Dunia perfilman kembali dihebohkan dengan sebuah keputusan mengejutkan dari Prancis. Film berjudul It Was Just an Accident, sebuah karya sinema yang penuh kontroversi dari sutradara kenamaan Jafar Panahi, secara resmi terpilih untuk mewakili Prancis dalam kategori Best International Feature Film di Academy Awards ke-98 atau Piala Oscar 2026. Keputusan ini datang setelah film tersebut berhasil meraih penghargaan tertinggi, Palme d’Or, di Cannes Film Festival 2025.
Pemilihan ini bukan tanpa alasan, meskipun film ini memiliki akar cerita dan sutradara dari Iran. Komite seleksi yang dibentuk oleh Pusat Sinema Nasional Prancis (CNC) telah menunjuk It Was Just an Accident sebagai duta mereka. Komite bergengsi ini beranggotakan para profesional perfilman Prancis, mulai dari produser, sutradara, penulis naskah, hingga aktor ternama.
Mengapa Prancis Memilih Film Ini?
Direktur CNC, Gaetan Bruel, mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian ini. "Setelah memenangkan Palme d’Or di Cannes, It Was Just an Accident kini akan menuju Oscar," ujarnya, seperti diberitakan Deadline pada Rabu (17/9). Ia menambahkan bahwa ini adalah bukti nyata bagaimana Prancis, sebagai negara yang menciptakan sinema 130 tahun lalu, kini menjadi jantung kolaborasi internasional.
Bruel juga menekankan bahwa Prancis adalah tempat yang ramah bagi para kreator dari seluruh dunia. Terutama bagi mereka yang menghadapi hambatan untuk berkarya di negara asalnya, seperti yang dialami oleh Jafar Panahi. Pernyataan ini secara tidak langsung menyoroti situasi politik yang melingkupi sutradara Iran tersebut.
Meskipun Jafar Panahi adalah sutradara Iran dan cerita filmnya berlatar belakang Iran, It Was Just an Accident tidak diakui sebagai wakil negara asalnya. Hal ini disebabkan oleh sikap politik Panahi yang seringkali bertentangan dengan pemerintah Iran. Kondisi ini menciptakan ironi yang mendalam di balik pengiriman film tersebut ke panggung Oscar.
It Was Just an Accident akhirnya dikirim ke Piala Oscar sebagai wakil Prancis karena bernaung di bawah rumah produksi Les Film Pelleas yang berbasis di Paris. Film ini merupakan hasil kolaborasi tiga negara, yaitu Prancis, Iran, dan Luksemburg, menunjukkan kekuatan sinergi internasional dalam industri perfilman. Kolaborasi ini membuktikan bahwa seni tidak mengenal batas geografis atau politik.
Mengalahkan Para Raksasa Sinema Prancis
Keputusan untuk memilih It Was Just an Accident juga semakin menarik perhatian karena film ini berhasil mengalahkan sejumlah karya Prancis yang sangat dijagokan. Beberapa di antaranya adalah Nouvelle Vague dari sutradara ikonis Richard Linklater, yang dikenal dengan gaya penceritaan uniknya. Ada pula A Private Life dari Rebecca Zlotowski, yang sebelumnya telah banyak mendapat pujian.
Tidak hanya itu, film ini juga menyingkirkan The Little Sisters, sebuah karya yang juga berhasil meraih piala di Cannes untuk kategori Best Actress. Kemenangan It Was Just an Accident atas nama Prancis di tengah persaingan ketat ini menunjukkan kualitas dan daya tarik universal yang dimilikinya. Ini sekaligus menegaskan bahwa komite seleksi melihat potensi besar film ini untuk bersinar di panggung global.
Kisah Dramatis di Balik Layar: Perjuangan Jafar Panahi
It Was Just an Accident mengusung cerita yang sangat kuat dan menguras emosi. Film ini berpusat pada sekelompok mantan narapidana yang secara tak terduga bertemu dengan seorang laki-laki. Pria tersebut diduga adalah sipir yang dulu menyiksa mereka selama masa penahanan yang penuh penderitaan.
Pertemuan tak terduga ini memicu dilema moral yang mendalam bagi para mantan narapidana. Mereka dihadapkan pada pilihan sulit: menawan sang laki-laki dan menimbang kemungkinan untuk membalas dendam, atau justru merelakan masa lalu yang kelam dan mencoba untuk memaafkan. Kisah ini menawarkan refleksi tentang trauma, keadilan, dan kemanusiaan.
Film ini menjadi karya terbaru dari Jafar Panahi setelah ia bebas dari penjara di Iran dua tahun lalu. Perjalanan Panahi sendiri adalah sebuah kisah perjuangan yang luar biasa, mengingat ia sebenarnya menghadapi hukuman dilarang membuat film oleh pemerintah Iran selama 14 tahun. Namun, larangan tersebut tidak menghentikan semangatnya untuk terus berkarya secara ilegal, menunjukkan dedikasi dan keberaniannya terhadap seni.
Persaingan Ketat di Kancah Oscar 2026
It Was Just an Accident kini akan bersaing dengan berbagai film unggulan lain yang sudah dikirim oleh setiap negara untuk Piala Oscar 2026. Korea Selatan misalnya, telah mengirimkan film No Other Choice, yang diharapkan mampu menarik perhatian juri. Sementara itu, Jerman diwakili oleh Sound of Falling, sebuah karya yang menjanjikan narasi mendalam.
Dari Asia Tenggara, Thailand mengutus A Useful Ghost, sebuah film yang mungkin akan menawarkan perspektif unik. Norwegia juga tidak mau kalah, mereka mengirimkan film unggulan Sentimental Value karya Joachim Trier, sutradara yang sudah tidak asing lagi di kancah internasional. Jepang pun tak ketinggalan dengan Kokuho, yang siap memukau penonton.
Kawasan Timur Tengah juga menunjukkan taringnya dengan Palestina mengirimkan Palestine 36 dan Tunisia dengan The Voice of Hind Rajab. Kedua film ini diperkirakan akan membawa isu-isu penting dan cerita-cerita yang relevan dari wilayah mereka. Tak ketinggalan, Indonesia juga sudah mengirimkan perwakilannya di Piala Oscar tahun depan, yaitu karya hit Yandy Laurens berjudul Sore: Istri dari Masa Depan, yang diharapkan bisa berbicara banyak di ajang bergengsi ini.
Perjalanan Festival yang Gemilang
Sebelum melenggang ke Oscar, It Was Just an Accident telah menorehkan jejak gemilang di berbagai festival film dunia. Film ini pertama kali tayang perdana di Cannes Film Festival, di mana ia berhasil meraih penghargaan tertinggi Palme d’Or, sebuah pencapaian yang membuktikan kualitas artistiknya. Kemenangan ini sontak menempatkannya sebagai salah satu film paling dibicarakan tahun ini.
Setelah Cannes, film ini melanjutkan perjalanannya dengan menggelar pemutaran di berbagai festival bergengsi lainnya. Sebut saja Locarno, Sydney, hingga Toronto, di mana ia terus mendapatkan apresiasi positif dari kritikus dan penonton. Film ini juga dijadwalkan akan tayang di Jakarta World Cinema 2025, memberikan kesempatan bagi penonton Indonesia untuk menyaksikannya.
Tidak hanya itu, It Was Just an Accident juga akan bertolak ke San Sebastian Film Festival dan New York Film Festival. Perjalanan panjang di berbagai festival ini tidak hanya membangun reputasi film, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai kandidat kuat di ajang Piala Oscar. Ini adalah bukti nyata bahwa sebuah karya seni yang kuat mampu melampaui batas-batas politik dan geografis.
Dengan segala kontroversi, drama di balik layar, dan kualitas sinematik yang tak terbantahkan, It Was Just an Accident siap menjadi sorotan utama di Piala Oscar 2026. Film ini bukan hanya mewakili Prancis, tetapi juga menjadi suara bagi para seniman yang berjuang untuk kebebasan berekspresi di seluruh dunia. Kita tunggu saja apakah film ini mampu mengukir sejarah baru di panggung Hollywood.


















