Jakarta, IDN Times – Siapa sangka, di balik sorotan publik dan hiruk pikuk demonstrasi besar yang melanda Indonesia pada Agustus 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto menyimpan kegelisahan mendalam. Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengungkapkan bahwa orang nomor satu di negeri ini ternyata sangat resah dengan situasi tersebut. Ini bukan sekadar gejolak biasa, melainkan sebuah "panggilan peringatan terakhir" yang membuat sang Presiden sangat khawatir.
Purbaya, yang berbicara dalam acara Hari Keuangan Nasional di Studio CNN Jakarta Selatan pada Senin (27/10), membeberkan momen-momen krusial di balik layar Istana. Ia mengaku tak yakin apakah boleh membuka rahasia ini, namun kegelisahan Prabowo saat demo besar-besaran itu begitu nyata. "Dia (Presiden Prabowo) resah, pada waktu demo besar-besaran dia resah," ungkap Purbaya, menggambarkan suasana tegang yang menyelimuti pemerintahan kala itu.
Ketika Ekonomi Menjadi Pemicu Utama Gejolak Sosial
Bukan sekadar protes biasa, demonstrasi besar di Agustus 2025 itu ternyata memiliki akar masalah yang lebih dalam: ekonomi. Purbaya menjelaskan bahwa saat ia menceritakan kondisi riil di lapangan kepada Presiden, Prabowo mulai menyadari bahwa gejolak tersebut berasal dari kebijakan ekonomi yang keliru. Ini adalah titik balik penting yang membuat sang Kepala Negara sadar akan urgensi perbaikan.
"Bukan wake up call, warning call, hampir the last warning call. Dia concern apa yang terjadi pada waktu itu. Pada waktu saya ceritakan, ini pak, asalnya dari ekonomi karena kebijakannya ini, ini, ini," jelas Purbaya. Pernyataan ini menegaskan bahwa demonstrasi bukan hanya ekspresi ketidakpuasan semata, melainkan cerminan dari kebijakan ekonomi yang tidak tepat sasaran dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Prabowo: Sang Pemikir yang Curiga Ada "Gangguan"
Menkeu Purbaya menggambarkan Presiden Prabowo sebagai sosok yang cerdas dan memiliki intuisi tajam. Menurutnya, Prabowo sebenarnya sudah curiga ada pihak-pihak yang mencoba mengganggunya. Namun, ia baru benar-benar menyadari dari mana asal "gangguan" itu setelah Purbaya memaparkan data dan analisis ekonomi. Ternyata, biang keroknya adalah kebijakan ekonomi yang salah arah.
Gangguan terhadap Prabowo, menurut Purbaya, datang dari kebijakan ekonomi yang keliru, terutama terlihat dari kinerja belanja pemerintah. Data menunjukkan, belanja pemerintah pada kuartal I 2025 minus 1,37 persen, dan bahkan terkontraksi 0,33 persen pada kuartal berikutnya. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan nyata bagaimana pemerintah justru mengerem laju pertumbuhan ekonomi, alih-alih memberikan dorongan yang sangat dibutuhkan.
Belanja Pemerintah yang Lambat: Rem Ekonomi Nasional
Bayangkan sebuah mobil yang seharusnya melaju kencang, namun justru diinjak remnya. Itulah analogi yang tepat untuk menggambarkan kondisi belanja pemerintah pada awal tahun 2025. Dengan angka minus dan kontraksi, ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak mengalirkan dana secara efektif ke sektor-sektor yang bisa menggerakkan roda perekonomian. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi menjadi lesu, lapangan kerja sulit tercipta, dan daya beli masyarakat menurun.
"Memang kebijakan ekonomi yang gak terlalu pas, belanja pemerintah yang lambat, termasuk pemerintah daerah yang ribut-ribut kemarin," beber Purbaya. Keterlambatan dan inefisiensi belanja pemerintah, ditambah dengan kisruh di tingkat pemerintah daerah, semakin memperparah situasi. Ini menciptakan efek domino yang merugikan, mulai dari investor yang menahan diri hingga masyarakat yang merasakan langsung dampaknya.
Panggilan "Berani?" di Hambalang: Sebuah Mandat Berat
Kisah di balik penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan pun tak kalah menarik. Ia menceritakan momen diundang ke rumah Presiden Prabowo di Hambalang, Bogor, tepat sehari sebelum pelantikannya pada Senin (8/9), menggantikan Sri Mulyani. Purbaya mengira itu adalah sesi fit and proper test biasa, namun yang terjadi jauh lebih dari itu.
"Waktu wawancara, saya pikir fit and proper test itu. ‘Oke, kamu jadi ini (menteri keuangan) ya, tapi jangan senang dulu, belum pasti’. Itu Minggu (7/9)," kenang Purbaya. Namun, yang paling membekas adalah pertanyaan berulang dari Prabowo. "Sepanjang jalan dari habis dia salaman pas saya mau keluar, itu sudah berapa, 20 meter kali. Tanyanya ‘Berani?’, ‘Berani, pak’, ‘Berani?’, ‘Berani, pak’. Terus sampai pintu, cuma itu tanyanya (Presiden Prabowo)," jelasnya.
Pertanyaan "Berani?" yang diulang-ulang itu bukan sekadar basa-basi. Itu adalah sebuah mandat, sebuah tantangan, dan sebuah janji yang harus ditepati. Purbaya memahami betul bahwa ia harus berani mengambil keputusan sulit, berani menghadapi tekanan, dan berani melakukan reformasi demi kepentingan bangsa. "Jadi, memang saya harus berani. Kalau enggak berani, ya mencederai janji saya ke Presiden (Prabowo). Jadi, saya cuma disuruhnya berani saja, sudah asal Merah Putih, selesai," tambahnya, menunjukkan komitmennya yang total.
Era Baru Kepercayaan Publik: Optimisme yang Kembali Bangkit
Setelah serangkaian gejolak dan kegelisahan, ada kabar baik yang dibawa oleh Purbaya. Sang Bendahara Negara mengklaim bahwa kepercayaan publik yang sempat rendah terhadap pemerintah sudah berakhir pada September 2025 lalu. Ini adalah sinyal positif bahwa langkah-langkah perbaikan yang diambil mulai membuahkan hasil.
Lebih lanjut, Purbaya optimistis bahwa sejak bulan Oktober ini, kepercayaan publik sudah bangkit cukup kuat dan disebut-sebut akan bertahan lama. Kebangkitan kepercayaan ini tentu bukan tanpa alasan. Perubahan kebijakan, penunjukan menteri baru yang berani, dan komitmen kuat dari Presiden Prabowo untuk mengatasi masalah ekonomi menjadi faktor-faktor pendorongnya.
Meningkatnya kepercayaan publik adalah modal berharga bagi pemerintah untuk menjalankan program-program pembangunan dan reformasi ekonomi. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat adanya harapan dan perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan kepercayaan yang kuat, pemerintah akan lebih mudah mendapatkan dukungan dalam menghadapi tantangan-tantangan besar di masa depan.
Menatap Masa Depan: Tantangan dan Harapan
Pengakuan Menkeu Purbaya ini memberikan gambaran yang lebih utuh tentang dinamika di balik layar pemerintahan. Dari kegelisahan seorang Presiden hingga mandat "berani" yang diberikan kepada menterinya, semua menunjukkan bahwa ada upaya serius untuk mengatasi masalah yang ada. Ekonomi, yang menjadi akar masalah demonstrasi, kini menjadi fokus utama perbaikan.
Dengan semangat keberanian dan komitmen untuk kepentingan Merah Putih, Purbaya Yudhi Sadewa mengemban tugas berat untuk menstabilkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kebangkitan kepercayaan publik menjadi indikator awal keberhasilan, namun perjalanan masih panjang. Tantangan akan selalu ada, tetapi dengan kepemimpinan yang responsif dan kebijakan yang tepat, harapan untuk masa depan ekonomi yang lebih cerah tetap menyala.


















