Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Rp9.138 Triliun! Utang Indonesia Makin Menggunung, Kemenkeu: Anak Cucu yang Bakal Nanggung!

rp9 138 triliun utang indonesia makin menggunung kemenkeu anak cucu yang bakal nanggung portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) baru saja merilis data mengejutkan: posisi utang Indonesia per Juni 2025 telah mencapai angka fantastis, Rp9.138 triliun. Angka ini tentu bukan main-main dan menjadi sorotan publik, terutama bagi generasi muda yang akan menanggung beban di masa depan.

Utang Indonesia Tembus Angka Fantastis: Rp9.138 Triliun!

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Suminto, mengumumkan secara langsung angka tersebut dalam sebuah acara di Bogor. Ia merinci bahwa total utang ini terdiri dari pinjaman dan Surat Berharga Negara (SBN).

banner 325x300

Bukan Cuma Angka, Ini Komponen Utang Negara

Total utang yang menggunung ini terbagi menjadi dua komponen utama. Sebesar Rp1.157 triliun berasal dari pinjaman, sementara sisanya yang jauh lebih besar, yakni Rp7.980 triliun, berbentuk Surat Berharga Negara (SBN). Angka ini menunjukkan bahwa SBN menjadi instrumen dominan dalam pembiayaan utang negara.

Peringatan Kemenkeu: Utang Adalah ‘Pajak Masa Depan’

Suminto memberikan peringatan keras terkait angka ini. Ia menegaskan bahwa seluruh utang tersebut pada akhirnya akan dibayar dari uang pajak yang dikumpulkan dari masyarakat. Oleh karena itu, Kemenkeu sangat berhati-hati dalam berutang, memastikan sesuai kemampuan negara untuk membayar pokok dan bunganya.

Suminto bahkan menyebut utang sebagai ‘future tax’ atau pajak masa depan. Ini berarti, kewajiban pembayaran utang akan diemban oleh generasi mendatang, termasuk anak cucu kita, melalui pajak yang mereka bayarkan. "Saya bisa menerbitkan SUN tenor 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, bahkan 40 tahun, ini yang akan bayar anak cucu kita," tegasnya.

Tren Utang: Naik Turun Tapi Tetap Waspada

Meskipun terlihat besar, posisi utang per Juni 2025 ini sebenarnya sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya, Mei 2025, yang mencapai Rp9.177 triliun. Namun, jika dibandingkan dengan akhir tahun lalu, beban utang pemerintah di kuartal II 2025 ini justru mengalami kenaikan. Pada akhir tahun 2024, posisi utang pemerintah tercatat Rp8.813 triliun, menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.

Secara detail, pinjaman naik sedikit dari Rp1.147 triliun menjadi Rp1.157 triliun. Sementara itu, utang dalam bentuk SBN justru sedikit lebih rendah, yakni turun dari Rp8.029 triliun ke Rp7.980 triliun. Fluktuasi ini menunjukkan dinamika dalam pengelolaan portofolio utang pemerintah.

Rasio Utang ke PDB: Indonesia Masih ‘Aman’ Dibanding Negara Lain?

Dengan total utang sebesar itu, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 39,86 persen per Juni 2025. Angka ini, menurut Suminto, masih tergolong rendah dan moderat jika dibandingkan dengan banyak negara lain di dunia. Ia menjelaskan bahwa rasio utang ke PDB memang bukan satu-satunya indikator, namun Kemenkeu memastikan utang dikelola dengan baik dan terukur.

Sebagai perbandingan, rasio utang Indonesia adalah 24,7 persen pada 2014, lalu naik ke 39,8 persen pada 2024. Suminto mencontohkan Malaysia yang merupakan negara tetangga sudah mencatatkan rasio utang 61,9 persen pada tahun lalu. Kemudian, Filipina 62 persen terhadap PDB, Thailand 62,8 persen, India 84,3 persen, hingga Argentina yang tembus 116,7 persen.

Bahkan Vietnam, yang ekonominya sering disebut mirip dengan Indonesia, memiliki rasio utang sekitar 37,2 persen. "Ini sebagai satu komparasi untuk melihat level utang di map utang dari negara-negara," jelas Suminto. Ia menekankan bahwa portofolio utang Indonesia dikelola dengan baik.

Strategi Kemenkeu Mengelola Utang: Terukur dan Hati-hati

Kemenkeu tidak asal berutang. Suminto menegaskan bahwa setiap penarikan utang dilakukan berdasarkan asesmen proyeksi penerimaan negara di masa depan. Ini berarti, pemerintah telah menghitung kemampuan negara untuk membayar kembali.

Tambahan nominal utang juga diklaim sejalan dengan kenaikan PDB Indonesia. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi diharapkan mampu mengimbangi dan membiayai utang tersebut, sekaligus meningkatkan kemampuan negara dalam membayar kembali. "Utang akan dibiayai oleh pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi akan menyebabkan kita mendapatkan penerimaan negara yang lebih tinggi juga, kemampuan membayar kita juga akan lebih tinggi," beber Suminto.

Mayoritas Utang dalam Rupiah, Minim Risiko Kurs

Salah satu strategi penting dalam pengelolaan utang adalah komposisi mata uang. Suminto mengungkapkan bahwa sekitar 71-72 persen dari total utang Indonesia saat ini didominasi oleh mata uang rupiah. Sementara itu, porsi utang dalam valuta asing hanya sekitar 28-29 persen.

Komposisi ini dianggap sangat baik karena meminimalkan risiko pergerakan kurs. Dengan mayoritas utang dalam rupiah, Indonesia tidak terlalu terekspos fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang bisa memperberat beban pembayaran. Ini menunjukkan langkah proaktif pemerintah dalam menjaga stabilitas keuangan negara.

Meskipun angka utang terlihat fantastis dan memicu kekhawatiran, Kemenkeu terus berupaya mengelolanya secara hati-hati dan terukur. Tujuannya jelas, agar beban utang ini tidak menjadi sandungan bagi pembangunan bangsa dan tetap bisa diwariskan dengan aman kepada generasi mendatang.

banner 325x300