Jakarta digegerkan oleh penemuan mayat seorang pria paruh baya di sebuah kamar kontrakan di kawasan Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat. Korban diketahui bernama Ibad, seorang pengemudi ojek daring (ojol) berusia 63 tahun, yang ditemukan tak bernyawa pada hari Sabtu setelah warga mencium bau menyengat dari dalam rumah. Penemuan ini sontak mengejutkan warga sekitar dan menyisakan duka mendalam bagi keluarga serta rekan-rekan sesama driver ojol.
Awal Mula Penemuan Tragis
Pagi itu, sekitar pukul 09.30 WIB, ketenangan di RT 04 RW 04 Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah, terusik oleh bau tak sedap yang semakin kuat tercium di sekitar salah satu rumah. Bau menyengat itu menimbulkan kecurigaan di kalangan warga, terutama setelah beberapa hari tidak melihat sosok Ibad, penghuni kamar tersebut. Kecurigaan ini kemudian disampaikan oleh salah satu anggota keluarga korban kepada Ketua RT setempat, Jamil.
Merespons laporan tersebut, Jamil bersama beberapa warga segera mendatangi lokasi. Dengan perasaan was-was, mereka mencoba masuk ke dalam kamar. Pemandangan pilu langsung menyambut mereka: Ibad ditemukan tergeletak tak bernyawa di dalam kamarnya, dengan kondisi tubuh yang sudah membengkak dan cairan tubuh yang tercecer di sekitar kasur.
Sosok Ibad: Driver Ojol yang Dikenal Warga
Ibad, di usianya yang sudah menginjak 63 tahun, masih aktif mencari nafkah sebagai driver ojol. Profesi ini memang menuntut stamina dan ketahanan fisik, terutama di tengah persaingan ketat ibu kota. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan banyak pertanyaan dan rasa kehilangan di hati tetangga yang mengenalnya.
Menurut penuturan Jamil, Ketua RT setempat, Ibad terakhir kali terlihat olehnya pada malam Rabu, beberapa hari sebelum penemuan jasadnya. Sementara itu, beberapa warga lain masih sempat melihat Ibad hingga hari Kamis. Hal ini menunjukkan bahwa Ibad masih beraktivitas seperti biasa, meskipun mungkin sudah merasakan gejala sakit yang tidak terdeteksi.
Kondisi di Lokasi dan Petunjuk Awal
Saat ditemukan, Ibad mengenakan kaus putih dan celana jeans, pakaian sehari-hari yang mungkin ia kenakan saat terakhir kali beraktivitas. Kondisi tubuhnya yang sudah membengkak dan adanya cairan tubuh mengindikasikan bahwa ia telah meninggal dunia beberapa waktu sebelum ditemukan. Pemandangan ini tentu saja sangat memilukan bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Sebuah detail yang cukup menarik perhatian adalah keberadaan dua unit ponsel yang masih terhubung dengan pengisi daya, tepat di samping kanan kepala almarhum. Detail kecil ini seolah menjadi saksi bisu dari rutinitas terakhir Ibad, mungkin sedang menunggu orderan atau berkomunikasi dengan keluarga sebelum ajal menjemput. Ponsel yang masih mengisi daya itu memberikan gambaran tentang kesibukan dan ketergantungan Ibad pada teknologi untuk menunjang pekerjaannya.
Tindakan Kepolisian dan Proses Evakuasi
Setelah penemuan mayat dilaporkan, pihak kepolisian dari Polsek Palmerah segera tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim identifikasi dan forensik bekerja dengan cermat untuk mengumpulkan bukti-bukti yang mungkin bisa mengungkap penyebab pasti kematian Ibad. Proses evakuasi jenazah dilakukan sekitar pukul 13.00 WIB, setelah semua prosedur di TKP selesai dilaksanakan.
Kapolsek Palmerah, Kompol Gamos Simamora, mengonfirmasi bahwa jenazah Ibad telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Langkah ini diambil untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk autopsi, guna memastikan penyebab pasti kematian. "Masih didalami. Sudah dibawa ke RSCM," ujar Kompol Gamos, menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung.
Menanti Jawaban Pasti: Mengapa Ibad Meninggal?
Meskipun penyelidikan masih berjalan, Jamil, Ketua RT setempat, memberikan dugaan awal berdasarkan keterangan polisi di lokasi. Menurutnya, tidak ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan pada tubuh Ibad. "Kayaknya enggak (tanda kekerasan), tapi karena sakit. Ada bercak darah karena pembuluh darahnya pecah. Tapi menurut polisi di TKP, tak ada tanda-tanda kekerasan," jelas Jamil.
Dugaan awal ini mengarah pada kemungkinan Ibad meninggal dunia karena sakit. Pecahnya pembuluh darah bisa menjadi salah satu indikasi masalah kesehatan serius yang mungkin diderita almarhum. Namun, kepastian mengenai penyebab kematian baru akan terungkap setelah hasil pemeriksaan forensik dari RSCM keluar. Keluarga dan warga tentu berharap ada kejelasan agar bisa merelakan kepergian Ibad dengan tenang.
Refleksi Kehidupan Driver Ojol di Ibu Kota
Kisah pilu Ibad ini tak hanya menjadi berita lokal, tetapi juga potret nyata dari kerasnya kehidupan para pekerja informal di ibu kota, khususnya driver ojol. Di usia senja, banyak dari mereka masih harus berjuang di jalanan, menghadapi teriknya matahari, padatnya lalu lintas, dan risiko kesehatan yang mengintai. Kisah Ibad mengingatkan kita akan pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan para pekerja ini, yang seringkali berjuang sendirian demi sesuap nasi.
Penemuan jenazah Ibad di kamarnya, dengan ponsel yang masih mengisi daya, menyiratkan kesendirian yang mungkin sering dialami oleh banyak pekerja rantau. Mereka berjuang jauh dari keluarga, dan terkadang, momen terakhir hidup mereka pun harus dilalui dalam kesunyian. Semoga hasil pemeriksaan RSCM segera memberikan jawaban pasti, dan keluarga Ibad diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan sesama.


















