Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Baek Se-hee, Penulis ‘Tteokbokki’ Berpulang: Warisan Inspirasi dan Donasi Organ yang Mengharukan

baek se hee penulis tteokbokki berpulang warisan inspirasi dan donasi organ yang mengharukan portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Dunia sastra kembali berduka. Baek Se-hee, penulis memoar fenomenal "I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki," telah meninggal dunia pada usia 35 tahun. Kabar pilu ini disampaikan langsung oleh saudara perempuannya, meninggalkan duka mendalam bagi jutaan pembaca yang terinspirasi oleh karyanya.

Detail lebih lanjut seputar penyebab kematiannya belum diungkapkan kepada publik. Namun, di balik kabar duka, tersimpan kisah haru tentang kemuliaan hati yang tak terhingga. Baek Se-hee diketahui telah menyelamatkan lima nyawa melalui donasi organ.

banner 325x300

Kabar Duka yang Menggugah Hati

Saudara perempuan Baek Se-hee mengungkapkan bahwa mendiang memiliki keinginan besar untuk menulis. Ia ingin berbagi isi hatinya dengan orang lain melalui karya-karyanya, serta menginspirasi harapan bagi banyak jiwa yang terluka. Pernyataan ini disampaikan seperti diberitakan Korea Herald pada Jumat (17/5) lalu.

"Mengetahui sifatnya yang lembut, yang tidak mampu menyimpan kebencian, saya harap ia kini dapat beristirahat dengan tenang," ujar anggota keluarganya. Kata-kata ini menggambarkan sosok Baek Se-hee yang penuh kasih dan kedamaian, bahkan di tengah perjuangan pribadinya.

Aksi Mulia Terakhir yang Menyelamatkan Nyawa

Badan Donasi Organ Korea mengonfirmasi bahwa Baek Se-hee telah mendonorkan jantung, paru-paru, hati, dan ginjalnya. Tindakan heroik ini secara langsung memberikan kesempatan hidup kedua bagi lima orang yang membutuhkan. Sebuah warisan kemanusiaan yang luar biasa dari seorang penulis.

Aksi tulus ini menjadi bukti nyata dari semangat berbagi dan kepedulian yang selalu ia sampaikan melalui tulisannya. Bahkan di akhir hayatnya, ia tetap menginspirasi dan memberikan harapan. Donasi organ ini menjadi penutup kisah hidupnya yang penuh makna, menyisakan jejak kebaikan yang tak terlupakan.

Warisan Kejujuran dalam "Tteokbokki"

Baek Se-hee menjadi terkenal berkat bukunya "I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki" yang pertama kali terbit pada tahun 2018. Buku ini segera diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan menjadi fenomena global. Isinya sebagian berupa esai dan sebagian lainnya berupa panduan pengembangan diri yang jujur dan menyentuh.

Di dalamnya, Baek Se-hee secara terbuka membagikan perjuangannya melawan depresi dan distimia, atau gangguan depresi persisten. Ia juga menceritakan sesi terapinya dengan psikiater tanpa tedeng aling-aling. Kejujurannya ini menjadi magnet bagi banyak pembaca yang merasa terwakili.

Melawan Stigma Kesehatan Mental

Keberanian Baek Se-hee untuk membuka diri tentang perjuangannya disambut hangat oleh pembaca di seluruh dunia. Keterbukaannya membantu menghilangkan stigma seputar penyakit mental, terutama di Korea Selatan yang masih konservatif. Buku ini menjadi suara bagi banyak orang yang merasa sendirian dalam menghadapi depresi.

Kalimat paling terkenal dari buku tersebut, "Hati manusia, bahkan ketika ingin mati, seringkali juga ingin makan tteokbokki," menggambarkan paradoks keinginan hidup dan mati yang begitu manusiawi. Tteokbokki, camilan populer Korea, menjadi simbol kecil kebahagiaan di tengah kegelapan. Sebuah metafora yang begitu kuat dan mudah dipahami.

Resonansi Global Sebuah Kejujuran

"I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki" telah diterjemahkan dan diterbitkan di lebih dari 25 negara. Termasuk Indonesia, Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, Belgia, dan Polandia. Penjualannya mencapai lebih dari 1 juta eksemplar di seluruh dunia, membuktikan bahwa perjuangan mental adalah isu universal.

Kesuksesan ini kemudian diikuti oleh sekuel bertajuk "I Want to Die but I Still Want to Eat Tteokbokki." Buku kedua ini terbit di Korea pada tahun 2019 dan diterjemahkan ke bahasa Inggris pada tahun 2024. Menurut penerbitnya, seri dua bagian ini telah terjual sekitar 600.000 eksemplar di Korea saja.

Dalam sebuah wawancara dengan The Korea Herald sebelumnya, Baek Se-hee pernah mengatakan, "Bahkan dalam berbagai bahasa dan budaya, saya menyadari perasaan ‘hati yang terluka’ sama di mana-mana." Ini menunjukkan betapa ia memahami dan merasakan koneksi dengan pembacanya di seluruh dunia.

"Saya masih takjub bahwa kisah saya telah menyentuh hati orang lain. Di saat yang sama, perlu menyadarkan bahwa begitu banyak orang memikul luka batin mendalam dan dibutuhkan keberanian yang besar untuk mengatakan, ‘Saya tidak baik-baik saja,’" tambahnya. Kata-kata ini menjadi pengingat penting akan pentingnya mengakui kerapuhan diri.

Kenangan dari Mereka yang Terinspirasi

Lahir pada tahun 1990, Baek Se-hee mengambil jurusan penulisan kreatif di universitas. Ia kemudian bekerja selama lima tahun di sebuah penerbit, menurut biografi singkatnya di Bloomsbury Publishing. Pengalaman ini tentu membentuknya menjadi penulis yang peka dan mendalam.

Anton Hur, penerjemah buku Baek Se-hee ke dalam bahasa Inggris, menulis di Instagram tentang kepergiannya. Ia menyebutkan bahwa organ-organ Baek Se-hee telah menyelamatkan lima orang, namun "para pembacanya akan tahu bahwa ia telah menyentuh jutaan nyawa lebih banyak lagi dengan tulisannya." Sebuah tribut yang sangat menyentuh.

"Doa saya menyertai keluarganya," tulis Anton Hur, mewakili perasaan banyak orang yang kehilangan. Baek Se-hee juga berkolaborasi dengan penulis lain dalam buku-buku seperti "No One Will Ever Love You as Much as I Do" (2021) dan "I Want to Write, I Don’t Want to Write" (2022). Pada Juni 2025, ia menerbitkan karya fiksi pendek pertamanya, "A Will from Barcelona."

Kepergian Baek Se-hee di usia muda adalah kehilangan besar bagi dunia sastra dan bagi mereka yang berjuang dengan kesehatan mental. Namun, warisan kejujuran, inspirasi, dan kemuliaan hatinya akan terus hidup, menyentuh dan menyelamatkan banyak jiwa, sama seperti tteokbokki yang selalu ada untuk menghibur hati yang ingin mati.

banner 325x300