Acha Septriasa, aktris berbakat yang kini menetap di Australia, baru-baru ini membuka lembaran baru dalam kehidupannya pasca-perceraian. Ia membagikan secara gamblang bagaimana dirinya dan mantan suami, Vicky Kharisma, bahu-membahu dalam mengasuh buah hati semata wayang mereka, Bridgia. Konsep co-parenting yang mereka jalani bukan sekadar pembagian waktu, melainkan sebuah komitmen mendalam untuk memastikan tumbuh kembang Brigia tetap optimal, tanpa kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Dalam sebuah kesempatan, Acha mengungkapkan detail perjalanan co-parenting yang ia jalani. Ia menyebut, dirinya dan Vicky saling bergantian menghabiskan waktu dengan Brigia, terutama bila salah satu pihak memiliki kegiatan penting atau tuntutan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Ini menunjukkan kematangan dan rasa tanggung jawab yang tinggi dari kedua belah pihak demi kebahagiaan sang anak.
Pembagian Waktu yang Fleksibel: Kunci Co-Parenting Sukses
Acha menjelaskan bahwa pembagian waktu asuh ini dilakukan secara terstruktur, namun tetap fleksibel. "Karena co-parenting, jadinya saya kemarin jaga Brigia 11 minggu 5 hari. Sampai saya hitungin lho," kata Acha dengan nada ceria, seperti diberitakan detikHot. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari dedikasi seorang ibu yang ingin selalu dekat dengan anaknya.
Setelah giliran Acha, Vicky mengambil alih peran pengasuhan. "Terus Vicky jaga, ketika saya promo (film) ini Vicky jaga Brigia 7 minggu. Pokoknya itulah perbandingannya masih 60-40," tambahnya. Pembagian 60-40 ini menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan durasi, esensinya adalah kedua orang tua sama-sama hadir dan terlibat aktif dalam kehidupan Brigia.
Dua Dunia Acha: Aktris Total dan Ibu Sepenuh Hati
Perjalanan Acha yang sering bolak-balik antara Australia dan Indonesia juga menjadi faktor penentu dalam skema co-parenting ini. Ketika berada di Australia, Acha bisa mencurahkan waktu sepenuhnya untuk Brigia, menikmati momen-momen kebersamaan tanpa distraksi. Ia bisa fokus menjadi seorang ibu, mendampingi Brigia dalam kesehariannya.
Sebaliknya, saat berada di Indonesia, Acha bisa total menjadi seorang aktris. Jadwal syuting dan promosi film yang padat menuntut konsentrasi penuh. Di sinilah peran Vicky menjadi sangat krusial, memastikan Brigia tetap terurus dengan baik dan merasakan kehadiran orang tua. Keseimbangan ini memungkinkan Acha untuk tetap berkarya tanpa mengorbankan perannya sebagai ibu.
Brigia: Sang Anak yang Lebih Dewasa dari Orang Tua
Salah satu faktor terbesar yang membuat co-parenting Acha dan Vicky berjalan mulus adalah kedewasaan Brigia. Acha mengakui bahwa anaknya menunjukkan sikap yang sangat matang dalam menghadapi situasi orang tuanya yang sudah tak lagi bersama. Ini adalah anugerah tak ternilai bagi Acha dan Vicky.
"Brigia dewasa sekali, Alhamdulillah. Jadi dia sangat menerima dan dia justru lebih dewasa dari kita-kita kadang-kadang," puji Acha. Kedewasaan Brigia bukan hanya memudahkan orang tuanya, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi Acha dan Vicky tentang penerimaan dan adaptasi. Anak-anak seringkali memiliki kekuatan batin yang luar biasa untuk memahami dan menerima perubahan dalam hidup mereka.
Pillow Talk: Ritual Wajib untuk Ikatan Emosional
Meskipun Brigia menunjukkan kedewasaan, ada satu hal yang tak bisa dilewatkan Acha dengan anaknya, yakni ritual pillow talk atau berbincang sebelum tidur. Momen intim ini menjadi jembatan komunikasi yang sangat penting antara ibu dan anak. Di sinilah Brigia bisa mengungkapkan segala isi hatinya tanpa ragu.
"Jadi sebelum tidur saya selalu ada pillow talk sama anak saya. Apapun yang dia ingin ungkapin, saya selalu dengerin," jelas Acha. Ritual ini menciptakan ruang aman bagi Brigia untuk berbagi cerita, keluh kesah, atau bahkan impiannya. Ini adalah fondasi kuat untuk membangun ikatan emosional yang mendalam dan memastikan Brigia merasa didengar dan dicintai.
Kilas Balik Perceraian Acha Septriasa dan Vicky Kharisma
Perjalanan co-parenting ini dimulai setelah Acha Septriasa dan Vicky Kharisma resmi bercerai. Status pernikahan mereka dikonfirmasi berakhir pada 19 Mei 2025, mengacu pada putusan Pengadilan Agama (PA) Jakarta Pusat. Tanggal ini mungkin mengejutkan banyak pihak, mengingat Acha dan Vicky kerap membagikan momen kebersamaan mereka di media sosial.
Putusan dengan nomor 1619/Pdt.G/2024/PAJP itu menyatakan gugatan cerai Acha Septriasa terhadap Vicky Kharisma dikabulkan secara verstek. Istilah verstek berarti putusan dijatuhkan tanpa kehadiran tergugat, dalam hal ini Vicky, setelah dipanggil secara resmi dan patut di persidangan. Ini menunjukkan bahwa proses perceraian berjalan tanpa hambatan berarti di pengadilan.
Perceraian ini berjarak nyaris sembilan tahun sejak Acha Septriasa dan Vicky Kharisma menikah pada 12 November 2016. Pernikahan mereka kala itu digelar mewah di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, dihadiri oleh keluarga dan rekan-rekan selebriti. Setahun setelah menikah, mereka dikaruniai anak pertama yang berjenis kelamin perempuan, Brigia.
Pelajaran Berharga dari Co-Parenting Acha Septriasa
Kisah Acha Septriasa dan Vicky Kharisma dalam menjalani co-parenting memberikan banyak pelajaran berharga. Ini menunjukkan bahwa meskipun sebuah pernikahan berakhir, hubungan sebagai orang tua tidak harus ikut selesai. Dengan komunikasi yang baik, komitmen, dan fokus pada kebahagiaan anak, co-parenting bisa menjadi solusi yang efektif.
Kedewasaan Brigia juga menjadi pengingat bahwa anak-anak seringkali lebih tangguh dari yang kita kira. Memberikan mereka ruang untuk berekspresi dan mendengarkan suara hati mereka adalah kunci untuk membantu mereka beradaptasi dengan perubahan. Acha Septriasa membuktikan bahwa dengan cinta dan dedikasi, keluarga bisa tetap utuh dalam bentuk yang berbeda, demi masa depan buah hati tercinta.


















