Kota Medan kini menghadapi cobaan ganda yang berat. Di tengah kepungan banjir yang melanda berbagai wilayah, pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite justru menipis drastis, bahkan menghilang di banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kondisi ini sontak memicu kepanikan dan antrean panjang yang mengular, membuat aktivitas warga lumpuh dan mobilitas harian terhambat parah.
Kelangkaan BBM ini bukan hanya sekadar isu, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi ribuan warga. Banyak yang terpaksa gigit jari karena tak bisa mendapatkan Pertalite, sementara sebagian lainnya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bensin eceran dengan harga yang melambung tinggi. Situasi ini menciptakan dilema baru di tengah bencana alam yang belum usai.
Antrean Mengular dan SPBU Kosong Melompong
Pantauan di lapangan pada akhir November menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Beberapa SPBU di Medan, seperti di Jalan Cemara, Jalan Delitua, dan Jalan Merak Jingga, terpantau kosong melompong tanpa setetes pun Pertalite. Bahkan, di SPBU Jalan HM Yamin, baik Pertalite maupun Pertamax sama-sama tidak tersedia, menambah daftar panjang kekecewaan warga.
Dina, salah seorang warga Medan, mengungkapkan keresahannya. "Sejak tadi malam susah sekali mencari Pertalite. Jangankan Pertalite, mencari Pertamax pun susah di SPBU HM Yamin. Saya sampai keliling, rata-rata SPBU kosong BBM," keluhnya. Akhirnya, ia terpaksa membeli bensin eceran di pinggir jalan dengan harga yang melonjak tajam, mencapai Rp15 ribu per liter untuk Pertalite.
Kekosongan serupa juga terjadi di SPBU Jalan Simpang Selayang, SPBU Jalan Sisingamangaraja, SPBU Jalan Medan Tembung, dan SPBU Medan Perjuangan. Kondisi ini memaksa banyak warga beralih ke penjual bensin eceran, meskipun harus membayar jauh lebih mahal dari harga normal. Antrean di penjual eceran pun tak kalah panjang, menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan BBM.
Yudi, warga Kota Medan lainnya, menceritakan pengalamannya. "Di kawasan Medan Perjuangan, Medan Tembung, semua SPBU kosong BBM. Beli bensin eceran antreannya sudah seperti antrean bansos. Harganya juga naik jadi Rp15 ribu per liter," ungkapnya dengan nada putus asa. Situasi ini benar-benar menguras kesabaran dan dompet warga.
Mobilitas Warga Terganggu, Pilih di Rumah Saja
Sementara SPBU yang masih memiliki stok Pertalite dan Pertamax menjadi sasaran utama. Titik-titik ini langsung diserbu kendaraan, menciptakan antrean panjang yang mengular hingga ke badan jalan. SPBU di Jalan Ringroad, Jalan Adam Malik, Jalan Polonia, dan Jalan KL Yos Sudarso menjadi saksi bisu betapa sulitnya warga mendapatkan BBM.
Rezki, seorang warga yang ikut mengantre, merasakan dampak langsungnya. "Panjang sekali antreannya sampai ke badan jalan. Itu pun tidak tahu juga kendaraan yang antre itu masih kedapatan BBM atau tidak," ujarnya. Ia menambahkan, "Sudah banjir di mana-mana, mencari bensin pun susah sekali. Kalau begini, mending di rumah saja dulu." Kelangkaan BBM ini benar-benar melumpuhkan aktivitas dan semangat warga.
Terungkap! Ini Penyebab Kelangkaan BBM di Medan
Menanggapi situasi genting ini, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa kekosongan BBM ini disebabkan oleh terhambatnya pasokan dari laut. Dua kapal pengangkut Pertalite dan Biosolar tertahan di perairan Belawan sejak 23 November akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Namun, ada secercah harapan di tengah badai. Fahrougi menambahkan bahwa kondisi cuaca yang mulai membaik kini memberikan dampak positif bagi proses pemulihan. "Gelombang laut yang sebelumnya tinggi kini telah mereda sehingga kapal pengangkut BBM dapat bersandar di Fuel Terminal Medan Group," jelasnya. Sejak hari ini, proses recovery dan normalisasi penyaluran BBM kembali dilakukan ke SPBU-SPBU terdampak secara bertahap.
Distribusi Darat Ikut Terdampak Banjir dan Longsor
Permasalahan tidak hanya berhenti pada jalur laut. Fahrougi juga mengungkapkan bahwa jalur distribusi darat ke wilayah-wilayah yang terdampak banjir dan longsor juga mengalami gangguan signifikan. Berdasarkan laporan operasional hingga 27 November pukul 21.00 WIB, sebanyak 23 dari 406 SPBU di Sumatera Utara terdampak langsung oleh bencana ini.
Stok BBM di lembaga penyalur tercatat 4.489 KL Gasoline dan 1.910 KL Gasoil. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada stok, distribusinya menjadi tantangan besar. Gangguan pada akses jalan akibat banjir dan longsor membuat mobil tangki kesulitan menjangkau SPBU-SPBU di daerah terpencil atau yang terisolasi.
Bagaimana dengan Pasokan LPG? Pertamina Sigap Bertindak
Selain BBM, pasokan LPG juga tak luput dari dampak bencana. Fahrougi menyebutkan bahwa 15 agen dan 5 SPBE (Stasiun Pengisian Bulk Elpiji) terdampak, terutama karena kerusakan akses jalur logistik di beberapa titik, termasuk rute Pangkalan Susu – Brandan. Ini tentu menimbulkan kekhawatiran baru bagi kebutuhan rumah tangga.
Sebagai langkah mitigasi, Pertamina segera melakukan Reguler Alternatif Supply (RAE) dari Integrated Terminal (IT) Dumai. Strategi ini diterapkan untuk mendukung suplai LPG ke sejumlah SPPBE yang aksesnya terhambat. "Hingga hari ini, beberapa SPPBE tercatat masih dapat menyalurkan LPG ke Agen, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terlayani," tegas Fahrougi. Pertamina memastikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan LPG untuk kebutuhan memasak di rumah.
Langkah Darurat Pertamina untuk Pulihkan Distribusi
Pertamina terus memperkuat langkah penanganan darurat untuk menjaga kelancaran distribusi energi di wilayah Sumatera Utara. Wilayah ini hingga saat ini masih berada dalam kondisi bencana akibat hujan ekstrem, angin kencang, dan tanah longsor di sejumlah daerah. Tim Pertamina bekerja keras di lapangan untuk memastikan energi tetap tersedia.
"Kami memastikan suplai terus bergerak dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta membeli BBM sesuai kebutuhan," sebut Fahrougi. Berbagai upaya percepatan dilakukan, termasuk penambahan mobil tangki dari Dumai, pemanfaatan skid tank, penggunaan AE Suplai, serta penugasan awak mobil tangki dari luar region untuk mempercepat recovery distribusi.
Pertamina juga menyiapkan perangkat pendukung seperti Starlink dan genset pada titik operasional tertentu guna menjaga kelancaran koordinasi di lapangan. "Tim kami bergerak menyesuaikan pola suplai, melakukan alih suplai antar terminal, dan mengoptimalkan armada untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi," ujar Fahrougi. Semua upaya ini dilakukan demi memulihkan kondisi dan memastikan masyarakat Medan bisa kembali beraktivitas normal.
Meskipun tantangan masih besar, Pertamina berkomitmen penuh untuk mengatasi krisis ini. Dengan membaiknya cuaca dan langkah-langkah darurat yang telah diambil, diharapkan pasokan BBM dan LPG di Medan dapat segera kembali normal. Warga diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian panik, agar proses pemulihan dapat berjalan lebih efektif dan cepat.


















