Dunia hiburan Hollywood kembali dihebohkan dengan drama hukum yang melibatkan nama besar. Aktris papan atas, Blake Lively, melayangkan gugatan fantastis. Ia mengklaim mengalami kerugian hingga US$161 juta atau setara dengan Rp2,6 triliun (kurs US$1=Rp16.668) akibat kampanye hitam yang menyerangnya.
Kerugian besar ini disebut-sebut berkaitan erat dengan produksi film terbarunya, "It Ends With Us." Dokumen pengadilan yang diajukan oleh tim Lively pada Juli 2025 dan baru-baru ini dibuka ke publik, mengungkap detail klaim yang mengejutkan tersebut. Laporan ini pertama kali diungkap oleh The New York Post pada Jumat (7/11).
Kerugian Fantastis: Karier Hingga Bisnis Terancam
Dalam dokumen tersebut, pengacara Blake Lively membeberkan secara rinci bagaimana kampanye hitam ini menghantam kliennya dari berbagai sisi. Lively disebut kehilangan US$56,2 juta dari pendapatan di masa lalu dan peluang pendapatan di masa depan. Angka ini mencakup honor akting, menjadi bintang tamu, dan berbagai kontrak iklan.
Tak hanya itu, bisnis-bisnis yang digeluti Lively juga ikut terdampak parah. Bisnis perawatan rambutnya, Blake Brown, diklaim merugi hingga US$49 juta. Sementara itu, lini bisnis minumannya, Betty Buzz/Betty Booze, juga mengalami kerugian sebesar US$22 juta.
Yang tak kalah krusial adalah kerugian reputasi. Lively menyebut kehilangan US$34 juta dari aspek reputasinya yang tercoreng akibat serangan ini. Total kerugian yang mencapai US$161 juta membuat tim Lively menuntut ganti rugi punitif setidaknya tiga kali lipat dari jumlah tersebut.
Awal Mula Drama: Tuduhan Pelecehan Seksual dan Balas Dendam
Pusaran drama hukum ini bermula pada Desember 2024. Saat itu, Blake Lively secara terbuka menuding lawan main sekaligus sutradaranya di "It Ends With Us," Justin Baldoni, dengan tuduhan pelecehan seksual dan aksi balas dendam. Lively mengklaim bahwa Baldoni melakukan pelecehan seksual terhadapnya.
Tuduhan ini semakin memanas ketika Lively menyebut Baldoni melancarkan kampanye di media sosial. Kampanye tersebut bertujuan merusak reputasinya, dibantu oleh para produser "It Ends With Us." Semua ini, menurut Lively, terjadi setelah ia mengeluhkan kondisi yang tidak nyaman di lokasi syuting.
Baldoni Tak Tinggal Diam, Balas Menggugat dengan Tuduhan Konspirasi
Justin Baldoni, yang merasa tidak terima dengan tuduhan Lively, segera mengambil tindakan hukum. Ia melayangkan gugatan balik terhadap Blake Lively. Namun, gugatan Baldoni tidak berhenti di situ.
Secara mengejutkan, Baldoni juga menuduh The New York Times, suami Lively, Ryan Reynolds, dan publisis mereka berkonspirasi. Ia mengklaim mereka bersekongkol untuk menghancurkan kariernya dengan tudingan palsu. Kasus ini pun semakin melebar dan melibatkan lebih banyak pihak.
Daftar Saksi Bintang Lima yang Bikin Geger
Dalam dokumen pengadilan yang diajukan tim Lively, terungkap daftar lebih dari 100 orang yang disebut sebagai saksi potensial dalam gugatannya. Daftar ini sontak membuat publik terkejut karena bertabur nama-nama besar di Hollywood.
Beberapa nama yang mencuat antara lain suami Lively sendiri, Ryan Reynolds, penyanyi pop fenomenal Taylor Swift, aktor senior Hugh Jackman, aktris Emily Blunt, supermodel Gigi Hadid, serta trio band HAIM: Este, Danielle, dan Alan Haim. Selain itu, ada juga penulis novel "It Ends With Us," Colleen Hoover, aktris dalam film itu Jenny Slate dan Isabela Ferrer, serta lawan main Lively dalam "The Sisterhood of the Traveling Pants": Alexis Bledel, Amber Tamblyn, dan America Ferrera.
Peran Para Selebriti dalam Gugatan dan Nasib Taylor Swift
Seorang sumber yang dekat dengan kasus ini menjelaskan kepada People, seperti diberitakan The New York Post, bahwa daftar ini bukanlah daftar baru. "Ini untuk pengungkapan," kata sumber tersebut. "Ini adalah bagian dasar dari proses pengungkapan. Mereka bukan saksi."
Sumber tersebut menambahkan bahwa kelompok yang terdaftar sebagai saksi potensial kemungkinan memiliki informasi yang dapat ditemukan. Informasi ini bisa mereka gunakan untuk mendukung klaim atau pembelaan mereka dalam masalah ini. Ini berarti mereka mungkin memiliki pengetahuan atau pengalaman yang relevan dengan kasus tersebut.
Menariknya, nasib beberapa nama di daftar tersebut sudah mulai terkuak. Colleen Hoover, Jenny Slate, dan Isabela Ferrer semuanya telah dimintai keterangan (dicabut). Sementara itu, Taylor Swift sebelumnya sempat dipanggil oleh tim Baldoni dalam kasus ini. Namun, pemanggilan tersebut dibatalkan pada Mei 2025 setelah Swift mengaku tidak terlibat dalam pembuatan film "It Ends With Us."
"It Ends With Us": Film yang Penuh Kontroversi Bahkan Sebelum Rilis
Film "It Ends With Us" sendiri merupakan adaptasi dari novel terlaris karya Colleen Hoover. Kisah yang sangat dinantikan ini kini justru diselimuti oleh kontroversi hukum yang mendalam. Drama di balik layar ini tentu saja menjadi sorotan utama, bahkan mungkin lebih dari filmnya sendiri.
Pihak The New York Post sendiri telah menghubungi perwakilan Blake Lively dan Justin Baldoni untuk meminta komentar terkait kabar ini. Namun, belum ada tanggapan resmi yang diberikan. Publik pun menantikan perkembangan lebih lanjut dari kasus yang semakin memanas ini.
Jadwal Persidangan dan Antisipasi Publik
Persidangan gugatan Blake Lively terhadap Justin Baldoni diperkirakan akan dimulai pada 9 Maret 2026. Gugatan ini diajukan Lively pada 31 Desember 2023, dengan tuduhan pelecehan seksual dan aksi balas dendam. Tanggal tersebut menandai babak baru dalam pertarungan hukum yang panjang dan rumit ini.
Dengan melibatkan nama-nama besar Hollywood dan klaim kerugian yang fantastis, kasus ini dipastikan akan terus menjadi sorotan. Publik menantikan bagaimana drama hukum ini akan berakhir, dan siapa yang pada akhirnya akan keluar sebagai pemenang dalam pertarungan triliunan rupiah ini.


















