Enable JavaScript to use the widget powered by Widjet
banner 728x250

Bikin Penasaran! Prabowo Panggil Jonan Bahas Whoosh, Tapi Kok Ada ‘Beda Versi’ di Istana?

bikin penasaran prabowo panggil jonan bahas whoosh tapi kok ada beda versi di istana portal berita terbaru
banner 120x600
banner 468x60

Sebuah pertemuan tertutup di Istana Kepresidenan Jakarta baru-baru ini sukses menyita perhatian publik. Presiden terpilih Prabowo Subianto terlihat memanggil mantan Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan, sosok yang tak asing lagi dengan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh. Namun, ada yang ganjil dari pertemuan tersebut: keterangan yang berbeda dari para pihak yang terlibat, menciptakan misteri yang menarik untuk diungkap.

Misteri Pertemuan di Balik Dinding Istana

banner 325x300

Pertemuan antara Prabowo dan Jonan berlangsung pada Senin sore pekan lalu, di tengah hangatnya polemik seputar Kereta Cepat Whoosh. Proyek ambisius ini memang sedang menjadi sorotan karena berbagai isu, mulai dari pembiayaan hingga operasionalnya. Wajar jika publik menduga pertemuan ini akan membahas solusi atau strategi terkait Whoosh.

Selama kurang lebih dua jam, diskusi berlangsung tertutup, jauh dari jangkauan media. Setelah pertemuan usai, Jonan segera menjadi sasaran pertanyaan para jurnalis. Namun, jawabannya justru mengejutkan dan memicu kebingungan.

Jonan Membantah, Prabowo dan AHY Berkata Lain

"Enggak, saya enggak diminta masukan kok soal itu," kata Jonan dengan tegas, membantah bahwa pertemuan dengan Prabowo membahas polemik Whoosh. Ia bahkan menolak berkomentar lebih lanjut mengenai utang Whoosh, beralasan sudah tidak menjabat sebagai Menhub dan tidak memiliki kapasitas untuk memberikan pandangan.

Menurut Jonan, kedatangannya ke Istana murni sebagai warga negara biasa. Ia mengaku berdiskusi mengenai program-program prioritas pemerintah saat ini, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Kopdes Merah Putih, dan Sekolah Rakyat. Program-program ini, menurutnya, memiliki efek pengganda ekonomi yang akan tumbuh perlahan.

Namun, keesokan harinya, Prabowo Subianto justru memberikan pernyataan yang bertolak belakang. Saat ditemui dalam konferensi pers peresmian Stasiun Tanah Abang Baru pada Selasa, Prabowo secara terang-terangan mengakui bahwa pertemuan dengan Jonan membahas persoalan Whoosh. "Ya, kita bicara, selalu," ujarnya singkat.

Prabowo menjelaskan bahwa ia memanggil Jonan ke Istana untuk bertukar pandangan mengenai banyak hal. Ia menilai Jonan sebagai salah satu tokoh bangsa yang memiliki banyak pengalaman dan wawasan. "Kita tukar-menukar pandangan. Beliau, saya kira, tokoh, tokoh bangsa. Jadi, saya senang selalu ketemu dan tukar-menukar pandangan dalam banyak hal," imbuhnya.

Tidak hanya Prabowo, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) juga turut hadir di Istana pada hari yang sama. AHY mengkonfirmasi bahwa pertemuan tersebut salah satunya membahas polemik utang Whoosh, meskipun ia menyebut pertemuannya dengan Prabowo berbeda sesi dengan Jonan. Kontradiksi ini tentu saja menimbulkan pertanyaan besar di benak publik: ada apa sebenarnya di balik pertemuan tersebut?

Mengapa Jonan Dipanggil? Menguak Sejarah Whoosh

Panggilan Prabowo kepada Ignasius Jonan bukanlah tanpa alasan. Jonan adalah figur kunci dalam sejarah awal proyek Kereta Cepat Whoosh. Saat menjabat sebagai Menteri Perhubungan pada periode 2014-2016, Jonan adalah pihak yang "mengegolkan" proyek ambisius ini, meski dengan syarat dan negosiasi yang cukup alot.

Pengalamannya yang mendalam dan sikapnya yang tegas dalam mengawal proyek infrastruktur menjadikannya sumber informasi yang sangat berharga. Terlebih lagi, Whoosh saat ini menghadapi berbagai tantangan, sehingga pandangan dari salah satu "arsitek" awalnya tentu sangat dibutuhkan.

Drama Tender Jepang vs. China

Proyek kereta cepat ini sendiri sudah diwarnai drama sejak awal. Pada tahun 2014, Jepang menjadi pihak pertama yang mengajukan penawaran dengan nilai proyek sebesar US$6,2 miliar, lengkap dengan studi kelayakan yang komprehensif. Jepang menjanjikan kereta berkecepatan 320 km per jam dan target penyelesaian dalam lima tahun (2016-2021).

Namun, pada tahun 2015, China tiba-tiba masuk dengan penawaran yang lebih agresif. Mereka menawarkan nilai proyek sebesar US$5,5 miliar, lebih murah dari Jepang. Tak hanya itu, China juga menjanjikan kecepatan yang lebih tinggi, 350 km per jam, dengan waktu pengerjaan yang jauh lebih singkat, hanya dua tahun (2016-2018).

Saat itu, Jonan tidak terlalu ambil pusing dengan selisih harga yang ditawarkan kedua kompetitor asing tersebut. Baginya, prioritas utama adalah standar keselamatan penumpang. Ia berulang kali menegaskan bahwa nilai investasi tidak boleh mengorbankan jaminan keselamatan.

Syarat Ketat Jonan untuk Proyek Kereta Cepat

Setelah melalui proses tender yang panjang dan akhirnya China keluar sebagai pemenang, serta terbentuknya PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Jonan mengajukan sembilan syarat perjanjian penyelenggaraan prasarana (konsesi) agar proyek kereta cepat bisa berjalan. Salah satu syarat paling krusial adalah pembiayaan proyek tidak boleh menggunakan dana APBN.

Jonan bersikeras bahwa pendanaan proyek harus berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB) sebesar 75 persen, dan sisa 25 persen dari ekuitas atau dana sendiri pihak konsorsium. Syarat ini menjadi benteng penting untuk melindungi keuangan negara dari potensi beban utang proyek. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisi ini mengalami perubahan, dan proyek Whoosh pada akhirnya menerima suntikan dana APBN, yang menjadi salah satu pemicu polemik saat ini.

Apa Makna Pertemuan Ini Bagi Masa Depan Whoosh?

Terlepas dari perbedaan keterangan antara Jonan dan Prabowo, pertemuan ini jelas memiliki makna strategis. Prabowo, sebagai presiden terpilih, menunjukkan keseriusannya dalam meninjau kembali proyek-proyek besar yang diwariskan, termasuk Whoosh. Memanggil Jonan, yang memiliki pemahaman mendalam tentang seluk-beluk proyek ini sejak awal, adalah langkah yang logis.

Mungkin saja Jonan memilih untuk tidak secara eksplisit menyatakan bahwa ia membahas Whoosh untuk menghindari spekulasi atau tekanan publik. Di sisi lain, Prabowo mungkin ingin menunjukkan transparansi dan keterbukaan bahwa ia memang mencari masukan dari berbagai pihak, termasuk mereka yang pernah terlibat langsung.

Pertemuan ini bisa menjadi sinyal bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Whoosh. Dengan masukan dari berbagai tokoh, termasuk Jonan, diharapkan ada solusi terbaik untuk keberlanjutan proyek ini, memastikan manfaatnya maksimal bagi masyarakat tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan. Misteri di balik "beda versi" ini mungkin akan terungkap seiring waktu, seiring dengan langkah-langkah konkret yang akan diambil oleh pemerintahan mendatang.

banner 325x300