Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Mimpi 80 Tahun Terwujud! ESDM Pastikan Seluruh Pelosok Indonesia Terang Benderang, Target 2030

mimpi 80 tahun terwujud esdm pastikan seluruh pelosok indonesia terang benderang target 2030 portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah gencar mewujudkan pemerataan energi di seluruh penjuru Indonesia, termasuk daerah-daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan setiap warga negara merasakan kehadiran negara melalui akses listrik. Program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) menjadi ujung tombak dalam misi mulia ini.

Program Listrik Desa dan BPBL: Jangkauan Luas, Manfaat Nyata

Hingga saat ini, program Lisdes telah berhasil menjangkau 10.068 lokasi, membawa terang bagi lebih dari 1,2 juta calon pelanggan baru. Ini adalah pencapaian signifikan yang membuka akses bagi masyarakat di daerah terisolir. Sementara itu, manfaat BPBL di tahun 2024 telah dirasakan oleh 155.429 rumah tangga, menunjukkan komitmen pemerintah dalam membantu masyarakat kurang mampu.

banner 325x300

Target ambisius juga disiapkan untuk periode Januari-September 2025, di mana 135.482 rumah tangga dari 215.000 target akan merasakan manfaat BPBL. Menteri ESDM Bahlil Lahadia menegaskan, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan simbol kehadiran negara yang fundamental. Ini adalah pembuka jalan bagi kesempatan sosial-ekonomi yang lebih baik di desa-desa terpencil.

Lebih dari Sekadar Penerangan: Mendorong Akses dan Produktivitas

Bahlil menjelaskan bahwa kedua program ini adalah bentuk nyata komitmen pemerintah untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat serta mempercepat pemerataan energi yang berkeadilan. "Listrik tidak lagi hanya aspek penerangan, namun meningkatkan pula akses pendidikan, produktivitas, dan taraf hidup masyarakat," ujarnya di Jakarta, Selasa (21/10). Ini membuktikan bahwa listrik memiliki dampak domino yang positif bagi kemajuan.

Rasio elektrifikasi nasional kini sudah mencapai 99,1 persen, sebuah angka yang patut diapresiasi atas kerja keras pemerintah. Namun, sisanya merupakan wilayah paling menantang, dengan rumah-rumah warga yang tersebar di pulau-pulau terluar dan pedalaman yang sulit dijangkau. Tantangan geografis ini membutuhkan pendekatan khusus dan inovatif.

Transformasi Menuju Energi Bersih: Masa Depan Terbarukan

Di wilayah-wilayah terpencil tersebut, Kementerian ESDM tidak hanya fokus pada pemerataan listrik konvensional, tetapi juga mendorong transformasi menuju energi yang lebih bersih. Percepatan pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan (EBT) menjadi prioritas utama. Ini adalah langkah strategis untuk pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah telah meresmikan puluhan pembangkit EBT dan mempercepat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt. Koperasi desa juga dilibatkan aktif dalam transisi energi ini, membuktikan bahwa ekonomi dan ekologi bisa bersinergi. "Keduanya bersinergi menciptakan fondasi pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan merata," tegas Bahlil, menunjukkan visi jangka panjang pemerintah.

Target Ambisius: Indonesia 100% Terang di 2030

Bahlil mempertegas tekad pemerintah untuk mencapai elektrifikasi 100 persen. Targetnya, seluruh pelosok negeri akan menikmati listrik sepenuhnya pada tahun 2030, sebuah janji yang akan mengubah wajah Indonesia. Ini bukan hanya angka, melainkan impian yang telah lama dinantikan banyak masyarakat.

"Setelah 80 tahun merdeka, tidak selayaknya ada warga yang masih mengalami gelap gulita," kata Bahlil dengan nada penuh semangat. Pernyataan ini menjadi pengingat sekaligus motivasi kuat bagi seluruh jajaran pemerintah untuk terus bekerja keras demi keadilan energi bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kisah Nyata: Cahaya Harapan di Pelosok Negeri

Program ini bukan sekadar deretan angka statistik, melainkan membawa perubahan nyata bagi kehidupan jutaan orang. Ruslam, warga Desa Bandar Jaya, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, adalah salah satu penerima manfaat BPBL yang merasakan dampak langsung. Sejak rumahnya teraliri sambungan listrik, aktivitas keluarganya jauh lebih lancar dan produktif.

"Alhamdulillah, sekarang rumah kami terang, tanpa harus mikir beli bensin tiap malam," ucap Ruslam bahagia, menggambarkan kelegaan yang dirasakan. "Anak-anak bisa belajar sampai malam, istri bisa menjahit tanpa terburu-buru, dan saya bisa istirahat dengan tenang." Ini adalah gambaran nyata peningkatan kualitas hidup.

Dari Papua, ada Elias Inyomusi, warga Kampung Iraiweri, Distrik Anggi, Pegunungan Arfak, yang menyambut gembira listrik yang kini menerangi rumah-rumah di kampungnya berkat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Anggi. "Semua rumah itu harus dapat listrik, supaya untuk kami punya anak-anak kami itu bisa belajar, mamak-mamak bisa masak dengan (penerangan) lampu," tutur Elias.

Ia mengenang masa lalu yang penuh perjuangan, "Saat saya lahir di sini, kami belum ada lampu. Kami bikin api. Kami baca, belajar, itu pasang, bikin gelegar untuk jadi pelita." Kini, masa-masa gelap itu telah berganti dengan cahaya terang yang membawa harapan dan kesempatan baru. Kisah-kisah seperti Ruslam dan Elias menjadi bukti nyata bahwa pemerataan energi adalah kunci menuju masa depan Indonesia yang lebih cerah dan berkeadilan.

banner 325x300