Gelombang protes besar-besaran kembali mengguncang Amerika Serikat. Jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk "No Kings" pada Sabtu (18/10/2025), menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan Presiden Donald Trump. Uniknya, gerakan massa ini mendapat dukungan penuh dari sejumlah artis papan atas Hollywood, menambah daya gedor protes yang semakin memanas.
Aksi "No Kings" kali ini disebut-sebut sebagai demonstrasi terbesar yang pernah terjadi, bahkan melampaui skala protes serupa pada Juni 2025. Dengan hampir tujuh juta orang berpartisipasi di lebih dari 2.700 lokasi di seluruh negeri, Amerika benar-benar bergejolak, mengirimkan pesan tegas kepada Gedung Putih.
Hollywood Ikut Bersuara: Para Bintang Tak Tinggal Diam
Ketika jutaan suara rakyat bergema di jalanan, para selebriti Hollywood tak tinggal diam. Mereka memanfaatkan platform mereka untuk memperkuat pesan "No Kings," menunjukkan bahwa isu ini bukan hanya milik aktivis, tetapi juga menjadi perhatian serius di kalangan elite hiburan. Dukungan mereka memberikan dimensi baru pada gerakan ini, menarik perhatian global.
Para aktor dan komedian ternama ini tak hanya sekadar ikut-ikutan. Mereka secara aktif menyuarakan pandangan, mengkritik kebijakan, dan bahkan menciptakan narasi tandingan yang menggelitik. Kehadiran mereka seolah menjadi megaphone raksasa, memastikan bahwa suara jutaan warga Amerika terdengar lebih lantang.
Mark Ruffalo: Sang Hulk Bersuara untuk Rakyat
Mark Ruffalo, aktor yang dikenal vokal dalam isu-isu sosial dan lingkungan, kembali menunjukkan dukungannya. Seperti beberapa bulan sebelumnya, pemeran Hulk ini tak ragu menyuarakan solidaritasnya untuk demonstrasi "No Kings" yang masif. Ia melihat gelombang protes ini sebagai manifestasi cinta rakyat terhadap negaranya.
Melalui unggahan di Threads pribadinya, Ruffalo mengomentari berita yang meliput aksi di berbagai kota seperti Gainesville, Florida, Minneapolis, Philadelphia, dan New York City. Dengan singkat namun penuh makna, ia menulis, "Luar biasa. Begitu banyak orang mencintai AS dan menginginkan NOKINGs." Sebuah pernyataan yang jelas tentang aspirasi rakyat.
Jimmy Kimmel: Sindiran Pedas Lewat Julukan Kreatif
Komedian dan pembawa acara Jimmy Kimmel, yang memang dikenal sering berseteru dengan Presiden Trump, mengambil pendekatan yang lebih satir. Ia mengunggah sebuah infografis di Instagram yang berisi berbagai julukan unik dan menggelitik yang bisa digunakan demonstran untuk Trump di poster-poster mereka. Kimmel tahu betul bagaimana memprovokasi dengan cerdas.
Julukan-julukan tersebut tak hanya lucu, tetapi juga menyindir tajam karakter dan kebijakan Trump. Mulai dari "Commander-in-Theif" (Komandan Pencuri), "Greedy McGolfy" (Si Tukang Golf Rakus), "Mar-a-Lardo" (merujuk pada Mar-a-Lago dan lemak punggung babi), "Orange Julius Caesar" (Julius Caesar Muka Oranye), hingga "Uncle Scam" (Paman Penipu). Kimmel menambahkan, "Saat Anda membuat poster #NoKings, ingatlah… Donald Trump SANGAT SUKA julukan yang bagus," sebuah kalimat yang penuh ironi.
Robert De Niro: Aktor Legendaris Ingatkan Sejarah
Aktor legendaris Robert De Niro tampil dalam sebuah video yang diunggah oleh kelompok aktivis politik, mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam aksi "No Kings." De Niro, dengan karismanya yang kuat, membawa narasi sejarah untuk memperkuat pesan protes. Ia mengingatkan bahwa perjuangan melawan "raja" bukanlah hal baru bagi Amerika.
Dalam video yang dirilis pada 9 Oktober 2025 itu, De Niro berkata, "Protes No Kings yang asli terjadi 250 tahun yang lalu. Rakyat Amerika memutuskan bahwa mereka tidak ingin hidup di bawah kekuasaan Raja George III." Ia melanjutkan, "Mereka mendeklarasikan kemerdekaan dan berjuang dalam perang berdarah demi demokrasi. Kita telah menjalani demokrasi selama dua setengah abad sejak saat itu. Seringkali menantang, terkadang berantakan, namun selalu penting."
De Niro kemudian menarik garis lurus ke situasi saat ini, dengan tegas menyatakan, "Sekarang kita memiliki calon raja yang ingin merebutnya: Raja Donald yang Pertama. Persetan. Kita bangkit lagi, kali ini, tanpa kekerasan menyuarakan deklarasi: No Kings." Pesan De Niro sangat jelas: Amerika tidak akan tunduk pada penguasa yang bertindak layaknya raja.
Mengapa ‘No Kings’? Isu-isu yang Membakar Amarah Warga
Aksi "No Kings" bukan sekadar protes kosong. Ada sejumlah isu krusial yang menjadi pemicu kemarahan jutaan warga Amerika. Para demonstran membawa berbagai tuntutan, mencerminkan kekhawatiran mendalam terhadap arah kebijakan pemerintahan Trump. Ini adalah suara rakyat yang merasa hak-hak dan kesejahteraan mereka terancam.
Salah satu isu utama adalah penggerebekan imigran oleh petugas imigrasi. Kebijakan keras ini telah menyebabkan perpecahan keluarga, ketakutan di komunitas imigran, dan pelanggaran hak asasi manusia yang meluas. Bagi banyak warga, tindakan ini bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan yang dijunjung tinggi Amerika.
Selain itu, pemangkasan program federal untuk masyarakat kelas bawah juga menjadi sorotan tajam. Pemotongan anggaran untuk program-program vital seperti Medicaid (BPJS Kesehatan ala AS) berarti akses kesehatan yang lebih sulit bagi jutaan warga miskin dan rentan. Kebijakan ini dianggap semakin memperlebar jurang kesenjangan sosial dan ekonomi, membuat hidup kelompok marginal semakin sulit.
Para pengunjuk rasa juga menyoroti berbagai kebijakan Trump lainnya yang dianggap otoriter atau merugikan. Sentimen "No Kings" secara simbolis menolak gaya kepemimpinan yang dianggap terlalu dominan dan tidak menghargai checks and balances dalam sistem demokrasi. Mereka menginginkan pemimpin yang melayani rakyat, bukan memerintah layaknya raja.
Dampak dan Respon: Jutaan Suara, Satu Tujuan
Aksi protes yang melibatkan hampir tujuh juta warga AS ini tersebar di berbagai kota besar dan kecil, mencakup lebih dari 2.700 lokasi di seluruh Amerika Serikat. Skala yang masif ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintahan Trump bukan hanya fenomena di kota-kota liberal, tetapi telah merata di seluruh penjuru negeri.
Meskipun melibatkan jutaan orang, pihak kepolisian melaporkan bahwa demonstrasi yang meluas ini sebagian besar berlangsung secara damai. Banyak kota besar melaporkan tidak ada insiden serius atau penangkapan terkait protes tersebut. Ini menunjukkan kematangan para demonstran dalam menyuarakan aspirasi mereka tanpa kekerasan.
Melalui aksi "No Kings," jutaan warga Amerika, didukung oleh para selebriti berpengaruh, telah mengirimkan pesan yang sangat jelas kepada Presiden Donald Trump dan seluruh dunia. Mereka menuntut perubahan, keadilan, dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip demokrasi. Ini adalah bukti bahwa kekuatan rakyat, ketika bersatu, mampu mengguncang panggung politik dan menuntut pertanggungjawaban dari para pemimpinnya.


















