keras
Namun, rencana Trump untuk Portland juga tidak berjalan mulus. Seorang Hakim distrik Portland segera memblokir langkah tersebut, menyatakan bahwa keputusan presiden sama sekali tidak berdasar. Hakim tersebut menegaskan bahwa Amerika Serikat adalah negara hukum konstitusional, bukan darurat militer.
"Ini adalah negara hukum konstitusional, bukan darurat militer," tegas hakim dalam putusannya. Immergut juga menyatakan bahwa pemerintahan Trump gagal menunjukkan bukti yang kuat bahwa protes tersebut merupakan bagian dari "upaya terorganisir untuk menggulingkan pemerintah." Ini adalah pukulan telak bagi legitimasi tindakan Trump.
Gelombang protes terhadap pengerahan pasukan juga datang dari negara bagian California. Gubernur Gavin Newsom menyatakan ketidaksetujuannya atas rencana pengerahan pasukan Garda Nasional California ke Oregon. Ia bahkan berjanji akan menuntut pengerahan tanpa izin tersebut.
Newsom menjelaskan bahwa Garda Nasional adalah pasukan berbasis negara bagian yang bertanggung jawab langsung kepada gubernur mereka, kecuali jika diperintahkan untuk tugas federal. Ini adalah poin krusial yang menjadi dasar penolakannya.
"Penempatan Garda Nasional California ke Oregon bukan tentang kejahatan. Ini tentang kekuasaan," kata Newsom dengan tegas. Ia melanjutkan, "Dia menggunakan militer kita sebagai pion politik untuk membangun egonya sendiri." Pernyataan ini menyoroti dugaan motif politik di balik keputusan Trump.
Implikasi Konflik Federal vs. Negara Bagian
Konflik antara pemerintah federal dan negara bagian ini bukan sekadar perebutan kekuasaan biasa. Ini menyentuh inti dari sistem federalisme Amerika Serikat, di mana ada pembagian kekuasaan yang jelas antara Washington D.C. dan pemerintah lokal. Pengerahan pasukan federal tanpa persetujuan negara bagian bisa menjadi preseden berbahaya.
Situasi ini juga memunculkan pertanyaan serius tentang batas-batas kekuasaan presiden, terutama dalam menghadapi protes sipil. Apakah seorang presiden memiliki hak untuk mendeklarasikan "zona perang" dan mengerahkan militer di wilayah negara bagian tanpa persetujuan gubernur?
Para kritikus berpendapat bahwa tindakan Trump ini berpotensi mengikis demokrasi dan kebebasan sipil. Mereka khawatir bahwa penggunaan militer untuk meredam protes sipil bisa menjadi alat politik yang disalahgunakan, alih-alih untuk menjaga ketertiban umum yang sebenarnya.
Masa Depan yang Penuh Ketidakpastian
Dengan semakin memanasnya tensi antara Gedung Putih dan pemerintah negara bagian, masa depan penanganan protes dan kebijakan imigrasi di AS menjadi sangat tidak pasti. Keputusan pengadilan dan perlawanan dari para gubernur menunjukkan bahwa upaya Trump untuk menggunakan kekuatan federal tidak akan mudah.
Ini adalah pertarungan yang lebih besar dari sekadar penanganan protes. Ini adalah pertarungan tentang definisi kekuasaan, otonomi negara bagian, dan prinsip-prinsip konstitusional yang menjadi landasan Amerika Serikat. Dunia akan terus menyaksikan bagaimana drama politik ini akan berakhir.


















