Gelombang protes masif melanda Amerika Serikat pada Sabtu (18/10) 2025, dengan jutaan warga turun ke jalan menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap Presiden Donald Trump. Aksi bertajuk "No Kings" ini tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga mendapat dukungan penuh dari sejumlah selebriti papan atas Hollywood. Mereka bersatu, menggunakan platform dan pengaruhnya untuk memperkuat suara rakyat yang menuntut perubahan.
Demonstrasi "No Kings" kali ini tercatat jauh lebih besar dibandingkan aksi serupa pada Juni 2025, menandakan peningkatan signifikan dalam mobilisasi massa. Isu-isu krusial menjadi pemicu utama kemarahan publik, mulai dari penggerebekan imigran yang kontroversial hingga pemangkasan program federal yang vital bagi masyarakat kelas bawah. Ini adalah cerminan dari kegelisahan mendalam yang dirasakan jutaan warga Amerika.
Gelombang ‘No Kings’: Jutaan Warga AS Bersatu Melawan Kebijakan Trump
Pada akhir pekan lalu, Amerika Serikat menyaksikan salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarahnya, dengan hampir tujuh juta warga turun ke jalan dalam aksi "No Kings". Protes ini tersebar luas di lebih dari 2.700 lokasi, mencakup berbagai kota besar dan kecil di seluruh negeri. Angka partisipasi yang fantastis ini, dua juta lebih banyak dari aksi Juni 2025, menunjukkan skala ketidakpuasan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Meskipun melibatkan jutaan orang, aksi ini sebagian besar berlangsung damai, dengan banyak kota besar melaporkan minimnya insiden atau penangkapan. Ini membuktikan bahwa kekuatan suara rakyat dapat disampaikan secara efektif tanpa kekerasan. Para pengunjuk rasa menyampaikan beragam keluhan, namun fokus utama tetap pada kebijakan-kebijakan kontroversial Presiden Trump.
Isu-isu seperti penggerebekan imigran oleh petugas imigrasi dan pemotongan anggaran untuk program Medicaid, yang setara dengan BPJS Kesehatan di AS, menjadi sorotan utama. Kebijakan-kebijakan ini dianggap merugikan masyarakat rentan dan memicu kemarahan luas. Melalui aksi "No Kings", warga AS menegaskan bahwa kekuasaan sejati ada di tangan rakyat, bukan seorang "raja".
Mark Ruffalo: Sang Hulk Ikut Bersuara, Dukung Penuh Aksi Rakyat
Aktor kawakan Mark Ruffalo, yang dikenal luas sebagai pemeran Hulk dalam semesta Marvel, tidak ketinggalan menyuarakan dukungannya untuk demonstrasi "No Kings". Ini bukan kali pertama Ruffalo terlibat dalam aktivisme politik; ia memang dikenal vokal dalam menyuarakan isu-isu sosial dan lingkungan. Dukungannya beberapa bulan lalu terhadap gerakan serupa kini kembali ditegaskan.
Melalui unggahan di platform Threads, Ruffalo secara terbuka mengomentari berita yang meliput demonstrasi "No Kings" di berbagai kota seperti Gainesville, Florida, Minneapolis, Philadelphia, dan New York City. Ia menyampaikan apresiasinya yang mendalam terhadap semangat perlawanan rakyat. "Luar biasa," tulisnya singkat namun penuh makna.
Ruffalo melanjutkan, "Begitu banyak orang mencintai AS dan menginginkan NOKINGs." Pernyataan ini menegaskan pandangannya bahwa gerakan ini adalah ekspresi cinta terhadap Amerika Serikat dan keinginan untuk mempertahankan nilai-nilai demokrasi yang diyakini. Kehadiran suara selebriti seperti Ruffalo tentu memberikan dorongan moral yang signifikan bagi para demonstran.
Jimmy Kimmel: Daftar Julukan ‘Nyeleneh’ untuk Trump Bikin Heboh Medsos
Komedian dan pembawa acara Jimmy Kimmel, yang sempat berseteru sengit dengan Presiden Trump di masa lalu, turut meramaikan dukungan untuk aksi "No Kings" dengan caranya yang unik. Kimmel mengunggah sebuah infografis di akun Instagram-nya yang sontak menjadi viral. Infografis tersebut berisi berbagai julukan kreatif dan pedas yang bisa digunakan demonstran untuk Trump di poster-poster mereka.
Julukan-julukan tersebut dirancang untuk mengolok-olok Trump dengan gaya satir khas Kimmel. Beberapa di antaranya adalah "Commander-in-Theif" (plesetan dari Commander-in-Chief, berarti Komandan Pencuri), "Greedy McGolfy" (Si Tukang Golf Rakus, merujuk pada kegemaran Trump bermain golf), dan "Mar-a-Lardo" (plesetan dari Mar-a-Lago, kediaman Trump, yang juga berarti Mar si Lemak Punggung Babi).
Tidak hanya itu, ada juga "Orange Julius Caesar" (Julius Caesar Muka Oranye, merujuk pada warna kulit Trump yang khas) dan "Uncle Scam" (plesetan dari Uncle Sam, berarti Paman Penipu). Dalam unggahannya, Kimmel menulis, "Saat Anda membuat poster #NoKings, ingatlah… Donald Trump SANGAT SUKA julukan yang bagus." Pesan ini jelas merupakan sindiran tajam yang mengajak para demonstran untuk berkreasi dalam mengkritik.
Robert De Niro: Aktor Legendaris Ingatkan Bahaya ‘Raja Donald yang Pertama’
Sebelum aksi besar pada 18 Oktober 2025, aktor legendaris Robert De Niro telah lebih dulu muncul dalam sebuah video yang diunggah oleh kelompok aktivis politik pada 9 Oktober 2025. Dalam video tersebut, De Niro memberikan pidato yang kuat dan berapi-api, mengajak seluruh warga Amerika untuk bergabung dalam aksi "No Kings". Pesannya begitu lugas dan menggugah, langsung menyentuh inti permasalahan.
De Niro membuka pidatonya dengan mengingatkan sejarah panjang Amerika Serikat. "Protes No Kings yang asli terjadi 250 tahun yang lalu," katanya, merujuk pada Revolusi Amerika. "Rakyat Amerika memutuskan bahwa mereka tidak ingin hidup di bawah kekuasaan Raja George III." Ia menekankan bagaimana para pendiri bangsa berjuang dalam perang berdarah demi demokrasi, sebuah nilai yang telah dijaga selama dua setengah abad.
Namun, De Niro memperingatkan, demokrasi itu kini terancam. "Sekarang kita memiliki calon raja yang ingin merebutnya: Raja Donald yang Pertama," ujarnya dengan nada tegas, secara implisit menyamakan Trump dengan seorang penguasa tiran. Dengan emosi yang membara, ia melanjutkan, "Persetan. Kita bangkit lagi, kali ini, tanpa kekerasan menyuarakan deklarasi: No Kings." Pidatonya menjadi seruan moral yang kuat bagi jutaan orang.
Mengapa Aksi ‘No Kings’ Begitu Penting? Isu yang Menggerakkan Jutaan
Aksi "No Kings" bukan sekadar demonstrasi biasa; ia adalah manifestasi dari ketidakpuasan mendalam terhadap arah kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Trump. Jutaan warga Amerika merasa hak-hak mereka terancam dan suara mereka diabaikan. Isu-isu yang diangkat para demonstran mencerminkan kekhawatiran serius tentang masa depan negara.
Salah satu poin utama adalah penggerebekan imigran yang dilakukan oleh petugas imigrasi. Kebijakan ini seringkali dianggap tidak manusiawi dan memecah belah keluarga, memicu gelombang kemarahan dari komunitas imigran dan para pendukung hak asasi manusia. Banyak yang melihatnya sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.
Selain itu, pemotongan program federal untuk masyarakat kelas bawah, khususnya Medicaid, menjadi pemicu kemarahan lainnya. Medicaid adalah jaring pengaman kesehatan bagi jutaan warga miskin dan rentan di AS. Pemangkasan anggaran ini dikhawatirkan akan menghilangkan akses kesehatan bagi mereka yang paling membutuhkan, memperlebar jurang kesenjangan sosial dan ekonomi.
Kekuatan Suara Rakyat dan Pengaruh Selebriti di Era Digital
Skala dan dampak aksi "No Kings" menunjukkan kekuatan luar biasa dari suara rakyat ketika bersatu. Jutaan orang, dari berbagai latar belakang, berhasil berkumpul dan menyampaikan pesan mereka secara damai namun tegas. Ini adalah bukti nyata bahwa demokrasi masih hidup dan rakyat memiliki kekuatan untuk menuntut pertanggungjawaban dari para pemimpin mereka.
Peran selebriti dalam gerakan ini juga tidak bisa diremehkan. Dengan jutaan pengikut di media sosial, dukungan dari Mark Ruffalo, Jimmy Kimmel, dan Robert De Niro berhasil memperluas jangkauan pesan "No Kings" ke audiens yang lebih luas. Mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga membantu memobilisasi massa dan menarik perhatian media global.
Di era digital ini, platform seperti Threads, Instagram, dan TikTok menjadi medan perang informasi yang efektif. Video De Niro yang viral atau infografis Kimmel yang jenaka berhasil menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam, menginspirasi mereka untuk bergabung dalam protes. Ini menunjukkan bagaimana teknologi telah mengubah cara gerakan sosial diorganisir dan disebarkan, menjadikan suara individu dan kolektif semakin kuat.
Aksi "No Kings" pada 18 Oktober 2025 menjadi pengingat penting bahwa di negara demokrasi, tidak ada raja yang berkuasa mutlak. Rakyatlah pemegang kedaulatan tertinggi, dan mereka tidak akan ragu untuk bangkit dan menyuarakan ketidakpuasan mereka ketika merasa hak-hak mereka terancam. Dukungan dari bintang-bintang Hollywood hanya menambah resonansi gerakan ini, memastikan pesannya terdengar jelas di seluruh dunia.


















