Dunia bisnis kembali diwarnai kabar kurang menyenangkan. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masif terus melanda berbagai perusahaan raksasa global, dari sektor teknologi hingga makanan cepat saji. Fenomena ini bukan lagi sekadar riak kecil, melainkan badai besar yang mengancam stabilitas ekonomi dan ribuan karyawan di seluruh dunia.
Nama-nama besar seperti Nestle, Pizza Hut, Amazon, hingga Starbucks menjadi sorotan utama setelah mengumumkan langkah restrukturisasi. Kebijakan ini berujung pada pengurangan ribuan tenaga kerja, mencerminkan tekanan ekonomi yang kian berat dan perubahan pasar yang tak terhindarkan. Berbagai faktor menjadi pemicu, mulai dari kenaikan biaya operasional, penurunan daya beli konsumen, hingga disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).
Beberapa perusahaan mengaku langkah tersebut diambil demi efisiensi operasional. Sementara itu, yang lainnya beralasan kebijakan ini diperlukan untuk mempertahankan stabilitas bisnis di tengah perubahan pasar yang sangat cepat. Berikut adalah daftar perusahaan internasional yang mengumumkan PHK besar-besaran dalam beberapa waktu terakhir, yang mungkin saja membuatmu terkejut.
1. Pizza Hut: Gerai Tutup, Ribuan Karyawan Terdampak di Inggris
Jaringan restoran cepat saji ikonik, Pizza Hut, terpaksa mengambil langkah drastis di Inggris. Puluhan gerai mereka ditutup, berujung pada PHK terhadap 1.210 karyawan yang sebelumnya bekerja di sana. Keputusan pahit ini diambil setelah operator Pizza Hut Inggris, DC London Pie Limited, memasuki tahap administrasi.
Sebanyak 68 dari 132 gerai restoran dan 11 gerai pesan antar di Inggris tidak dapat lagi beroperasi. Penutupan ini menjadi pukulan telak bagi banyak pekerja, meskipun Yum! Brands, sebagai pemilik global Pizza Hut, berhasil menyelamatkan sebagian gerai. Mereka membeli 64 restoran dan mempertahankan 1.276 pekerja.
Direktur Pelaksana Pasar Internasional Pizza Hut, Nicolas Burquier, menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan adalah melanjutkan kegiatan di gerai yang tersisa. Ia berjanji untuk memastikan kelangsungan bisnis di 64 restoran dan 343 lokasi pengiriman yang masih beroperasi. Langkah ini menunjukkan upaya keras untuk meminimalisir dampak negatif yang lebih luas.
Penutupan ini tak lepas dari kenaikan upah minimum di Inggris yang hampir 7 persen, menjadi 12,21 poundsterling per jam. Selain itu, meningkatnya biaya asuransi perusahaan juga turut membebani keuangan. Faktor-faktor ini membuat beban operasional kian berat dan sulit dipertahankan, memaksa perusahaan untuk melakukan efisiensi besar-besaran.
2. Amazon: Raksasa Teknologi Pangkas Puluhan Ribu Pekerja
Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Amazon, kembali menjadi perbincangan hangat setelah berencana melakukan PHK terhadap 30 ribu karyawan. Angka ini setara dengan sekitar 10 persen dari total tenaga kerja global mereka. Kabar ini dilaporkan oleh media-media besar seperti Reuters dan CNN, menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja di AS.
Salah satu pemicu utama PHK ini adalah meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI). CEO Amazon, Andy Jassy, menjelaskan bahwa efisiensi yang dihasilkan dari teknologi AI memungkinkan perusahaan mengurangi jumlah karyawan. Ini menandakan pergeseran paradigma di sektor teknologi, di mana AI mulai menggantikan sejumlah fungsi manusia.
Sebelumnya, pada tahun 2023, Amazon juga telah memangkas 27 ribu pekerja di berbagai divisi. PHK tersebut mencakup divisi sumber daya manusia, Amazon Stores, dan Web Services. Tren ini menunjukkan bahwa transformasi digital dan AI tidak hanya menciptakan peluang, tetapi juga mengubah struktur tenaga kerja secara fundamental.
PHK kali ini menjadi bukti nyata bagaimana teknologi canggih seperti AI mulai mengubah lanskap pekerjaan. Terutama bagi pekerja kerah putih di sektor teknologi, adaptasi terhadap perubahan ini menjadi kunci untuk tetap relevan di pasar kerja yang terus berkembang.
3. Target Corp: Restrukturisasi Besar-besaran di Sektor Ritel
Perusahaan ritel raksasa asal AS, Target Corp, juga tak luput dari gelombang PHK. Mereka mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 1.800 karyawan korporat, atau sekitar 8 persen dari total tenaga kerja kantoran. Langkah ini diambil dalam rangka restrukturisasi besar-besaran untuk memulihkan kinerja bisnis yang lesu selama bertahun-tahun.
CEO baru Target, Michael Fiddelke, dalam memo kepada karyawan, menjelaskan alasan di balik keputusan sulit ini. Ia menyatakan bahwa terlalu banyak lapisan dan pekerjaan yang saling tumpang tindih telah memperlambat pengambilan keputusan. Hal ini membuat ide-ide sulit diwujudkan, sehingga restrukturisasi menjadi langkah yang diperlukan untuk membangun masa depan Target yang lebih efisien.
PHK ini mencakup pula penutupan 800 posisi kosong yang tidak akan diisi kembali. Namun, penting untuk dicatat bahwa kebijakan ini tidak berdampak pada pekerja toko ritel dan rantai pasokan. Target memastikan karyawan yang terdampak tetap mendapat gaji dan tunjangan hingga awal Januari, serta paket pesangon yang layak.
Langkah ini menunjukkan betapa sulitnya persaingan di sektor ritel modern. Perusahaan harus terus berinovasi dan melakukan efisiensi agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen dan tekanan ekonomi. Restrukturisasi ini diharapkan dapat membuat Target lebih gesit dan kompetitif di masa depan.
4. Alexander McQueen: Rumah Mode Mewah Ikut Terpukul
Bukan hanya sektor teknologi dan ritel, industri fesyen mewah pun tak luput dari badai PHK. Rumah mode Alexander McQueen, yang terkenal dengan desain-desain avant-garde-nya, memangkas 20 persen staf kantor pusatnya di London. Sekitar 55 karyawan terdampak akibat penurunan penjualan yang signifikan.
Kering, perusahaan induk Alexander McQueen, mengonfirmasi kebijakan tersebut pada Kamis (23/10). Mereka menyatakan bahwa keputusan ini merupakan bagian dari tinjauan strategis komprehensif atas operasi global. Tujuannya adalah merestrukturisasi kantor pusat di Inggris dan mengurangi kompleksitas di seluruh pasar internasional.
Dalam pernyataan kepada WWD, pihak McQueen menjelaskan bahwa mereka berupaya untuk beradaptasi dengan kondisi pasar yang menantang. Meskipun mengalami tekanan penjualan secara keseluruhan, perusahaan menyebut pendapatannya sedikit terbantu oleh penjualan pakaian siap pakai wanita yang lebih tinggi. Ini menunjukkan adanya segmen pasar yang masih kuat di tengah kelesuan.
PHK di Alexander McQueen menjadi indikator bahwa bahkan merek-merek mewah pun tidak imun terhadap gejolak ekonomi global. Mereka juga harus berjuang keras untuk menjaga profitabilitas dan relevansi di pasar yang sangat kompetitif dan dinamis.
5. Nestle: Raksasa Makanan dan Minuman Pangkas Ribuan Karyawan
Produsen makanan dan minuman terbesar di dunia, Nestle, juga mengumumkan rencana PHK besar-besaran. Perusahaan asal Swiss ini akan memangkas 16 ribu karyawan, atau sekitar 5,8 persen dari total tenaga kerja globalnya. Kebijakan ini diambil untuk memangkas biaya dan memulihkan kepercayaan investor yang sempat goyah.
CEO baru Nestle, Philipp Navratil, menyatakan pada Kamis (16/10) bahwa dunia sedang berubah, dan Nestle perlu berubah lebih cepat. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi perusahaan untuk beradaptasi dengan dinamika pasar yang terus bergerak dan ekspektasi konsumen yang berubah.
Nestle menargetkan penghematan 3 miliar franc Swiss atau setara Rp62,39 triliun hingga tahun 2027. Target ini naik dari target sebelumnya sebesar 2,5 miliar franc atau Rp51,97 triliun, menunjukkan ambisi besar dalam efisiensi biaya. PHK akan dilakukan secara bertahap, dengan gelombang pertama sebanyak 12 ribu pekerja dalam dua tahun.
Sisanya, 4.000 pekerja, akan terdampak di sektor manufaktur dan rantai pasokan. Langkah ini menunjukkan komitmen Nestle untuk menjadi lebih ramping dan efisien. Tujuannya adalah untuk menghadapi tantangan ekonomi global dan menjaga posisinya sebagai pemimpin pasar.
6. Starbucks: Ratusan Gerai Tutup, Ribuan Pekerja Terdampak
Raksasa kopi global, Starbucks, juga tak ketinggalan dalam daftar ini. Mereka mengumumkan penutupan ratusan gerai di Amerika Utara, yang diperkirakan sekitar 1 persen dari total 18.734 gerainya. Keputusan ini disertai dengan PHK besar-besaran yang akan berdampak pada ribuan karyawan.
CEO Starbucks, Brian Niccol, menjelaskan kepada CNN Business bahwa langkah ini dilakukan untuk membalikkan kinerja keuangan perusahaan yang sedang lesu. Penutupan gerai ini merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk meningkatkan profitabilitas dan efisiensi operasional.
Dalam surat kepada karyawan, Niccol menulis bahwa lokasi yang ditutup adalah gerai yang tidak mampu memenuhi standar pengalaman pelanggan. Selain itu, gerai-gerai tersebut juga menunjukkan prospek keuangan yang buruk, sehingga tidak lagi berkelanjutan untuk dipertahankan. Ini adalah keputusan sulit namun penting demi kesehatan finansial perusahaan.
Meski menutup sejumlah gerai, Starbucks berencana merenovasi lebih dari 1.000 gerai dengan desain baru. Mereka akan menghadirkan kursi yang lebih nyaman dan suasana yang lebih hangat sebagai bagian dari fase pertumbuhan berikutnya. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak menyerah, melainkan beradaptasi dan berinvestasi untuk masa depan.
7. Agoda: Platform Perjalanan Daring Lakukan Efisiensi
Platform perjalanan daring Agoda juga mengonfirmasi telah melakukan PHK di beberapa kantornya, termasuk Singapura, Shanghai (China), dan Budapest (Hungaria). Langkah ini merupakan bagian dari upaya efisiensi operasional yang dilakukan perusahaan. Mereka berupaya untuk mengoptimalkan struktur organisasi dan biaya.
Juru Bicara Agoda, dikutip CNA, menyatakan bahwa perusahaan telah menghapus peran-peran pendukung di kantor-kantor tersebut. Namun, bersamaan dengan itu, mereka juga menciptakan posisi-posisi baru di lokasi geografis lain. Ini menunjukkan adanya pergeseran strategi dan fokus bisnis perusahaan.
Di Singapura, sekitar 50 karyawan terdampak PHK, termasuk posisi spesialis pelanggan, manajer regional, dan tim pendukung multibahasa. Keputusan ini tentu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja di sektor perjalanan daring. Terutama karena sektor ini sempat terpukul keras selama pandemi dan kini berupaya bangkit.
Dalam dokumen PHK yang diterima CNA, Agoda disebut melarang karyawan yang di-PHK untuk melapor ke lembaga pemerintah atau melakukan mediasi. Ancaman penarikan pesangon jika melanggar ketentuan tersebut menjadi sorotan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang praktik ketenagakerjaan di tengah gelombang PHK global.
Gelombang PHK yang melanda perusahaan-perusahaan raksasa ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada ribuan kisah individu dan keluarga yang terdampak, menghadapi ketidakpastian ekonomi. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa dunia bisnis terus bergejolak, menuntut adaptasi cepat dari perusahaan maupun individu.
Dari kenaikan biaya operasional, disrupsi teknologi AI, hingga perubahan daya beli konsumen, semua menjadi faktor pendorong di balik keputusan sulit ini. Ini adalah era di mana efisiensi dan inovasi menjadi kunci utama untuk bertahan. Semoga para pekerja yang terdampak dapat segera menemukan peluang baru di tengah tantangan ini.


















