Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah memang disambut antusias oleh masyarakat, khususnya para orang tua. Namun, di balik semangat pemberian gizi terbaik untuk anak bangsa, muncul pertanyaan: mengapa susu untuk program ini masih harus diimpor? Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya buka suara, menjelaskan secara transparan alasan di balik kebijakan ini.
Kebutuhan Susu Nasional Melonjak Drastis
Tim Pakar Bidang Susu BGN, Epi Taufik, membeberkan fakta krusial terkait produksi susu segar dalam negeri (SSDN). Produksi lokal kita masih jauh di bawah kebutuhan nasional, bahkan sebelum program MBG berjalan. Ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi.
Bayangkan saja, sebelum MBG, Indonesia membutuhkan sekitar 4,7 juta ton susu per tahun. Angka ini melonjak drastis menjadi lebih dari 8 juta ton setelah MBG diluncurkan, menunjukkan peningkatan kebutuhan yang signifikan. Sementara itu, produksi susu lokal kita baru menyentuh angka satu juta ton per tahun.
Jika dipaksakan 100 persen menggunakan susu lokal, Epi Taufik menegaskan bahwa stok susu nasional kita akan langsung ludes tak bersisa. Hal ini tentu akan mengganggu ketersediaan susu untuk kebutuhan konsumsi lainnya dan stabilitas pasar. Oleh karena itu, impor menjadi solusi sementara yang tidak bisa dihindari.
Komitmen Awal: Minimal 20% Susu Lokal
Menyadari kondisi ini, BGN tidak tinggal diam. Mereka menetapkan komposisi awal susu MBG minimal mengandung 20 persen susu segar lokal. Ini bukan angka mati, melainkan target yang akan terus ditingkatkan setiap tahun.
Seiring dengan bertambahnya kapasitas produksi susu nasional, persentase penggunaan susu lokal dalam program MBG juga akan ikut naik. BGN berkomitmen untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan pada susu impor. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk kemandirian pangan.
Kualitas Susu MBG Tetap Terjamin, Impor Bukan Berarti Buruk
Mungkin ada kekhawatiran soal kualitas susu impor yang digunakan. Namun, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu IPB ini menjamin bahwa kualitas susu MBG tidak kalah dengan susu segar murni yang biasa kita konsumsi. Formulasi susu MBG telah disusun berdasarkan standar gizi susu cair penuh (full cream milk) sesuai Peraturan BPOM No. 13 Tahun 2023.
Mulai dari protein, kalsium, hingga vitamin D, kandungan gizi susu MBG dibuat setara dengan susu segar. Ini memastikan bahwa anak-anak penerima program tetap akan mendapatkan energi dan nutrisi esensial yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang optimal dan proses belajar mereka. Jadi, impor bukan berarti kualitasnya rendah.
MBG: Pintu Kebangkitan Industri Susu Nasional?
Lebih dari sekadar program pemberian gizi, BGN melihat MBG sebagai momentum kebangkitan industri susu nasional. Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, mengungkapkan bahwa BGN telah menyusun peta jalan peningkatan produksi susu nasional 2025-2029. Peta jalan ini menjadi panduan strategis untuk mencapai target kemandirian susu.
Dengan adanya pasar yang besar dan tetap dari pemerintah melalui MBG, para peternak lokal kini memiliki jaminan penyerapan hasil produksi. Ini adalah solusi atas kesulitan yang selama ini mereka hadapi dalam menjual susu hasil ternak mereka, yang seringkali tidak stabil. Jaminan pasar ini diharapkan dapat memicu semangat peternak untuk meningkatkan produksi.
Lebih dari Sekadar Susu: Membangun Sistem Pangan Nasional
Hidayati menambahkan, MBG bukan hanya tentang mengisi perut anak-anak dengan gizi. Program ini adalah investasi jangka panjang untuk membangun sistem pangan nasional yang lebih kuat dan mandiri. Ini adalah visi besar di balik setiap gelas susu yang diberikan.
Dari setiap gelas susu yang diminum anak-anak, kita sedang menanam benih untuk masa depan bangsa yang lebih sehat dan berdaya saing. MBG diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi pedesaan dan peningkatan kesejahteraan peternak lokal. Ini adalah upaya kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat.
Jadi, di balik keputusan penggunaan susu impor untuk program MBG, ada strategi besar yang sedang dijalankan. Ini adalah langkah pragmatis untuk memenuhi kebutuhan gizi anak bangsa, sekaligus menjadi pemicu kebangkitan industri susu lokal di masa depan. Sebuah langkah strategis demi gizi anak dan kemandirian pangan Indonesia.


















