PT Pertamina (Persero) secara tegas menyatakan komitmen penuhnya untuk mengawal dan merealisasikan target kemandirian energi nasional. Ini bukan sekadar janji, melainkan bagian integral dari "astacita" atau delapan cita-cita mulia yang diusung oleh Presiden terpilih, Prabowo Subianto.
Pernyataan penting ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, dalam gelaran akbar "Indonesia Langgas Berenergi". Acara yang digagas oleh Detik dan CNN Indonesia ini berlangsung di Anjungan Sarinah, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/10) lalu.
Simon Mantiri menegaskan bahwa setiap langkah strategis perusahaan selalu diselaraskan dengan kebijakan pemerintah. Khususnya, arahan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang berperan sebagai regulator utama di sektor energi Tanah Air.
Mengapa Kemandirian Energi Jadi Kunci Masa Depan Indonesia?
Kemandirian energi bukan hanya sekadar jargon, melainkan fondasi vital bagi kedaulatan sebuah bangsa. Dengan energi yang mandiri, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor, menjaga stabilitas harga, dan memastikan pasokan energi yang berkelanjutan untuk seluruh rakyat.
Ini adalah langkah strategis untuk memperkuat ekonomi nasional dan melindungi Indonesia dari gejolak pasar energi global yang seringkali tak terduga. Pertamina, sebagai BUMN energi terbesar, memegang peran krusial dalam mewujudkan visi besar ini.
Strategi “Dual Growth”: Pertamina Tak Mau Setengah Hati
Dalam menjalankan misinya, Pertamina mengusung strategi ambisius yang disebut "dual growth". Ini berarti perusahaan tidak hanya fokus memaksimalkan bisnis migas eksisting yang sudah berjalan, tetapi juga secara agresif mengembangkan bisnis energi rendah karbon.
Pendekatan dua jalur ini menunjukkan keseriusan Pertamina dalam menghadapi tantangan energi masa kini dan masa depan. Mereka ingin memastikan Indonesia memiliki portofolio energi yang kuat, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Jurus Jitu di Sektor Hulu: Menjaga Sumur Tua, Memburu Harta Karun Baru
Di sektor hulu, Pertamina Hulu terus berjuang keras untuk meningkatkan produksi minyak dan gas. Tantangannya tidak main-main, sebab sebagian besar sumur yang mereka kelola adalah "mature field" atau sumur tua yang laju penurunannya cukup signifikan.
Untuk mengatasi ini, berbagai inovasi teknologi dan inisiatif terus digulirkan. Mulai dari penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) hingga pemanfaatan teknologi digital mutakhir, semua dilakukan demi memperlambat laju penurunan produksi dan memaksimalkan potensi yang ada.
Namun, Simon Mantiri menekankan bahwa peningkatan produksi yang ideal harus diiringi dengan penemuan di wilayah kerja baru. Kabar baiknya, Kementerian ESDM berencana melelang sekitar 74 wilayah kerja migas dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Pelelangan ini diharapkan mampu membuka peluang besar bagi penemuan cadangan baru. Penemuan di wilayah kerja baru ini diprediksi akan memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap peningkatan produksi migas nasional di masa mendatang.
Modernisasi Kilang: Napas Baru untuk Hilir Migas Nasional
Tak hanya di hulu, Pertamina juga memperkuat sisi hilir dengan program pengembangan dan modernisasi kilang yang masif. Salah satu proyek strategis yang menjadi sorotan adalah Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Proyek raksasa ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 10 November 2025. RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah secara drastis, mengurangi ketergantungan impor bahan bakar, sekaligus menghasilkan produk yang setara dengan standar Euro 5 yang lebih ramah lingkungan.
Simon Mantiri mengingatkan, pembangunan kilang harus sejalan dengan peningkatan produksi migas domestik. Jika tidak, ketergantungan impor akan tetap tinggi, meskipun kapasitas pengolahan sudah bertambah. Oleh karena itu, sinergi antara hulu dan hilir menjadi kunci utama.
Pertamina berkomitmen penuh, bersama Kementerian ESDM, SKK Migas, dan seluruh pemangku kepentingan, untuk terus mendorong peningkatan produksi migas nasional secara berkelanjutan. Ini adalah upaya kolektif demi masa depan energi Indonesia yang lebih cerah.
Melaju Kencang di Jalur Transisi Energi: Dari Biofuel Hingga Panas Bumi
Di tengah isu perubahan iklim global, Pertamina juga tidak tinggal diam. Mereka bergerak cepat di sektor transisi energi, menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan dan lingkungan.
Biofuel: Lebih Hijau, Lebih Mandiri
Salah satu fokus utama adalah pengembangan biofuel. Pertamina aktif mengimplementasikan program B40 yang akan segera menuju B50, menandakan peningkatan kadar campuran biodiesel dalam bahan bakar. Ini tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga mendukung industri kelapa sawit nasional.
Selain itu, Pertamina juga telah memperkenalkan Pertamax Green 95 (E5), bahan bakar yang mengandung 5% etanol. Ini adalah bentuk dukungan nyata terhadap bahan bakar ramah lingkungan yang lebih bersih dan efisien, selaras dengan tren energi global.
Panas Bumi: Ambisi Jadi Nomor Satu Dunia
Tidak hanya biofuel, panas bumi (geothermal) juga menjadi primadona bagi Pertamina. Indonesia, yang berada di "Ring of Fire", memiliki potensi panas bumi yang luar biasa besar. Saat ini, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam kapasitas terpasang panas bumi, tepat di bawah Amerika Serikat.
Namun, Pertamina tidak puas sampai di situ. Simon Mantiri dengan optimis menargetkan agar pada tahun 2029, Indonesia dapat melesat menjadi nomor satu di dunia dalam kapasitas terpasang panas bumi. Ini adalah ambisi besar yang menunjukkan potensi Indonesia sebagai pemimpin energi bersih global.
Panas bumi menawarkan energi yang bersih, stabil, dan berkelanjutan, menjadikannya pilar penting dalam portofolio energi masa depan Indonesia. Investasi besar-besaran di sektor ini akan membuka lapangan kerja, mendorong inovasi, dan memperkuat posisi Indonesia di kancah energi dunia.
Sinergi Kuat untuk Masa Depan Energi Indonesia
Seluruh strategi dan program yang dijalankan Pertamina ini adalah cerminan dari komitmen kuat mereka untuk mewujudkan kemandirian energi nasional. Ini bukan perjalanan mudah, namun dengan sinergi yang solid antara Pertamina, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan, tujuan besar ini pasti dapat tercapai.
Indonesia sedang bergerak menuju masa depan energi yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Pertamina, dengan segala inovasi dan ambisinya, siap menjadi garda terdepan dalam mewujudkan mimpi besar ini, menjadikan Indonesia sebagai pemain kunci di panggung energi global.


















