Siapa sangka, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau yang akrab disebut Danantara, kini menjadi sorotan dunia. Kerajaan Yordania, melalui Raja Abdullah II ibn Al Hussein, secara terang-terangan menyatakan ketertarikannya untuk membentuk sovereign wealth fund (SWF) yang meniru model Danantara milik Indonesia. Ini adalah pengakuan besar atas keberhasilan dan potensi Indonesia di kancah ekonomi global.
Kabar mengejutkan ini diungkapkan oleh CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, setelah pertemuan penting antara Raja Abdullah II dengan Presiden RI Prabowo Subianto. Pertemuan tersebut menjadi ajang diskusi mendalam mengenai struktur dan pengelolaan Danantara, yang kini menjadi inspirasi bagi negara Timur Tengah tersebut. Yordania melihat Danantara sebagai cetak biru yang sukses untuk mengelola kekayaan negara secara strategis.
Danantara: Model SWF yang Menginspirasi Dunia
Danantara, sebagai sovereign wealth fund Indonesia, memiliki peran krusial dalam menarik dan mengelola investasi strategis. Tujuannya adalah untuk meningkatkan nilai aset negara dan mendukung pembangunan ekonomi jangka panjang. Keberadaannya dirancang untuk menjadi jembatan antara investor global dengan berbagai proyek potensial di Indonesia.
Keberhasilan Danantara dalam menarik investasi dan menunjukkan tata kelola yang transparan dan profesional, rupanya menarik perhatian Yordania. Mereka ingin memahami secara detail bagaimana Danantara dibentuk, bagaimana strukturnya beroperasi, dan bagaimana aset-asetnya dikelola. Ini menunjukkan bahwa model yang diterapkan Indonesia dianggap efektif dan relevan untuk diterapkan di negara lain.
Mengapa Yordania Tertarik Meniru Danantara?
Ketertarikan Yordania pada Danantara bukan tanpa alasan. Sebagai negara yang juga berupaya mendiversifikasi ekonominya dan menarik investasi asing, Yordania melihat Danantara sebagai contoh konkret bagaimana sebuah SWF dapat berfungsi sebagai katalis pertumbuhan. Mereka ingin belajar dari pengalaman Indonesia dalam membangun fondasi yang kuat untuk pengelolaan dana kekayaan negara.
Pembentukan SWF di Yordania diharapkan dapat membantu negara tersebut dalam mengoptimalkan sumber daya yang ada, menarik modal dari luar, dan berinvestasi pada sektor-sektor strategis. Dengan meniru Danantara, Yordania berharap bisa menciptakan instrumen serupa yang mampu memberikan keuntungan jangka panjang bagi rakyatnya. Ini adalah langkah maju yang signifikan bagi ekonomi Yordania.
Potensi Investasi Triliunan Rupiah Menanti
Selain membahas model SWF, pertemuan antara Raja Abdullah II dan Presiden Prabowo juga membuka pintu lebar bagi potensi investasi yang sangat besar antara kedua negara. Rosan Perkasa Roeslani menyebutkan bahwa Raja Abdullah II secara langsung mengundang Indonesia untuk berinvestasi di berbagai sektor vital di Yordania. Ini adalah peluang emas bagi para investor Indonesia.
Salah satu proyek investasi yang paling menonjol adalah pipanisasi gas, dengan nilai fantastis mencapai US$1 miliar atau sekitar Rp16 triliun. Proyek ini sangat strategis untuk Yordania dalam memenuhi kebutuhan energi mereka dan memperkuat infrastruktur gas nasional. Keterlibatan Indonesia di sini bisa menjadi game-changer.
Tidak hanya itu, Yordania juga menawarkan proyek pembangunan jalan tol senilai kurang lebih US$300 juta atau sekitar Rp4,8 triliun. Investasi di sektor infrastruktur jalan ini akan sangat penting untuk meningkatkan konektivitas dan mendukung mobilitas ekonomi di Yordania. Ini juga membuka peluang bagi perusahaan konstruksi Indonesia untuk unjuk gigi di pasar internasional.
Sektor logistik juga menjadi area potensial untuk kerja sama investasi. Dengan posisinya yang strategis di Timur Tengah, Yordania bisa menjadi hub logistik penting. Investasi Indonesia di sektor ini dapat memperkuat rantai pasok global dan menciptakan efisiensi dalam perdagangan antara kedua kawasan.
Kerja Sama Fosfat yang Menguntungkan dan Berkelanjutan
Kerja sama antara Indonesia dan Yordania ternyata bukan hal baru. Kedua negara telah lama menjalin kemitraan yang kuat di bidang fosfat. Rosan menjelaskan bahwa proyek fosfat yang sudah berjalan saat ini bernilai sekitar US$250 juta atau sekitar Rp4 triliun.
Proyek ini terbukti sangat menguntungkan, bahkan telah memberikan profit sekitar US$20 juta atau sekitar Rp320 miliar bagi Indonesia. Keberhasilan ini menjadi dasar kuat untuk mengembangkan kerja sama lebih lanjut. Kedua belah pihak berkeinginan untuk memperluas skala proyek fosfat ini agar memberikan manfaat yang lebih besar lagi.
Ekspansi di sektor fosfat akan sangat penting mengingat peran vitalnya dalam industri pupuk dan pertanian. Dengan meningkatkan produksi dan pengolahan fosfat, Indonesia dan Yordania dapat berkontribusi pada ketahanan pangan global dan memperkuat posisi mereka di pasar komoditas. Ini adalah sinergi yang saling menguntungkan.
Masa Depan Hubungan Indonesia-Yordania yang Cerah
Pertemuan antara pemimpin kedua negara ini menandai babak baru dalam hubungan bilateral Indonesia dan Yordania. Pengakuan Yordania terhadap Danantara sebagai model SWF yang patut ditiru adalah bukti nyata pengaruh positif Indonesia di kancah ekonomi global. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pemain, tetapi juga inspirator.
Potensi investasi triliunan rupiah di sektor energi, infrastruktur, dan logistik, ditambah dengan perluasan kerja sama fosfat, akan mempererat ikatan ekonomi kedua negara. Ini adalah langkah strategis yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memperkuat posisi geopolitik Indonesia di Timur Tengah. Masa depan hubungan Indonesia-Yordania tampak sangat cerah dan penuh peluang.


















