Jakarta, CNN Indonesia — Ketegangan menyelimuti Kantor Pusat Kementerian Pertanian pada Rabu (19/11) lalu, saat para peternak ayam petelur berkumpul. Mereka datang bukan hanya untuk menyampaikan keluhan, tetapi juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas). Pertemuan ini menjadi sorotan karena mengungkap praktik curang yang membuat harga telur di pasaran melonjak, padahal di tingkat peternak, harga justru stabil.
Amran Sulaiman, sosok yang dikenal aktif turun langsung ke lapangan, disebut-sebut sebagai penyelamat bagi para peternak. Ia tak hanya mendengarkan keluh kesah mereka, tetapi juga bertindak cepat untuk memastikan produksi pangan tetap aman dan harga stabil. Ini adalah kabar baik di tengah gejolak harga pangan yang kerap meresahkan masyarakat.
Peternak Bersuara: Apresiasi untuk Sosok Amran Sulaiman
Suasana rapat koordinasi stabilisasi harga telur ayam ras itu dipenuhi dengan nada optimisme dan rasa terima kasih. Para peternak secara gamblang mengungkapkan betapa besar peran Amran Sulaiman dalam menjaga keberlangsungan usaha mereka. Mereka menilai Amran adalah pejabat yang benar-benar peduli dan berani membela kepentingan rakyat kecil.
"Kami mewakili peternak telur menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Andi Amran Sulaiman," ujar Yesi, Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, dengan suara penuh haru. Ia menambahkan, "Beliau sosok yang peduli kepada rakyat dan peternak kecil, selalu hadir saat kami membutuhkan." Pernyataan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan cerminan dari pengalaman nyata para peternak yang merasa diperhatikan.
Senada dengan Yesi, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso, juga tak ragu melontarkan pujian. Menurutnya, Amran adalah pejabat publik yang memiliki empati tinggi dan selalu berada di garis depan untuk membela kepentingan peternak. "Kami dari Pinsar Petelur Nasional mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi yang besar kepada Bapak Amran yang selalu memperhatikan kita di kala kita mendapatkan kesulitan," tegas Yudianto.
Yudianto bahkan menyebutkan bahwa Amran Sulaiman telah berhasil menyelesaikan berbagai masalah krusial yang selama ini menghantui peternak. Mulai dari fluktuasi harga jagung sebagai pakan, harga DOC (Day Old Chick) atau anak ayam usia sehari, hingga stabilisasi harga telur di tingkat produsen. Kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada peternak kecil ini menjadi angin segar, memberikan perlindungan yang sangat dibutuhkan.
Dalang di Balik Harga Telur yang Melonjak: Siapa Mereka?
Namun, di balik apresiasi tersebut, tersimpan sebuah ironi yang mengkhawatirkan. Yudianto Yosgiarso menjelaskan bahwa harga telur di tingkat produsen sebenarnya tetap stabil, bergerak di kisaran Rp24.000 hingga Rp26.500 per kilogram. Angka ini sesuai dengan Harga Acuan Pemerintah (HAP), menunjukkan bahwa pasokan dari peternak aman dan harga dasar terkendali. Bahkan, produksi telur nasional saat ini berada dalam kondisi surplus, artinya stok melimpah ruah.
Lalu, mengapa harga telur di pasar justru melonjak tajam, seringkali jauh di atas HAP? Pertanyaan inilah yang menjadi inti permasalahan dan memicu kemarahan. Yudianto mengungkapkan adanya "middleman" atau tengkulak yang bermain harga, memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadi. Mereka menjadi dalang di balik kenaikan harga yang tidak wajar, merugikan baik peternak maupun konsumen.
"Kami menjual di harga acuan, tidak pernah naik. Jadi kalau di pasar melonjak, pertanyaannya siapa yang bermain?" tanya Yudianto retoris, namun penuh penekanan. Pernyataan ini seolah menunjuk hidung pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang mengambil untung di atas penderitaan rakyat. Praktik semacam ini tidak hanya merusak stabilitas harga, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha peternak yang sudah berjuang keras.
Mentan Amran Tak Tinggal Diam: Perintah Tegas untuk Satgas Pangan
Mendengar langsung keluhan dan fakta mengejutkan dari para peternak, Amran Sulaiman menunjukkan ketegasan yang luar biasa. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dan membiarkan pihak-pihak yang mempermainkan harga merugikan rakyat. Amran tidak main-main dalam menyikapi praktik curang ini, menunjukkan komitmennya untuk melindungi stabilitas pangan nasional.
Tanpa ragu, Amran langsung memerintahkan Satgas Pangan Polri untuk bertindak tegas. Targetnya jelas: menertibkan para pelaku usaha yang melanggar, terutama di 177 kabupaten/kota yang harga telurnya tercatat di atas HAP. Ini adalah langkah konkret yang menunjukkan bahwa pemerintah serius dalam memberantas praktik mafia pangan.
"Yang nakal itu middleman. Satgas Pangan, saya umumkan: cabut izinnya. Kalau perlu, tangkap," tegas Amran dengan nada tinggi, memberikan instruksi yang jelas dan tanpa kompromi. Perintah ini menjadi sinyal kuat bagi para "middleman" nakal bahwa era mereka mempermainkan harga sudah berakhir. Ancaman pencabutan izin dan penangkapan adalah konsekuensi serius yang harus mereka hadapi.
Langkah Strategis Pemerintah Menjaga Ekosistem Pangan
Amran Sulaiman juga memberikan gambaran bahwa kenaikan harga telur yang sempat terjadi bersifat sementara dan berpotensi segera terkoreksi. Optimisme ini didasari oleh beberapa faktor, salah satunya adalah penurunan harga DOC yang signifikan, dari Rp14.000 menjadi Rp11.500. Penurunan harga bibit ayam ini tentu akan berdampak positif pada biaya produksi peternak, sehingga diharapkan harga telur di pasaran juga bisa ikut turun.
Lebih lanjut, pemerintah tidak berhenti pada penindakan saja. Saat ini, Kementerian Pertanian bersama Bapanas sedang mengkaji pengaturan Harga Pokok Produksi (HPP) jagung, Harga Acuan Pembelian (HAP) jagung pakan, serta HAP telur ayam ras. Kajian ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem usaha yang adil dan terlindungi bagi semua pihak. Baik petani jagung, peternak ayam, maupun konsumen akhir, semuanya akan mendapatkan perlindungan melalui kebijakan harga yang transparan dan berimbang.
Pengaturan HPP dan HAP yang komprehensif ini diharapkan mampu mencegah fluktuasi harga yang ekstrem di masa mendatang. Dengan demikian, stabilitas pasokan dan harga pangan dapat terjaga, memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan ketenangan bagi masyarakat. Ini adalah upaya jangka panjang pemerintah untuk menciptakan ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan.
Komitmen Amran: Melindungi Peternak, Menjaga Harga Stabil
Di hadapan para peternak yang hadir, Mentan Amran Sulaiman kembali menegaskan komitmennya yang tak tergoyahkan. Ia berjanji akan selalu berada di garis depan untuk membela kepentingan mereka, memastikan tidak ada pihak yang tertindas dalam rantai pasok pangan. Pernyataan ini menjadi penutup yang kuat, memberikan harapan baru bagi para peternak yang selama ini merasa rentan.
"Saya hadir membela kalian. Saya di depan untuk kalian semua, yang besar dijaga, yang kecil apalagi. Jangan sampai ada yang tertindas. Kita harus sinergi dan kolaborasi," tandas Amran. Pesan ini bukan hanya ditujukan kepada peternak, tetapi juga kepada seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha untuk bersama-sama membangun sistem pangan yang lebih baik. Sinergi antara pemerintah, peternak, dan masyarakat adalah kunci untuk mencapai stabilitas harga dan ketersediaan pangan yang merata.
Dengan langkah-langkah tegas Amran Sulaiman dan dukungan penuh dari pemerintah, diharapkan praktik "middleman" yang merugikan dapat diberantas tuntas. Ini adalah harapan besar bagi jutaan rumah tangga di Indonesia yang sangat bergantung pada stabilitas harga telur sebagai salah satu kebutuhan pokok. Masa depan pangan yang lebih adil dan stabil kini terasa semakin dekat.


















