Kabar mengejutkan datang dari sosok yang selalu ceria dan identik dengan anak-anak, Kak Seto Mulyadi. Pria berusia 74 tahun ini baru-baru ini mengakui dirinya sempat mengalami stroke ringan, sebuah kondisi yang sempat membuatnya kebingungan dan telat disadari. Pengakuan ini tentu saja mengundang perhatian banyak pihak, mengingat Kak Seto dikenal dengan gaya hidupnya yang aktif dan penuh semangat.
Setelah menjalani perawatan di rumah sakit dan kini dalam masa pemulihan, Kak Seto bahkan sudah terlihat kembali beraktivitas. Ia sempat ditemui di Studio FYP Trans 7 di Jakarta Selatan, menunjukkan semangatnya yang tak pernah padam. Namun, di balik senyumnya, tersimpan cerita perjuangan melawan stroke ringan yang menyerang fungsi kognitifnya.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah pengakuan Kak Seto yang merasa "kurang nendang" jika harus berdiam diri terlalu lama. Dokter menyarankan istirahat total selama satu hingga dua bulan, namun jiwa aktifnya sulit menerima anjuran tersebut. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kak Seto dalam proses pemulihannya.
Awal Mula Gejala yang Bikin Bingung
Kak Seto mengisahkan, gejala awal stroke ringan yang ia alami terasa cukup aneh dan tidak biasa. Ia mulai merasakan masalah pada kemampuan berpikirnya, seolah-olah pikirannya melayang dan sulit fokus. Kondisi ini digambarkan Kak Seto sebagai "seperti membayangkan, seperti bingung begitu."
Sayangnya, ia telat menyadari bahwa gejala tersebut adalah pertanda serius. Masa kritis untuk penanganan stroke adalah sekitar 4,5 jam, namun Kak Seto baru memeriksakan diri setelah empat hari merasakan gejala. Keterlambatan ini tentu saja menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang tentang pentingnya respons cepat terhadap gejala kesehatan.
Ia sempat mengabaikan rasa pusing dan linglung yang mulai muncul sejak akhir Oktober lalu. Baru pada beberapa hari kemudian, ketika gejala tak kunjung hilang, Kak Seto memutuskan untuk memeriksakan diri. Momen ini menjadi titik balik penting dalam penanganan kesehatannya.
Setelah menjalani pemeriksaan MRI, barulah diketahui bahwa ia memang mengalami stroke ringan. Kondisi ini mengharuskannya dirawat di rumah sakit selama tiga hingga empat hari, sebelum akhirnya diperbolehkan pulang untuk istirahat di rumah. Pengalaman ini membuka mata Kak Seto akan pentingnya mendengarkan sinyal tubuh.
Diagnosis dan Kondisi Jantung Kak Seto
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Kak Seto menjelaskan secara detail diagnosis yang ia terima. Ia terdiagnosa "Mild Stroke" atau stroke ringan yang secara spesifik menyerang fungsi kognitif, bukan motorik tubuhnya. Ini berarti kemampuan berpikir dan pemahaman yang terpengaruh, bukan gerakan fisik.
Selain stroke ringan, dokter juga menemukan bahwa Kak Seto mengalami Aritmia, yaitu kondisi di mana detak jantung tidak beraturan. Penemuan ini menambah daftar masalah kesehatan yang harus ia tangani. Namun, ada kabar baik di tengah diagnosis tersebut.
Berkat pola hidup sehat yang selama ini ia jalani, kondisi jantung Kak Seto secara keseluruhan tetap dalam keadaan baik. Stroke yang menyerangnya lebih disebabkan oleh faktor kekentalan darah, bukan masalah pada organ jantung itu sendiri. Ini menjadi bukti bahwa gaya hidup sehat memang memberikan perlindungan.
Momen di Rumah Sakit dan Pesan Dokter
Masa perawatan di rumah sakit selama beberapa hari menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Kak Seto. Di sana, ia mendapatkan penanganan intensif dan obat-obatan yang diperlukan untuk mengatasi stroke ringan dan Aritmia. Momen ini juga memberinya kesempatan untuk merenung dan lebih memperhatikan kondisi tubuhnya.
Setelah keluar dari rumah sakit, dokter memberikan pantangan dan anjuran yang cukup ketat. Kak Seto diminta untuk tidak terlalu capek, mengurangi kegiatan, dan yang paling penting, harus istirahat penuh selama satu hingga dua bulan. Anjuran ini bertujuan untuk memastikan pemulihan optimal dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Dalam unggahan Instagramnya pada akhir Oktober lalu, Kak Seto juga merinci kronologi gejala yang ia rasakan. Ia mengaku merasakan pusing dan linglung sejak tanggal 20 Oktober, namun sempat cuek. Baru pada tanggal 23 Oktober, saat rasa pusing tak kunjung hilang, ia memutuskan untuk memeriksakan diri pada tanggal 24 Oktober.
Sulitnya Kak Seto untuk Berdiam Diri
Bagi Kak Seto, anjuran istirahat total dari dokter adalah tantangan terbesar. Ia mengakui bahwa dirinya kurang betah jika harus berdiam diri tanpa kegiatan. "Saya kadang-kadang kalau enggak bergerak, kalau enggak berkegiatan, enggak nendang rasanya," ujarnya, menggambarkan betapa aktifnya jiwa dan raganya.
Sosok yang dikenal sebagai psikolog anak dan aktivis perlindungan anak ini memang selalu energik dan penuh inisiatif. Berdiam diri terlalu lama seolah bertentangan dengan kepribadiannya yang dinamis. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya dedikasi Kak Seto terhadap pekerjaannya dan interaksinya dengan banyak orang.
Meskipun demikian, Kak Seto berusaha untuk tetap mematuhi anjuran dokter sebisa mungkin. Ia mencoba memadukan antara istirahat yang cukup dengan kegiatan ringan yang tidak membebani tubuhnya. "Jadi terus berusaha dipadukanlah antara istirahat, lalu ada kegiatan, istirahat, ada kegiatan begitu," jelasnya.
Terbukti, meski baru saja keluar dari rumah sakit, Kak Seto sudah terlihat kembali berjalan-jalan dan beraktivitas. Kehadirannya di studio Trans 7 menjadi bukti bahwa semangatnya untuk berkarya dan berinteraksi tak bisa dibendung. Ini adalah cerminan dari kegigihan dan optimisme yang selalu ia tunjukkan.
Olahraga Pilihan Pasca-Stroke dan Pentingnya Kesadaran Dini
Untuk sementara waktu, Kak Seto harus menghindari olahraga yang sifatnya pertandingan atau aktivitas berat yang memicu kelelahan. Sebagai gantinya, ia memilih jalan kaki sebagai bentuk olahraga rutinnya selama sebulan ke depan. Ini adalah langkah bijak untuk menjaga kebugaran tanpa membebani tubuh yang sedang dalam masa pemulihan.
Pengalaman Kak Seto ini juga menjadi pengingat penting bagi kita semua tentang bahaya stroke ringan dan pentingnya kesadaran dini. Stroke ringan, atau Transient Ischemic Attack (TIA), seringkali diabaikan karena gejalanya yang bisa hilang timbul atau tidak terlalu parah. Padahal, TIA adalah sinyal peringatan serius yang tidak boleh disepelekan.
Gejala seperti pusing mendadak, kebingungan, kesulitan berbicara, mati rasa pada satu sisi tubuh, atau gangguan penglihatan, meskipun hanya berlangsung singkat, harus segera diperiksakan ke dokter. Keterlambatan penanganan, seperti yang dialami Kak Seto, bisa berakibat fatal atau memperpanjang proses pemulihan.
Pola hidup sehat, seperti menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga ringan, dan mengelola stres, adalah kunci utama dalam pencegahan stroke. Kisah Kak Seto yang memiliki jantung sehat berkat gaya hidupnya menjadi inspirasi bagi kita untuk selalu menjaga kesehatan. Semoga Kak Seto segera pulih sepenuhnya dan terus menginspirasi dengan semangatnya yang luar biasa.


















