banner 728x250

Tha Rae The Exorcist: Horor Katolik Thailand yang Berani Beda, Tapi Terjebak Ambisinya Sendiri?

tha rae the exorcist horor katolik thailand yang berani beda tapi terjebak ambisinya sendiri portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Thailand kembali menyuguhkan tontonan horor yang mencoba mendobrak batasan, kali ini lewat ‘Tha Rae: The Exorcist’. Film garapan Taweewat Wantha ini datang dengan premis yang sangat menarik: memadukan ritual eksorsisme Katolik dengan kekayaan budaya lokal Thailand. Sebuah langkah berani yang patut diacungi jempol, namun sayangnya, ambisi besar ini juga menjadi pedang bermata dua.

Eksorsisme Katolik Rasa Lokal: Sebuah Terobosan Baru?

banner 325x300

Sejak awal, satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah kesetiaan Thailand pada budayanya, didukung penuh oleh masyarakat dan pemerintahnya. Taweewat Wantha, bersama tim penulis Buddhiporn Bussabarati dan Worawit Chaiwongkhod, dengan cerdik mengawinkan tradisi lokal dalam narasi eksorsisme Katolik yang sudah mendunia. Ini bukan hal yang lazim.

Film eksorsisme Katolik biasanya mengikuti pola baku ‘The Exorcist’ (1973), dengan teror, upaya pengusiran, dan kemenangan kekuatan ilahi atas kegelapan. Namun, ‘Tha Rae: The Exorcist’ mencoba menanamkan sentuhan berbeda, menjadikannya film eksorsisme Katolik pertama dari Thailand yang berani bereksperimen dengan unsur lokal. Pendekatan akulturasi semacam ini masih langka, terutama untuk eksorsisme Katolik.

Kita ingat ‘The Curse of La Llorona’ (2019) yang memadukan Katolik dengan folklor Meksiko, namun di Asia Tenggara sendiri, film dengan konsep ini semakin jarang. Indonesia baru punya ‘Kuasa Gelap’ (2024), dan Thailand menyusul setahun kemudian dengan pendekatan serupa. Filipina memang sudah lama punya banyak film eksorsisme, seperti ‘Sanib’ (2003), wajar mengingat mayoritas penduduknya Katolik.

Namun, untuk Thailand yang mayoritas Buddha, langkah ini adalah terobosan yang signifikan dan menunjukkan keberanian dalam eksplorasi genre. Ini bukan hanya tentang horor, tetapi juga tentang merayakan identitas budaya di tengah arus globalisasi. Sebuah upaya yang patut diapresiasi karena berani tampil beda.

Ambisi yang Patut Diacungi Jempol

Selain perpaduan budaya, Taweewat juga berupaya menampilkan keberagaman sosial yang ada di masyarakat Thailand. Mulai dari eksistensi generasi digital di sana hingga ‘chemistry’ tak biasa antar aktor utama, yang jarang ditemukan di film horor berlatar agama yang cenderung serius. Ia sadar bahwa cerita eksorsisme Katolik sudah terlalu sering dikisahkan.

Maka, sentuhan lokal menjadi daya tarik utama yang ingin ditonjolkan, memberikan nuansa segar pada genre yang sudah mapan. Ada kemiripan dengan ‘Kuasa Gelap’ (2024) dari Indonesia, di mana kedua film ini sama-sama memberikan porsi cukup dalam untuk mengenalkan karakter utama mereka. Taweewat dan timnya ingin membangun latar belakang yang kuat untuk dua karakter pria utama mereka, yang sama-sama punya porsi penting dalam cerita.

Ditambah lagi niat luhur untuk menampilkan budaya lokal secara mendalam, ini adalah pekerjaan rumah besar dalam manajemen durasi dan plot. Menggabungkan dua karakter utama yang kuat dengan latar belakang mendalam, ditambah lagi dengan detail budaya lokal, membutuhkan penulisan yang sangat presisi.

Sayangnya, Eksekusi yang Terlalu Berbelit-belit

Di sinilah ambisi besar Taweewat mulai goyah. Ia dan timnya terlihat keteteran dalam mengelola semua elemen yang ingin mereka masukkan ke dalam satu film. Akibatnya, ‘Tha Rae: The Exorcist’ memiliki alur cerita yang terasa berbelit-belit dan bertele-tele, membuat penonton kesulitan mengikuti benang merahnya.

Meskipun strategi jumpscare yang disajikan cukup menghibur dan berhasil memicu adrenalin sesaat, rasa bosan tak bisa dihindari. Sensasi kaget yang diberikan hanya bersifat sementara, tidak mampu menahan kejenuhan yang muncul akibat alur yang lambat dan rumit. Penonton baru bisa sepenuhnya memahami inti permasalahan ketika film sudah memasuki sepertiga terakhir, sebuah durasi yang terlalu panjang untuk membangun pemahaman yang solid.

Selain itu, ada ‘cultural gap’ yang mungkin dialami penonton non-Thailand, termasuk saya sendiri. Unsur lokal, terutama jenis demon yang berbeda dari yang biasa dikenal dalam film eksorsisme Barat, cukup membuat otak saya butuh waktu untuk mencerna. Ini menunjukkan bahwa meskipun niatnya baik, penyampaian elemen budaya lokal perlu dieksekusi dengan lebih mulus agar tidak membingungkan penonton global dan tetap menjaga ketegangan.

Jumpscare dan Iklan yang Mengganggu Konsentrasi

Meskipun Taweewat mencoba memberikan jumpscare yang cukup efektif di beberapa momen, itu tidak cukup untuk menutupi kelemahan narasi secara keseluruhan. Efek kejutnya memang ada, tetapi tidak mampu mengangkat kualitas cerita yang terasa terlalu panjang dan kurang fokus.

Catatan lain yang cukup mengganggu adalah penempatan iklan dalam film. Meski dipahami bahwa iklan penting untuk produksi film, penempatannya terasa terlalu ‘ngiklan’ dan kurang halus. Bila ini adalah tayangan podcast di YouTube, mungkin saya sudah berkali-kali menekan tombol skip untuk melewati bagian tersebut. Ini sedikit mengurangi imersi penonton dan terasa ganjil di tengah cerita horor yang seharusnya mencekam dan tanpa gangguan.

Potensi Besar untuk Masa Depan Horor Asia Tenggara

Terlepas dari segala catatannya, ‘Tha Rae: The Exorcist’ tetaplah sebuah film yang patut diapresiasi karena keberaniannya. Upaya Taweewat Wantha yang tampak mempersiapkan film ini agar memiliki sekuel dan turunannya sangat didukung. Formula unik yang sudah dibangun memiliki potensi besar untuk disempurnakan di masa depan. Keunikan ini bisa menjadi kunci kesuksesan, tidak hanya di Thailand, tetapi juga di kancah perfilman horor Asia Tenggara.

Dengan adanya film-film seperti ini, kita bisa berharap pasar film horor di kawasan ini akan semakin ramai dan beragam. Ini adalah langkah awal yang penting dalam merayakan kekayaan folklor dan budaya masyarakat Asia Tenggara yang memang berlimpah ruah. ‘Tha Rae: The Exorcist’ mungkin belum sempurna, tetapi ia adalah penanda bahwa horor lokal kita punya banyak cerita unik yang siap untuk dieksplorasi lebih jauh.

Secara keseluruhan, ‘Tha Rae: The Exorcist’ adalah film dengan ide brilian yang dieksekusi dengan ambisi besar, namun belum sepenuhnya matang. Ia adalah bukti keberanian Thailand dalam bereksperimen dengan genre horor, dan semoga menjadi pijakan untuk karya-karya yang lebih sempurna di masa mendatang. Sebuah tontonan yang mungkin membuatmu sedikit mengernyitkan dahi, tapi juga meninggalkan harapan akan masa depan horor lokal yang lebih kaya dan mendunia.

banner 325x300