Presiden Prabowo Subianto baru saja menggelar rapat terbatas yang sangat krusial di kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada Minggu (12/10) malam. Pertemuan mendadak ini dihadiri oleh sejumlah menteri penting Kabinet Merah Putih, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menunjukkan urgensi topik yang dibahas. Fokus utama rapat adalah evaluasi mendalam terhadap sistem keuangan dan perbankan nasional, dengan sorotan khusus pada efektivitas Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa diskusi utama berpusat pada hasil implementasi Peraturan Pemerintah (PP) terkait DHE. PP tersebut telah berlaku sejak Maret lalu, namun tampaknya belum memberikan dampak optimal seperti yang diharapkan pemerintah. Ini menjadi sinyal kuat bahwa ada sesuatu yang perlu segera dibenahi demi stabilitas ekonomi negara.
Rapat Darurat di Kediaman Presiden: Sinyal Penting untuk Ekonomi Nasional
Rapat terbatas yang diadakan di kediaman pribadi Presiden selalu memiliki bobot dan makna tersendiri. Ini bukan sekadar pertemuan rutin di Istana Negara, melainkan indikasi kuat adanya isu mendesak yang membutuhkan perhatian langsung dan keputusan cepat dari kepala negara. Kehadiran Wakil Presiden Gibran dan para menteri kunci semakin mempertegas betapa gentingnya situasi ini.
Prabowo dikenal sebagai pemimpin yang proaktif dan tidak ragu mengambil langkah cepat jika menyangkut kepentingan nasional. Pemanggilan para pembantunya di luar jam kerja resmi menunjukkan komitmennya untuk segera menemukan solusi atas permasalahan yang menghambat potensi ekonomi Indonesia. Fokus pada DHE bukanlah hal sepele, melainkan inti dari upaya memperkuat cadangan devisa dan menjaga nilai tukar rupiah.
Devisa Hasil Ekspor (DHE): Kebijakan Krusial yang Belum Optimal
Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) telah menjadi salah satu pilar penting dalam strategi ekonomi pemerintah. Melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025, Presiden Prabowo Subianto mewajibkan seluruh devisa hasil ekspor, khususnya dari sektor Sumber Daya Alam (SDA), untuk "diparkir" di bank-bank dalam negeri. Kebijakan ini dirancang agar 100 persen DHE SDA ditempatkan dalam sistem keuangan Indonesia selama minimal 12 bulan.
Tujuan utama dari kebijakan ini sangat mulia: memaksimalkan pemanfaatan hasil ekspor untuk kemakmuran rakyat. Dengan menahan devisa di dalam negeri, diharapkan cadangan devisa negara akan menguat, stabilitas nilai tukar rupiah terjaga, dan tersedia likuiditas yang cukup untuk mendukung pembangunan serta investasi domestik. Presiden Prabowo bahkan sempat memprediksi bahwa kebijakan ini berpotensi mendatangkan devisa hingga US$100 miliar per tahun.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa harapan tersebut belum sepenuhnya tercapai. Prasetyo Hadi mengakui bahwa efektivitas penerapan PP DHE masih jauh dari kata maksimal. Ada indikasi bahwa sebagian devisa masih belum masuk ke sistem keuangan nasional seperti yang diamanatkan, atau mungkin tidak bertahan selama periode yang ditentukan.
Mengapa DHE Penting untuk Kemakmuran Rakyat?
Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa DHE ini begitu penting sampai Presiden harus menggelar rapat malam? Jawabannya sederhana: DHE adalah darah bagi perekonomian nasional. Ketika eksportir mendapatkan pembayaran dalam mata uang asing, devisa tersebut idealnya harus dikonversi atau disimpan di bank domestik. Ini akan memperkuat cadangan devisa Bank Indonesia.
Cadangan devisa yang kuat adalah benteng pertahanan ekonomi suatu negara. Ia berfungsi sebagai penstabil nilai tukar rupiah, sehingga harga barang impor tidak melonjak dan inflasi bisa terkendali. Selain itu, cadangan devisa yang melimpah memberikan kepercayaan kepada investor asing, mendorong investasi, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Jika DHE tidak optimal, artinya sebagian besar devisa hasil ekspor kita "bocor" ke luar negeri atau tidak sepenuhnya masuk ke sistem keuangan domestik. Ini bisa melemahkan rupiah, membuat harga barang kebutuhan pokok naik, dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Dampaknya langsung terasa pada daya beli masyarakat dan kesejahteraan umum.
Mencari Celah dan Solusi: Langkah Prabowo Selanjutnya
Menyikapi kondisi yang belum maksimal ini, Presiden Prabowo Subianto dengan tegas meminta jajarannya untuk segera mempelajari kembali secara mendalam terkait devisa hasil ekspor. Ini bukan sekadar perintah biasa, melainkan instruksi untuk melakukan audit menyeluruh dan identifikasi celah-celah yang membuat kebijakan DHE belum efektif.
"Masih ada beberapa yang memungkinkan devisa kita belum seoptimal yang kita harapkan. Makanya itu yang diminta untuk segera untuk dipelajari kembali," ujar Prasetyo Hadi. Pernyataan ini mengisyaratkan adanya kemungkinan revisi aturan, pengetatan pengawasan, atau bahkan penyesuaian insentif agar eksportir lebih patuh.
Tim ekonomi pemerintah akan ditugaskan untuk menganalisis data, berdialog dengan pelaku usaha, dan mencari tahu akar masalahnya. Apakah ada kendala teknis dalam implementasi? Apakah ada insentif yang kurang menarik? Atau mungkin ada praktik-praktik yang belum sesuai dengan semangat PP DHE? Semua pertanyaan ini harus dijawab untuk menemukan solusi yang tepat.
Harapan Besar di Balik Kebijakan DHE: Menjaga Stabilitas Ekonomi
Di balik kegelisahan atas DHE yang belum optimal, tersimpan harapan besar dari pemerintah. Presiden Prabowo Subianto memiliki visi kuat untuk menjadikan Indonesia negara yang berdaulat secara ekonomi, di mana kekayaan alamnya benar-benar dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Kebijakan DHE adalah salah satu instrumen penting untuk mewujudkan visi tersebut.
Dengan mengoptimalkan DHE, Indonesia bisa lebih mandiri dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Cadangan devisa yang kuat akan menjadi bantalan saat terjadi krisis, mengurangi ketergantungan pada pinjaman luar negeri, dan memberikan ruang fiskal yang lebih besar untuk program-program pro-rakyat. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Rapat malam di Kertanegara ini menjadi bukti nyata komitmen Presiden Prabowo untuk tidak menunda-nunda masalah yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Kita patut menantikan langkah konkret selanjutnya dari pemerintah untuk memastikan bahwa devisa hasil ekspor benar-benar menjadi kekuatan pendorong bagi kemajuan ekonomi Indonesia.


















