Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

SBY Sentil Keras Pemimpin Dunia: Prioritaskan Militer, Lupakan Bumi?

sby sentil keras pemimpin dunia prioritaskan militer lupakan bumi portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), melontarkan kritik tajam terhadap para pemimpin dunia. Ia menyoroti fenomena yang dianggapnya mengkhawatirkan: banyak negara kini lebih fokus mengucurkan dana besar untuk memperkuat militer, alih-alih serius menangani krisis iklim yang semakin mendesak. Pernyataan ini disampaikan SBY dalam acara Indonesia Energy Transition Dialogue 2025 di Hotel Pullman, Jakarta, pada Senin (6/10) lalu.

SBY Soroti Prioritas yang Bergeser

banner 325x300

Dalam pidatonya, SBY mengungkapkan keprihatinannya atas pergeseran prioritas global. Ia melihat adanya kecenderungan negara-negara untuk lebih mementingkan kekuatan pertahanan dan keamanan dibandingkan kelestarian lingkungan. Menurutnya, hal ini adalah sebuah ironi di tengah ancaman nyata yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.

SBY menegaskan bahwa alokasi dana yang tidak proporsional ini dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang serius. Ia mempertanyakan bagaimana agenda global seperti pembangunan berkelanjutan dan penanganan krisis iklim bisa berjalan jika fokus utama dunia beralih ke urusan militer.

Ketegangan Geopolitik Jadi Alasan Utama?

SBY tidak menampik bahwa ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama pergeseran prioritas ini. Ia menyebutkan situasi di Eropa, Timur Tengah, bahkan Asia Timur dan Asia Tenggara yang masih diselimuti ketegangan tinggi. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi memicu konflik terbuka kapan saja.

"Uang secara global lebih banyak sekarang diarahkan membangun kekuatan militer untuk tujuan pengamanan geopolitik dan seterusnya, bukan lagi untuk menangani isu lingkungan," kata SBY. Ia memahami bahwa setiap negara pasti ingin mengutamakan kepentingan nasionalnya di tengah situasi yang tidak menentu ini.

Namun, SBY juga mengingatkan bahwa kepentingan nasional tidak boleh mengesampingkan tanggung jawab global. Ia khawatir jika semua negara sibuk memperjuangkan kepentingannya sendiri, tidak akan ada lagi yang peduli terhadap isu-isu krusial yang mengancam seluruh umat manusia.

Ancaman Nyata Krisis Iklim yang Terabaikan

Krisis iklim bukan lagi sekadar wacana, melainkan ancaman nyata yang dampaknya sudah kita rasakan. Mulai dari kenaikan suhu ekstrem, bencana alam yang makin sering terjadi, hingga kelangkaan sumber daya. Namun, SBY melihat isu sepenting ini justru terpinggirkan oleh ambisi militeristik.

Ia menyayangkan jika para pemimpin dunia abai terhadap krisis iklim dengan dalih mengutamakan kepentingan negaranya. Padahal, dampak krisis iklim tidak mengenal batas negara dan akan memengaruhi semua orang, termasuk generasi mendatang.

"Tidak Hanya Tidak Bertanggung Jawab, Tapi Juga Imoral!"

SBY bahkan melabeli sikap abai terhadap krisis iklim sebagai tindakan yang tidak hanya tidak bertanggung jawab, tetapi juga imoral. "For me it is not only irresponsible tapi juga immoral, karena tahu buminya akan kiamat, karena tahu masa depan generasi berikutnya lagi akan hilang," tegasnya. Ini adalah sebuah peringatan keras bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia.

Baginya, mengetahui bahwa bumi sedang menuju kehancuran dan masa depan generasi penerus terancam, namun tetap memilih untuk tidak bertindak, adalah sebuah pelanggaran etika yang mendalam. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga kelangsungan hidup planet ini.

Peran Krusial Pemimpin Dunia dalam Transisi Energi

Menyikapi kondisi ini, SBY menekankan bahwa kepemimpinan global memegang peranan sangat penting. Ia menyerukan agar seluruh pemimpin dunia memiliki visi yang jelas terkait transisi energi. Visi ini tidak boleh hanya berhenti di tataran konsep, melainkan harus diimplementasikan secara konkret ke dalam kebijakan-kebijakan yang efektif.

Transisi energi, dari sumber fosil ke energi terbarukan, adalah salah satu solusi paling vital untuk mengatasi krisis iklim. Tanpa komitmen dan arah yang jelas dari para pemimpin, upaya ini akan sulit terwujud secara maksimal.

Visi Jelas dan Kolaborasi Menjadi Kunci

Lebih lanjut, SBY juga mengajak seluruh pihak untuk mengambil peran aktif dalam upaya transisi energi. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan akademisi. Setiap elemen masyarakat memiliki kontribusi unik yang bisa disumbangkan untuk mencapai tujuan bersama.

"Itu masih tanggung jawab pemimpin, harus jelas apa yang harus dilakukan untuk urusan transisi energi. Leadership yang akan mengubah segalanya," pungkas SBY. Pesan ini menggarisbawahi bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kepemimpinan yang kuat dan berani mengambil langkah strategis.

Pada akhirnya, apa yang disampaikan SBY adalah sebuah refleksi mendalam tentang prioritas umat manusia saat ini. Apakah kita akan terus memperkuat pertahanan diri dari ancaman sesama manusia, ataukah kita akan bersatu menghadapi ancaman terbesar yang datang dari alam itu sendiri? Pilihan ada di tangan para pemimpin dunia, dan masa depan bumi bergantung pada keputusan mereka.

banner 325x300