Pertamina kembali mencatatkan prestasi gemilang di kancah nasional, membuktikan diri sebagai pemimpin inovasi di sektor energi. Melalui program ambisius Optimization Upstream (OPTIMUS), perusahaan plat merah ini berhasil meraih penghargaan bergengsi CNN Indonesia Awards (CIA) 2025 untuk kategori Outstanding Strategic Innovation in Energy. Ini bukan sekadar pengakuan biasa, melainkan bukti nyata komitmen Pertamina terhadap kemajuan teknologi dan efisiensi.
Prestasi Gemilang di Kancah Nasional
Penghargaan CIA 2025 ini menjadi salah satu dari deretan panjang apresiasi yang diterima Pertamina. Sebelumnya, mereka juga sukses memboyong sebelas penghargaan Subroto Award 2025. Deretan penghargaan ini menegaskan posisi Pertamina sebagai pionir yang tak hanya berinovasi, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) di Indonesia.
Program OPTIMUS sendiri merupakan langkah strategis Pertamina dalam mengoptimalkan produksi migas. Tujuannya jelas, yakni meningkatkan efisiensi operasional di seluruh lini bisnis hulu. Inisiatif ini juga menjadi fondasi kuat bagi transformasi digital Pertamina, mempersiapkan perusahaan menghadapi tantangan industri energi global yang menuntut kecepatan, efisiensi, dan ketahanan operasi yang luar biasa.
DICE: Otak di Balik Keberhasilan WK Rokan
Salah satu implementasi paling mencolok dari program OPTIMUS bisa kita lihat di PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Di sana, sebuah fasilitas canggih bernama Digital & Innovation Center (DICE) beroperasi sebagai pusat kendali utama. DICE bukan sekadar ruang kontrol biasa, melainkan pusat kendali berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memantau dan menganalisis operasional 12.600 sumur aktif di Wilayah Kerja (WK) Rokan secara real-time.
Bayangkan, ribuan sumur minyak dipantau secara bersamaan, setiap detiknya. Inovasi inilah yang menjadi kunci keberhasilan Pertamina. Berkat DICE, PHR berhasil menekan laju penurunan produksi minyak yang sebelumnya mencapai 11 persen menjadi nol persen per tahun. Sebuah pencapaian yang luar biasa, bukan?
Dampak Nyata yang Bikin Tercengang
Selain menstabilkan produksi, DICE juga membawa dampak finansial yang fantastis. Pusat kendali berbasis AI ini diproyeksikan mampu menciptakan efisiensi biaya hingga Rp762 miliar pada akhir tahun 2025. Angka ini setara dengan USD 46 juta, menunjukkan betapa besarnya nilai inovasi digital dalam operasional hulu migas.
DICE mampu menganalisis data kompleks, melakukan pemantauan terintegrasi, dan menghasilkan rekomendasi berbasis AI secara cepat dan tepat. Semua ini dilakukan untuk memastikan keandalan operasi di wilayah yang memegang peran vital, yakni memasok 26 persen dari total produksi minyak nasional.
Mengintip Jantung Operasional WK Rokan
Mochamad Taufan, Operation Head Subsurface Development & Planning Zona Rokan, menjelaskan lebih lanjut mengenai kehebatan DICE. Menurutnya, seluruh operasional ribuan sumur migas di WK Rokan kini bisa dimonitor dari satu fasilitas terpusat. DICE menjadi sarana pemantauan real-time sekaligus melakukan analisis data untuk seluruh proses operasional hulu migas Rokan.
Mulai dari pengeboran, pengapalan, lifting, inventory, hingga operasional produksi, semuanya terintegrasi. "DICE membantu mengintegrasikan data-data terutama dari sumur yang jumlahnya ribuan sehingga bisa diolah menjadi suatu rekomendasi secara cepat dan tepat dengan menggunakan AI," ujar Taufan saat kunjungan media ke Rumbai, Pekanbaru, Kamis (16/10) lalu.
Skala Operasi yang Fantastis
Taufan menegaskan bahwa digitalisasi dan kecerdasan buatan sangat dibutuhkan untuk mengolah data di WK Rokan. Wilayah ini memiliki operasional yang luas dan masif, sehingga harus dikelola secara efektif dan efisien. Berkat bantuan AI, Rokan berhasil menahan laju penurunan produksi sebelum alih kelola, dari sekitar 11% per tahun menjadi nol persen.
Fasilitas DICE dilengkapi dengan 66 layar yang menampilkan data dan informasi dalam bentuk dashboard digital yang komprehensif. Di antaranya terkait pemantauan aktivitas pengeboran, jadwal pengeboran yang terintegrasi (Integrated Drilling Schedule), penyiapan lokasi pengeboran, pembangunan fasilitas sumur minyak, serta pengelolaan kegiatan produksi dan perawatan peralatan. "Manajemen PHR menggunakan data dan pemantauan DICE sebagai pertimbangan untuk proses pengambilan keputusan," jelas Taufan.
WK Rokan sendiri memiliki luas wilayah sekitar 6.400 km2 dengan 12.600 sumur aktif. Wilayah ini didukung oleh 35 stasiun pengumpul, 13.200 km jaringan pipa alir, dan 500 km jaringan shipping line. "Jaringan pipa ini kalau dibentangkan dari Sabang sampai Merauke bisa hampir tiga kali bentangan," tutur Taufan, menggambarkan betapa masifnya infrastruktur di sana. Pengeboran sumur pengembangan di WK Rokan juga sangat masif, sekitar 500 sumur per tahun, atau lebih dari 50 persen pengeboran sumur pengembangan di Indonesia.
Komitmen Pertamina untuk Ketahanan Energi Nasional
DICE, sebagai bagian integral dari program OPTIMUS, menjadi fasilitas andalan di WK Rokan untuk pemantauan terintegrasi. Ini adalah pusat kendali operasional dan big data yang memantau kegiatan di lapangan secara real-time. Dengan DICE, hingga akhir tahun 2025, Pertamina menargetkan mampu menghasilkan efisiensi operasional hingga USD 46 juta, atau setara Rp 762 Miliar.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menegaskan pentingnya WK Rokan. Wilayah ini merupakan salah satu sumber minyak andalan Pertamina, mampu memproduksi minyak bumi setara 26% dari produksi nasional. "Pertamina berkomitmen meningkatkan produksi migas untuk mencapai ketahanan energi nasional. Pada WK Rokan kami melakukan berbagai upaya untuk menjaga laju produksi, sehingga tingkat produksinya masih dapat terjaga dengan baik," jelas Fadjar.
Melalui inovasi seperti OPTIMUS dan DICE, Pertamina tidak hanya meraih penghargaan, tetapi juga memperkuat fondasi ketahanan energi Indonesia. Ini adalah bukti bahwa dengan sentuhan teknologi canggih dan komitmen yang kuat, tantangan besar di sektor energi dapat diatasi dengan solusi yang cerdas dan efisien.


















