Fenomena selebriti beralih ke platform digital semakin menjadi sorotan, dan komedian kawakan Sule tak ketinggalan. Baru-baru ini, ayah lima anak itu mengejutkan publik dengan pengakuannya meraup penghasilan fantastis dari siaran langsung di TikTok. Angka Rp10 juta per jam disebut-sebut sebagai cuan yang ia dapatkan, sebuah jumlah yang tentu membuat banyak orang penasaran.
Pengakuan mengejutkan ini pertama kali muncul saat Sule menjadi bintang tamu dalam siniar Nanda Persada yang rilis pada 31 Oktober 2025. Ia blak-blakan menceritakan bagaimana media sosial kini menjadi salah satu ladang rezeki utamanya, di tengah perubahan lanskap hiburan yang begitu cepat. Kisah ini sontak menjadi perbincangan hangat, menunjukkan betapa besarnya potensi ekonomi di dunia digital.
Cuan Fantastis dari TikTok: Rp10 Juta per Jam Bukan Sekadar Angka!
Saat ditemui awak media, Sule memberikan klarifikasi lebih lanjut terkait angka fantastis tersebut. Ia menyebut bahwa penghasilan Rp10 juta per jam itu didapatkan saat dirinya sedang "gabut" atau tidak ada kegiatan lain, namun berujung pada rezeki yang tak terduga. "Itu mah lagi gabut saja sih. Alhamdulillah banget dapatnya segitu," ujar Sule, seperti diberitakan detikHot pada Rabu (5/11).
Namun, jangan salah sangka, angka tersebut ternyata bukan batas maksimal. Sule menjelaskan bahwa sebagian besar pendapatan itu berasal dari promosi produk atau perusahaan yang ingin memanfaatkan jangkauan audiensnya. "Jadi, biasanya ada perusahaan yang pengin kita promosiin sih. Tapi bisa lebih dari itu (Rp10 juta) sebenarnya," tambahnya, membuka mata kita tentang potensi endorsement di platform live streaming.
Sule memang tidak merinci total keseluruhan yang ia dapatkan dari aktivitas siaran langsung di media sosialnya. Namun, ia sempat membocorkan potensi penghasilan yang lebih gila lagi saat berbincang dengan Nanda Persada. Konon, jika ia "match" dengan pengguna lain di TikTok, ia bisa meraup hingga Rp300 juta dalam satu sesi. Angka ini tentu menunjukkan betapa besar perputaran uang di ekosistem TikTok.
Dengan segala perolehan fantastis ini, Sule hanya bisa mengucapkan syukur. Ia merasa sangat beruntung masih bisa memperoleh pendapatan yang signifikan dari media sosial, terutama di tengah kondisi di mana tawaran tampil di televisi semakin menurun. Ini adalah bukti nyata adaptasi seorang seniman terhadap perubahan zaman, di mana panggung hiburan tak lagi terbatas pada layar kaca.
Di Balik Cuan TikTok: Karir TV Sule Merosot Drastis
Di balik gemerlap cuan dari TikTok, Sule juga tak menampik adanya sisi pahit dalam perjalanan karirnya. Bapak lima anak ini secara terbuka mengakui bahwa tawaran pekerjaan di televisi memang mengalami penurunan drastis. Penurunan ini, menurutnya, adalah imbas dari cap negatif yang melekat padanya: komedian yang "baperan" atau mudah terbawa perasaan saat di-roasting.
Cap "baperan" ini ternyata masih terus membayangi Sule hingga saat ini. Ia merasa stigma tersebut telah memengaruhi pandangan banyak pihak terhadap dirinya, termasuk para produser dan penyelenggara acara. "Sampai sekarang ada yang ‘oh ini pelawak yang baperan’, itu ada," kata Sule, menunjukkan betapa kuatnya dampak persepsi publik terhadap karir seorang selebriti.
Lebih lanjut, Sule mengungkapkan bahwa cap tersebut tidak hanya berdampak pada penurunan tawaran, tetapi juga pembatalan pekerjaan yang sudah ada. "Gue kan dihujat habis-habisan pada waktu itu. Yang cancel pekerjaan, ada," ungkapnya, menggambarkan betapa beratnya tekanan yang ia hadapi. Hal ini menjadi pengingat bahwa di dunia hiburan, citra adalah segalanya.
Kisah di Balik Cap ‘Baperan’: Roasting Kiky Saputri yang Berujung Kontroversi
Masalah ini diduga kuat merujuk pada insiden yang terjadi pada tahun 2021, melibatkan komika Kiky Saputri. Kala itu, Kiky sempat mengaku punya pengalaman saat diminta melakukan roasting dan diklaim sudah disetujui oleh targetnya. Namun, beberapa saat sebelum Kiky tampil, mendadak target yang akan di-roasting menolak, dan penampilan Kiky untuk acara tersebut pun batal.
Meskipun Kiky tidak menyebut nama secara gamblang, banyak netizen menduga bahwa orang yang menjadi target roasting Kiky tersebut adalah Sule. Spekulasi ini menyebar luas di media sosial, memicu perdebatan sengit di kalangan warganet tentang etika roasting dan profesionalisme seorang komedian. Insiden ini kemudian menjadi titik balik yang membentuk citra "baperan" pada Sule.
Sule sendiri tidak menampik bahwa dirinya memang menolak untuk menjadi target roasting pada saat itu. Namun, ia memiliki alasan kuat di balik keputusannya. Ia menjelaskan bahwa kondisi mentalnya kala itu sedang tidak baik-baik saja, dan ia khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan jika ia dipaksa untuk di-roasting di depan umum.
Sule Buka Suara: Kondisi Mental dan Penyesalan
Dalam penjelasannya, Sule menekankan bahwa penolakannya bukan karena ia tidak profesional atau tidak mau di-roasting. Melainkan, ia sedang berada dalam kondisi emosional yang rentan. "Setelah kejadian itu rame, saya langsung minta maaf sama yang bersangkutan," kata Sule, menunjukkan itikad baiknya untuk menyelesaikan masalah tersebut secara personal.
Ia juga menyampaikan alasannya kepada pihak kreatif acara. "Saya bilang sama kreatif, saya bukan berarti tidak mau. Gue bilang sama kreatif, gue lagi enggak bener emosinya," jelasnya. Kekhawatiran Sule sangat beralasan: "Takutnya ada sesuatu (terjadi, terpantik emosi) pas live, gue enggak mau." Ini menunjukkan bahwa Sule sangat menjaga profesionalismenya, bahkan dengan menolak sesuatu yang berpotensi merusak citranya secara live.
Keputusan Sule untuk menolak roasting saat itu, meskipun berujung pada cap "baperan" dan penurunan karir TV, adalah bentuk perlindungan diri. Ia memilih untuk tidak mengambil risiko meledak di depan kamera, yang bisa jadi akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi. Ini adalah pengingat bahwa selebriti pun manusia biasa yang memiliki batas emosional dan mental.
Pelajaran dari Lika-liku Karir: Adaptasi dan Ketahanan
Kisah Sule ini menjadi cerminan betapa dinamisnya dunia hiburan dan betapa krusialnya adaptasi. Di satu sisi, ia berhasil menemukan ladang rezeki baru yang melimpah ruah di platform digital seperti TikTok. Ini membuktikan bahwa dengan kreativitas dan kemampuan beradaptasi, seorang seniman bisa terus eksis dan bahkan lebih sukses di era digital.
Di sisi lain, pengalaman pahit terkait cap "baperan" dan penurunan karir TV menunjukkan betapa rapuhnya citra publik. Satu insiden bisa berdampak besar pada perjalanan karir seorang selebriti, bahkan yang sudah memiliki nama besar sekalipun. Ini adalah pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga citra dan mengelola emosi di mata publik.
Namun, yang paling menonjol dari kisah Sule adalah ketahanannya. Meskipun dihantam isu miring dan mengalami penurunan tawaran TV, ia tidak menyerah. Ia mencari jalan lain, memanfaatkan peluang di media sosial, dan terus berkarya. Ini adalah semangat yang patut dicontoh, bahwa setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya jika kita mau beradaptasi dan terus berusaha.
Sule, dengan segala lika-liku karirnya, kini menjadi contoh nyata bagaimana seorang entertainer bisa bangkit dan menemukan panggung baru. Dari panggung televisi yang mulai meredup, ia kini bersinar terang di panggung digital, membuktikan bahwa bakat dan kerja keras akan selalu menemukan jalannya, asalkan kita mau berinovasi dan tidak takut menghadapi perubahan.


















