Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

The Rock Buka Suara! Film Barunya Dipuji Setinggi Langit, Tapi Box Office-nya Ambyar Parah?

the rock buka suara film barunya dipuji setinggi langit tapi box office nya ambyar parah portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Dwayne "The Rock" Johnson, nama yang identik dengan film-film blockbuster penuh aksi dan tawa, kini tengah menghadapi ironi besar dalam kariernya. Film terbarunya, The Smashing Machine, sebuah drama biografi yang ambisius, berhasil memukau para kritikus dan meraih pujian setinggi langit. Namun, di sisi lain, performa box office-nya justru anjlok parah, bahkan menjadi debut terendah sepanjang perjalanan karier The Rock di Hollywood.

Ketika Pujian Kritikus Tak Sejalan dengan Angka Box Office

banner 325x300

Pada Selasa (7/10), The Smashing Machine berhasil mengumpulkan skor impresif 72 persen dari 236 ulasan di Rotten Tomatoes. Angka ini menandakan penerimaan positif yang luar biasa dari para kritikus film, sesuatu yang tidak selalu didapatkan oleh film-film blockbuster The Rock sebelumnya. Bahkan, saat tayang perdana di Venice Film Festival 2025, film ini mendapatkan standing ovation selama 15 menit, sebuah pengakuan yang sangat langka dan prestisius.

Namun, di balik gemuruh pujian tersebut, ada kenyataan pahit di ranah box office. Debut The Smashing Machine hanya mampu mengumpulkan US$6 juta. Angka ini jauh di bawah ekspektasi dan secara mengejutkan menjadi debut terendah sepanjang karier akting Dwayne Johnson, seperti yang dilaporkan Hollywood Reporter pada Senin (6/10). Sebuah kontras yang mencolok antara apresiasi artistik dan daya tarik komersial.

Transformasi Total The Rock: Dari Aktor Laga ke Calon Oscar

The Smashing Machine bukan sekadar film biasa bagi Dwayne Johnson. Ini adalah proyek ambisius yang menuntut transformasi total dari dirinya. Selama ini, The Rock dikenal dengan perannya sebagai pahlawan berotot di film-film aksi seperti Fast & Furious, Jumanji, atau Black Adam. Namun, dalam film biopik tentang pegulat MMA legendaris Mark Kerr ini, ia benar-benar melebur ke dalam karakter.

Penampilannya sebagai Mark Kerr dibanjiri pujian karena kemampuannya menampilkan kedalaman emosi dan kerentanan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Kritikus memuji aktingnya yang autentik dan berhasil menghidupkan kisah tragis seorang atlet yang berjaya di era 1990-an. Transformasi ini begitu meyakinkan, hingga nama Dwayne Johnson langsung masuk radar kandidat pemenang Piala Oscar untuk kategori Aktor Terbaik, bersanding dengan nama-nama besar lainnya.

Benny Safdie dan Visi Baru untuk The Rock

Di balik kesuksesan artistik The Smashing Machine ada sosok sutradara Benny Safdie. Film ini menandai debutnya sebagai sutradara solo, setelah sebelumnya dikenal lewat karya-karya brilian bersama kakaknya, Josh Safdie, dalam duo Safdie Brothers. Mereka telah menghasilkan film-film hit yang diakui kritikus seperti Good Time (2017) dan Uncut Gems (2019).

Visi sinematik Benny Safdie yang khas, seringkali gelap, intens, dan realistis, berhasil mengeluarkan sisi lain dari Dwayne Johnson. Ini adalah kolaborasi yang tak terduga, menggabungkan sutradara independen yang dihormati dengan bintang blockbuster terbesar di dunia. Hasilnya adalah sebuah film yang mengubah persepsi banyak orang tentang kapasitas akting The Rock.

Respon Jujur The Rock: Fokus pada Akting, Bukan Cuan

Menyikapi performa box office yang kurang memuaskan, Dwayne Johnson buka suara melalui akun Instagram pribadinya. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada semua penonton yang telah menyaksikan The Smashing Machine. Dalam unggahannya, ia menunjukkan kedewasaan dan fokus pada hal yang paling bisa ia kontrol.

"Dari lubuk hati saya paling dalam, saya berterima kasih kepada semua orang yang telah menonton The Smashing Machine," tulis Dwayne Johnson. "Dari dunia penceritaan kita, kamu tidak bisa mengontrol hasil box office." Ia menambahkan bahwa yang bisa dikontrol adalah penampilan dan komitmennya untuk benar-benar "hilang" dalam sebuah peran. Pernyataan ini menunjukkan pergeseran prioritas The Rock, dari sekadar mengejar angka box office ke pencarian kualitas artistik dan pengalaman akting yang mendalam.

Masa Depan Karier Dwayne Johnson: Antara Blockbuster dan Drama Serius

Pengalaman dengan The Smashing Machine mungkin menjadi titik balik dalam karier Dwayne Johnson. Selama ini, ia adalah jaminan box office, dengan film-filmnya meraup jutaan dolar di seluruh dunia. Namun, proyek ini membuktikan bahwa ia juga memiliki kapasitas untuk akting serius yang diakui kritikus. Pertanyaannya, apakah ini akan mengubah arah kariernya di masa depan?

Mungkin saja The Rock akan lebih selektif dalam memilih proyek, menyeimbangkan antara film-film blockbuster yang menghasilkan uang dan proyek-proyek drama yang menantang kemampuan aktingnya. Film ini juga dibintangi oleh nama-nama besar seperti Emily Blunt, Ryan Bader, Bas Rutten, Oleksandr Usyk, dan James Moontasri, menunjukkan keseriusan proyek ini dari awal.

Terlepas dari angka box office yang mengecewakan, The Smashing Machine telah berhasil membuktikan satu hal: Dwayne "The Rock" Johnson adalah aktor yang jauh lebih dalam dari sekadar otot dan karisma. Ia mampu bertransformasi, menyentuh emosi, dan memberikan penampilan yang layak mendapatkan pujian tertinggi. Ini adalah babak baru yang menarik dalam perjalanan karier sang bintang.

banner 325x300