Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Terbang ke Singapura Makin Mahal Rp500 Ribuan Mulai 2026: Ini Biang Kerok Pajak Barunya!

terbang ke singapura makin mahal rp500 ribuan mulai 2026 ini biang kerok pajak barunya portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Siap-siap, bagi kamu yang punya rencana terbang ke Singapura mulai tahun 2026, ada kabar penting yang bisa bikin kantong sedikit jebol. Pemerintah Singapura akan memberlakukan pungutan pajak baru bernama Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur. Pajak ini akan membuat harga tiket pesawat dari Singapura melambung tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari setengah juta rupiah.

Kebijakan ini akan mulai berlaku untuk tiket pesawat atau penerbangan kargo yang dijual mulai 1 April 2026. Sementara itu, penerbangan keberangkatan dari Singapura yang terkena pajak ini adalah yang dimulai pada 1 Oktober 2026. Jadi, jika kamu berencana terbang setelah tanggal tersebut, pastikan untuk menyiapkan dana tambahan.

banner 325x300

Pajak Bioavtur: Apa Itu dan Mengapa Diterapkan?

Pajak bioavtur adalah pungutan yang dikenakan untuk mendukung penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Bioavtur sendiri merupakan bahan bakar pesawat yang lebih ramah lingkungan, diproduksi dari sumber daya terbarukan seperti biomassa, limbah, atau minyak nabati. Tujuannya adalah mengurangi emisi karbon dari industri penerbangan yang dikenal sebagai salah satu penyumbang terbesar polusi udara.

Pemerintah Singapura melalui Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS) menegaskan bahwa pungutan ini adalah bagian dari upaya mereka untuk mengurangi emisi industri penerbangan. Dana yang terkumpul dari pajak ini akan digunakan sepenuhnya untuk pembelian SAF, mendorong maskapai beralih ke bahan bakar yang lebih hijau. Ini adalah langkah konkret Singapura dalam mencapai target adopsi SAF sebesar 3-5 persen pada tahun 2030.

Berapa Kenaikannya? Bervariasi Tergantung Rute dan Kelas

Kenaikan harga tiket pesawat akibat pajak bioavtur ini tidak merata. Besaran pajak akan bervariasi, tergantung pada rute penerbangan dan kelas tiket yang kamu pilih. Semakin jauh rutenya dan semakin tinggi kelas tiketnya, semakin besar pula biaya tambahan yang harus kamu bayar.

Sebagai contoh, untuk penerbangan jarak jauh seperti ke Amerika Serikat dengan kelas bisnis, biaya tambahan bisa mencapai US$31,95 atau setara Rp534.156 (dengan asumsi kurs Rp16.720). Angka ini tentu cukup signifikan dan perlu diperhitungkan dalam anggaran perjalananmu.

Namun, bagi penumpang dengan tiket kelas ekonomi atau premium ekonomi, serta perjalanan rute pendek seperti ke Asia Tenggara, biaya tambahan yang dikenakan akan lebih rendah. CAAS menyebutkan bahwa perjalanan ke Asia Tenggara akan dikenakan biaya tambahan sekitar US$0,77 (setara Rp12.873), sementara penerbangan ke Amerika dengan kelas ekonomi akan dikenakan US$7,98 (setara Rp133.413).

Siapa Saja yang Terkena Dampak?

Pungutan pajak ini hanya berlaku untuk penumpang yang terbang dari Singapura. Jadi, jika kamu hanya transit di Bandara Changi Singapura, kamu tidak perlu khawatir akan dikenakan pajak tambahan ini. Kebijakan ini juga berlaku untuk penerbangan kargo, dengan perhitungan pajak berdasarkan per kilogram barang yang diangkut.

Pengumuman ini datang bertepatan dengan pertemuan COP30 di Brasil, di mana para negosiator dari hampir 200 negara akan membahas rincian teknis upaya global untuk mitigasi perubahan iklim. Ini menunjukkan komitmen Singapura dalam berkontribusi pada agenda lingkungan global.

Sempat Dikira Lebih Mahal, Ternyata Lebih Rendah

Meskipun bea masuk ini mungkin mengejutkan bagi sebagian traveler, khususnya yang sering bolak-balik ke Singapura, ternyata biayanya lebih murah dari yang dikhawatirkan publik. Sebelumnya, pemerintah Singapura memperkirakan bea masuk antara US$2,30 hingga US$12,28 atau setara Rp38.452 sampai Rp205.303.

Namun, penurunan harga SAF di pasar global membuat penetapan bea yang lebih rendah dari perkiraan awal. Ini tentu menjadi angin segar, meskipun tetap ada biaya tambahan yang harus ditanggung penumpang. Setidaknya, beban yang ditanggung tidak sebesar yang sempat dibayangkan.

Dampak ke Indonesia: Tiket Pulang dari Singapura Jadi Lebih Mahal

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia sebelumnya sudah mewanti-wanti mengenai dampak kebijakan ini. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa harga tiket pesawat dari Indonesia ke Singapura maupun sebaliknya bakal melejit pada 2026.

Alasannya jelas, maskapai yang terbang ke Bandara Changi Singapura akan diwajibkan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan seperti bioavtur. Biaya pembelian bioavtur ini kemudian akan dibebankan ke tiket penumpang, termasuk bagi mereka yang terbang pulang dari Singapura ke Indonesia. Jadi, jika kamu terbang dari Jakarta ke Singapura, tiket pulangmu dari Singapura ke Jakarta akan lebih mahal.

Peluang Bisnis untuk Indonesia

Meskipun kebijakan Singapura ini membuat harga tiket naik, Eniya Listiani Dewi menilai ada peluang bisnis besar bagi Indonesia. Indonesia sendiri terus mengembangkan bahan bakar hijau, termasuk bioavtur. Dengan adanya kewajiban penggunaan bioavtur oleh maskapai, permintaan akan bahan bakar ini dipastikan akan meningkat.

Pemerintah Indonesia juga sedang menyiapkan rancangan peta jalan nasional terkait SAF. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) bahkan sudah memiliki roadmap bioavtur untuk penggunaan di pesawat terbang. Ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam mendukung energi terbarukan di sektor penerbangan.

Pengembangan bioavtur di Indonesia bisa menjadi jawaban atas kebutuhan maskapai yang terbang ke Singapura. Ini bukan hanya tentang memenuhi regulasi, tetapi juga tentang menciptakan industri baru yang berkelanjutan dan berpotensi besar untuk ekspor. Dengan demikian, kebijakan Singapura ini bisa menjadi pemicu akselerasi pengembangan bioavtur di tanah air.

Masa Depan Penerbangan yang Lebih Hijau

Pungutan pajak bioavtur di Singapura ini adalah cerminan dari tren global menuju penerbangan yang lebih berkelanjutan. Semakin banyak negara dan maskapai yang berkomitmen untuk mengurangi jejak karbon mereka. Meskipun ada konsekuensi berupa kenaikan harga tiket, langkah ini dianggap penting untuk masa depan planet kita.

Bagi para traveler, ini adalah pengingat bahwa biaya perjalanan tidak hanya sebatas tiket dan akomodasi, tetapi juga termasuk kontribusi terhadap lingkungan. Dengan memahami alasan di balik pajak ini, kita bisa lebih menghargai upaya global untuk menciptakan langit yang lebih bersih dan masa depan yang lebih hijau.

banner 325x300