Korea Selatan kembali bikin gebrakan di kancah perfilman internasional. Film terbarunya, No Other Choice, resmi dipilih mewakili negara tersebut di ajang Piala Oscar 2026 untuk kategori Best International Feature Film. Bukan tanpa alasan, film ini punya daya tarik yang sulit diabaikan. Dari tema hingga genre, sekilas memang mengingatkan kita pada Parasite (2019) yang fenomenal.
Bukan Sekadar Film Thriller Biasa
Namun, No Other Choice menawarkan lebih dari sekadar kemiripan. Kisahnya begitu relevan dengan realitas banyak negara, termasuk Indonesia, yang sedang menghadapi tantangan ekonomi dan sosial. Film ini sukses menggali insting dasar manusia: bertahan hidup.
Naskah yang ditulis oleh Park Chan-wook bersama Don McKellar, Lee Kyoung-mi, dan Lee Ja-hye, diadaptasi dari novel The Ax (1997) karya Donald Westlake. Cerita ini berpusat pada karyawan senior yang jadi korban PHK akibat efisiensi dan mekanisasi.
Latar belakang ini adalah cerminan pahit dari Revolusi Industri. Sebuah revolusi yang sejak abad ke-18 terus berevolusi, namun selalu menuntut harga yang mahal dari sisi kemanusiaan.
Revolusi Industri 4.0 dan Dilema Manusia
Kehidupan orang-orang terganggu, keluarga dilanda ketidakpastian, mimpi anak-anak tergadaikan. Semua ini memicu ide-ide gila demi satu tujuan: bertahan hidup. Hukum rimba pun diaktifkan kembali.
Terlebih di era Revolusi Industri 4.0, di mana teknologi siber, AI, dan IoT semakin mendominasi. Manusia dipaksa bersaing ketat, jika tidak ingin tersingkir oleh mesin ciptaan mereka sendiri.
Ada yang tak sanggup mengikuti arus perubahan zaman, yang hanya mengenal teknologi sebagai pelengkap, bukan pengganti fungsi mereka. Bagi mereka, tak ada pilihan selain tersingkir.
Di sisi lain, ada juga yang mati-matian melawan arus, bahkan harus menanggalkan moral dan menjadi Machiavellian. Bagi golongan ini, bertahan hidup adalah satu-satunya pilihan, tak peduli caranya.
Sentuhan Park Chan-wook yang Khas
Gagasan tragedi ini kemudian dipadukan dengan drama thriller yang intens oleh Park Chan-wook dan tim penulisnya. Beruntungnya, mereka berhasil membungkusnya dengan sesekali komedi yang cukup meringankan beban cerita.
Humor yang disajikan tidak sampai pada tahapan slapstick yang konyol, menjaga nuansa kelam film tetap terasa. Park, yang juga duduk sebagai sutradara, menyertakan teknik pengambilan gambar dan komposisi warna yang dramatis sekaligus unik.
Meskipun begitu, terkadang permainan kamera di beberapa bagian terasa agak berlebihan. Hal ini membuat film terasa sedikit menjemukan pada beberapa babak.
Kekuatan Akting yang Memukau
Thriller yang disajikan dieksekusi dengan brilian oleh Lee Byung-hun sebagai Yoo Man-soo. Ia berhasil membabat habis berbagai situasi, dari thriller, komedi, hingga drama, dengan performa yang luar biasa.
Son Ye-jin juga patut diacungi jempol dalam memerankan Lee Miri, istri Man-soo. Meski awalnya terasa ganjil, chemistry Son dan Lee sebagai ‘partner in crime’ berpadu dengan sangat baik seiring berjalannya durasi.
Pujian khusus juga untuk Lee Sung-min sebagai Gu Bummo dan Yeom Hye-ran sebagai Lee Ara. Duet mereka dengan Lee Byung-hun dalam satu adegan adalah salah satu momen paling epik dalam film ini. Bahkan, saya lebih suka momen mereka bertiga dibanding saat Lee Byung-hun berhadapan dengan Park Hee-soon yang memerankan Choi Seon-chul.
Lantas, Apa yang Kurang dari No Other Choice?
Saya memahami keinginan Park Chan-wook untuk mengikuti perjalanan hidup Yoo Man-soo secara detail, dari dipecat hingga berjuang menyingkirkan pesaingnya. Namun, beberapa ‘bumbu drama’ terasa tidak terlalu berpengaruh pada inti cerita dan bisa dibuat lebih ringkas.
Alur cerita yang terkadang terlalu bertele-tele dan bermain-main dengan pengambilan gambar membuat film ini terasa agak panjang. Padahal, esensi ceritanya bisa disampaikan dengan lebih padat.
Meskipun menggambarkan masalah sosio-ekonomi dan menyentuh sifat dasar manusia, No Other Choice sayangnya belum memiliki faktor emosional sekuat Parasite (2019) yang ditunjukkan Bong Joon-ho. Film ini tidak memiliki trigger emosional yang sama dengan Parasite: ketimpangan sosial-ekonomi yang langsung dihajar dalam satu frame.
No Other Choice lebih fokus pada pilihan-pilihan yang seolah-olah diambil karena kepepet, padahal itu hanya dalam benak sang protagonis. Hal ini menciptakan jarak dengan penonton untuk benar-benar larut dalam kisah tersebut.
Berbeda dengan Parasite yang secara brutal menampar penonton dengan potret kesenjangan sosial, ekonomi, dan psikologis. Parasite membuat penonton merasakan langsung salah satu dari banyak cerita yang dihadirkan Bong.
Sebuah Cermin untuk Sineas Indonesia
Terlepas dari beberapa kekurangannya, No Other Choice tetap jauh lebih bagus dibandingkan banyak film lokal yang saya tonton sepanjang tahun ini. Film ini bahkan membuat saya iri.
Kapan sineas dan produser film di Indonesia memiliki kepekaan yang sama untuk menyajikan cerita yang benar-benar relevan dengan realitas sosial kita? Cerita yang tidak hanya menghibur, tapi juga menggugah dan menjadi cermin bagi masyarakat.
Jadi, apakah No Other Choice layak menjadi wakil Korea Selatan di Oscar? Tentu saja. Film ini adalah pengingat keras tentang betapa rapuhnya eksistensi manusia di tengah arus perubahan. Siap-siap gelisah setelah menontonnya!


















