Aktor legendaris Robert De Niro kembali menyuarakan perlawanan keras terhadap Presiden Donald Trump. Dalam sebuah wawancara eksklusif, De Niro secara terang-terangan mendorong jutaan warga Amerika Serikat untuk terus berdemonstrasi, bahkan menyerukan perlawanan "yang jauh lebih besar" dalam aksi "No Kings" yang baru saja mengguncang AS.
Aksi masif yang berlangsung pada Sabtu (18/10) ini menjadi panggung bagi De Niro untuk menyampaikan pesan tegasnya. Ia meyakini bahwa hanya dengan perlawanan yang gigih, para politisi akan mulai mengakui suara rakyat. "Kita tidak boleh menyerah," tegasnya, menyoroti urgensi situasi politik yang tengah memanas.
De Niro: “Trump Tak Akan Tinggalkan Gedung Putih!”
Pernyataan De Niro yang paling mencengangkan adalah prediksinya mengenai masa depan politik Trump. "Dia tidak akan meninggalkan Gedung Putih. Dia tidak ingin meninggalkan Gedung Putih. Dia tidak akan meninggalkan Gedung Putih," ucap De Niro, mengulang kalimat tersebut dengan penuh penekanan.
Menurutnya, siapa pun yang berpikir Trump akan bertindak sebaliknya hanya sedang menipu diri sendiri. De Niro melihat situasi ini sebagai pertarungan melawan perundungan, di mana satu-satunya cara untuk menang adalah dengan menghadapi dan melawannya secara langsung. "Anda harus menghadapinya dan melawannya, lalu buat mereka mundur dan mundur. Itulah satu-satunya cara agar ini berhasil," jelasnya.
“No Kings”: Perlawanan Terhadap Raja Donald Pertama
Gerakan "No Kings" sendiri bukanlah sekadar protes biasa. Sineas berusia 82 tahun ini adalah salah satu pendukung paling vokal gerakan yang menentang kebijakan Trump yang dianggap sewenang-wenang dan tidak berpihak pada rakyat. De Niro bahkan muncul dalam sebuah video yang diunggah kelompok aktivis politik, mengajak masyarakat untuk ikut serta.
Dalam video tersebut, De Niro mengingatkan kembali sejarah Amerika Serikat 250 tahun silam, ketika rakyat memutuskan untuk tidak hidup di bawah kekuasaan Raja George III. Mereka mendeklarasikan kemerdekaan dan berjuang demi demokrasi. "Kita telah menjalani demokrasi selama dua setengah abad sejak saat itu. Seringkali menantang, terkadang berantakan, namun selalu penting," ujarnya.
Kini, ia melihat ancaman serupa datang dari "Raja Donald yang Pertama." Dengan nada tegas, De Niro menyatakan, "Persetan. Kita bangkit lagi, kali ini, tanpa kekerasan menyuarakan deklarasi: No Kings." Seruan ini bukan hanya sekadar slogan, melainkan panggilan untuk mempertahankan nilai-nilai demokrasi yang fundamental.
Jutaan Warga AS Turun ke Jalan, Sejarah Terulang?
Penyelenggara demonstrasi "No Kings" melaporkan bahwa hampir tujuh juta warga AS mengikuti aksi protes ini. Angka fantastis ini menunjukkan betapa dalamnya kekecewaan dan keresahan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump. Protes ini tersebar di lebih dari 2.700 lokasi, mulai dari kota-kota besar hingga kota-kota kecil di seluruh Amerika Serikat.
Jumlah massa yang turun ke jalan kali ini bahkan lebih besar dua juta orang dibandingkan aksi serupa yang digelar pada Juni 2025. Ini menandakan peningkatan signifikan dalam mobilisasi masyarakat dan menggarisbawahi intensitas sentimen anti-Trump yang terus membesar.
Protes Damai, Pesan Jelas
Meskipun melibatkan jutaan orang, polisi melaporkan bahwa demonstrasi yang meluas ini sebagian besar berlangsung secara damai. Banyak kota besar melaporkan tidak ada insiden serius atau penangkapan yang terkait dengan protes tersebut. Ini menunjukkan kedewasaan para demonstran dalam menyampaikan aspirasi mereka tanpa kekerasan.
Para pengunjuk rasa yang diwawancarai oleh CNN mengungkapkan berbagai alasan mereka turun ke jalan. Penggerebekan oleh petugas imigrasi, pemotongan Medicaid (program BPJS Kesehatan ala AS), dan kebijakan-kebijakan Trump lainnya menjadi topik utama yang memicu kemarahan publik. Kebijakan imigrasi yang keras, khususnya, menjadi sorotan tajam di kota-kota yang menjadi target penindakan.
De Niro: Sosok Konsisten Penentang Trump
Bagi Robert De Niro, penentangan terhadap Donald Trump bukanlah hal baru. Ia dikenal sebagai salah satu selebriti Hollywood yang paling vokal dan konsisten dalam mengkritik Trump sejak awal masa kepresidenannya. Pernyataan-pernyataan pedasnya seringkali menjadi berita utama dan memicu perdebatan sengit di media sosial.
Sikapnya yang tidak sungkan untuk menyuarakan ketidakpuasan, bahkan dengan kata-kata yang blak-blakan, telah menjadikannya ikon perlawanan bagi sebagian besar warga Amerika yang tidak setuju dengan kebijakan dan gaya kepemimpinan Trump. Kehadirannya dalam gerakan "No Kings" menambah bobot dan perhatian publik terhadap protes ini.
Apa Artinya Bagi Demokrasi Amerika?
Aksi "No Kings" dengan jutaan peserta dan dukungan dari tokoh sekaliber Robert De Niro, mengirimkan pesan yang sangat kuat. Ini bukan hanya tentang ketidakpuasan terhadap seorang presiden, melainkan tentang pertarungan fundamental untuk nilai-nilai demokrasi yang diyakini terancam.
Perlawanan yang diserukan De Niro dan jutaan warga AS ini mencerminkan kekhawatiran mendalam akan arah negara. Apakah perlawanan ini akan cukup untuk mengubah arah politik Amerika? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: suara rakyat telah menggema, dan mereka tidak akan menyerah begitu saja.


















