Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Ratingnya Jomplang! Film Zombie Kimo Stamboel ‘Abadi Nan Jaya’ Bikin Penonton Terbelah, Ada Apa Sebenarnya?

ratingnya jomplang film zombie kimo stamboel abadi nan jaya bikin penonton terbelah ada apa sebenarnya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Film horor terbaru garapan sutradara Kimo Stamboel, "Abadi Nan Jaya" atau yang dikenal secara internasional sebagai "The Elixir", telah menarik perhatian sejak tayang perdana pada 23 Oktober lalu. Namun, sambutan yang diterima film zombie lokal ini justru memicu perdebatan sengit di kalangan penonton dan kritikus global. Penilaian terhadap film ini tampaknya terbelah tajam, menciptakan kontroversi yang cukup menarik untuk disimak.

Kontroversi di Rotten Tomatoes: Skor Jomplang yang Bikin Bingung

banner 325x300

Perpecahan opini ini sangat jelas terlihat di laman agregator ulasan film terkemuka, Rotten Tomatoes. Hingga Jumat (7/11), "Abadi Nan Jaya" berhasil mengumpulkan skor 70 persen dari 10 ulasan kritikus film. Angka ini terbilang cukup baik, menunjukkan bahwa sebagian kritikus mengapresiasi karya Kimo Stamboel.

Namun, skor tersebut belum cukup untuk mengantarkan "Abadi Nan Jaya" meraih status "Certified Fresh" yang prestisius. Untuk mendapatkan status tersebut, sebuah film atau serial harus mencapai skor Tomatometer minimal 75 persen dari setidaknya lima Top Critics. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada ulasan dari Top Critics yang masuk untuk "The Elixir".

Yang lebih mengejutkan adalah perbandingan dengan skor penonton. "Abadi Nan Jaya" hanya mendapatkan skor Popcornmeter sebesar 28 persen dari lebih dari 100 ulasan yang masuk. Disparitas antara 70 persen dari kritikus dan 28 persen dari penonton ini sangat mencolok, menandakan adanya perbedaan pandangan yang signifikan terhadap kualitas film ini.

Mengapa Abadi Nan Jaya Bikin Penonton Kecewa Berat?

Mayoritas kritikus dan penonton yang memberikan ulasan negatif sepakat pada satu poin utama: cerita dan karakter dalam film ini dianggap menjadi kelemahan fatal. JK Sooja dari Common Sense Media, misalnya, memuji visual dan aspek teknis film yang brilian, namun sangat menyayangkan pengembangan karakternya. Menurutnya, karakter-karakter tersebut terasa hampa dan kurang mendalam.

Senada dengan itu, John Serba dari Decider mengkritik bahwa pengembangan karakter seolah dikorbankan demi menonjolkan unsur sadisme dan gore yang menjadi ciri khas film zombie. Ia merasa bahwa sutradara terlalu fokus pada aksi brutal dan efek darah, sehingga melupakan esensi pembangunan karakter yang kuat. Akibatnya, penonton kesulitan untuk berempati atau peduli dengan nasib mereka.

"Banyak hal tentang produksi, eksekusi, dan visi The Elixir yang hebat, terlepas dari kekurangan utamanya. Masalahnya, kekurangan ini merupakan dosa utama film zombi: Perilaku karakternya tidak realistis," kritik JK Sooja. Ia menambahkan bahwa keputusan-keputusan konyol yang diambil oleh para karakter justru membuat penonton frustrasi, bukan tegang.

Kritik serupa juga banyak dilontarkan oleh penonton. Mereka mengaku kecewa dengan aksi para karakter yang dianggap tidak logis dan jauh dari naluri bertahan hidup. Salah satu penonton menulis, "Film zombi ini tidak bikin saya takut atau tegang, tapi malah tertawa bahkan memaki kebodohan karakternya. Mereka semua seperti ditulis dengan malas-malasan sehingga tidak punya kepribadian yang jelas. Mereka semua bodoh dan tidak punya naluri bertahan hidup."

Penonton lain menambahkan, "Para karakter terus menerus bikin frustrasi akibat selalu mengambil keputusan yang salah, tapi gore dan special effects-nya bagus." Ini menunjukkan bahwa meskipun aspek teknis dan visualnya diakui, kelemahan dalam penulisan karakter menjadi batu sandungan besar bagi pengalaman menonton mereka.

Namun, Ada Juga yang Terpukau: Apa Keunggulannya?

Di tengah badai kritik, ada pula suara-suara yang memuji "Abadi Nan Jaya". Claire Lewis dari Polygon, misalnya, memberikan ulasan positif dan memuji penceritaan film ini yang dianggap berhasil membuat penonton mengenal setiap karakter utama. Menurutnya, film ini meluangkan banyak waktu untuk menunjukkan siapa setiap anggota keluarga dan bagaimana mereka berkontribusi pada disfungsi secara keseluruhan.

Fokus pada kepribadian yang berbenturan ini, menurut Lewis, memungkinkan penonton untuk terhubung dengan para karakter dan peduli dengan nasib mereka. Ini adalah sebuah prestasi langka dalam genre zombie yang seringkali hanya memperkenalkan karakter untuk kemudian membunuh mereka tak lama kemudian. Pendekatan ini memberikan dimensi emosional yang lebih dalam, yang mungkin tidak terlihat oleh semua orang.

Selain itu, aspek visual dan teknis film, termasuk efek khusus dan adegan gore, secara umum mendapatkan apresiasi. Kimo Stamboel memang dikenal dengan gaya penyutradaraan yang berani dan brutal dalam menampilkan kekerasan, dan dalam hal ini, "Abadi Nan Jaya" disebut-sebut tidak mengecewakan para penggemar genre horor ekstrem.

Inti Cerita ‘Abadi Nan Jaya’: Ambisi Berujung Bencana

"Abadi Nan Jaya" mengambil latar di sebuah desa terpencil dekat Yogyakarta, tempat tinggal sebuah keluarga yang memiliki usaha jamu ternama. Plot utama berpusat pada ambisi sang kepala keluarga yang ingin mempertahankan kekuasaannya dan hasratnya untuk tetap awet muda. Namun, ambisi berlebihan ini justru memicu keretakan dalam keluarga dan, yang lebih mengerikan, wabah zombie yang tak terduga.

Konflik internal keluarga yang dibalut dengan elemen horor dan supernatural ini sebenarnya memiliki potensi besar. Kisah tentang jamu dan upaya mencapai keabadian atau awet muda juga memberikan sentuhan lokal yang unik pada genre zombie yang didominasi film-film Barat. Ini menunjukkan upaya Kimo Stamboel untuk menghadirkan cerita horor yang relevan dengan budaya Indonesia.

Bertabur Bintang Ternama, Mampukah Menyelamatkan Film?

Film ini juga bertabur bintang-bintang ternama industri perfilman Indonesia, seperti Mikha Tambayong, Eva Celia, Donny Damara, Dimas Anggara, Marthino Lio, dan Kiki Narendra. Kehadiran aktor-aktor kaliber ini tentu saja meningkatkan ekspektasi penonton. Mereka dikenal memiliki kemampuan akting yang mumpuni dan seringkali menjadi daya tarik utama sebuah film.

Namun, pertanyaan yang muncul adalah, apakah performa para aktor ini mampu mengatasi kelemahan yang dirasakan dalam penulisan karakter? Atau justru, akting mereka menjadi salah satu poin yang masih bisa dinikmati di tengah kritik terhadap plot dan karakterisasi? Ini menjadi dilema tersendiri bagi penonton yang berharap melihat kolaborasi apik antara sutradara dan para pemainnya.

Sentuhan Kimo Stamboel: Antara Brutalitas dan Narasi

Kimo Stamboel bukanlah nama baru di kancah film horor Indonesia. Ia dikenal sebagai sutradara yang berani dalam menampilkan adegan-adegan brutal dan gore, seperti yang terlihat dalam karya-karyanya sebelumnya seperti "Rumah Dara" dan "Sebelum Iblis Menjemput". Dalam "Abadi Nan Jaya", sentuhan khas Kimo ini jelas terasa, terutama dalam visualisasi zombie dan adegan kekerasan.

Namun, tampaknya kali ini, fokus pada brutalitas dan visual yang memukau mungkin sedikit mengorbankan kedalaman narasi dan pengembangan karakter yang lebih solid. Ini menjadi tantangan bagi seorang sutradara horor: bagaimana menyeimbangkan antara elemen kejutan, ketegangan, dan gore dengan cerita yang kuat serta karakter yang bisa dihubungkan oleh penonton.

Tayang di Netflix: Akses Mudah, Ekspektasi Tinggi

"Abadi Nan Jaya" tayang dan bisa ditonton di Netflix, platform streaming global yang memungkinkan film ini diakses oleh jutaan penonton di seluruh dunia. Ketersediaan di Netflix tentu saja memberikan jangkauan yang luas, namun juga berarti film ini akan dihadapkan pada standar dan ekspektasi penonton global yang beragam.

Akses yang mudah ini juga mempercepat penyebaran ulasan dan opini, baik positif maupun negatif, yang kemudian berkontribusi pada skor Rotten Tomatoes yang terpecah belah. Di era digital ini, reaksi penonton bisa sangat cepat dan masif, membentuk narasi seputar sebuah film dalam waktu singkat.

Pada akhirnya, "Abadi Nan Jaya" hadir sebagai film horor Indonesia yang memicu perdebatan menarik. Dengan skor kritikus yang cukup baik namun skor penonton yang sangat rendah, film ini menjadi studi kasus tentang bagaimana sebuah karya seni bisa dipersepsikan secara berbeda. Apakah kamu sudah menontonnya? Jangan ragu untuk membentuk opinimu sendiri dan ikut meramaikan diskusi tentang film zombie lokal yang satu ini!

banner 325x300