Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) baru saja membuat gebrakan besar di dunia migas. Lewat inovasi metode batch drilling di lapangan Adera, Sumatera Selatan, mereka berhasil menggandakan produksi migas hingga melampaui target awal secara drastis. Ini bukan sekadar peningkatan biasa, melainkan lompatan signifikan yang patut diacungi jempol.
Bayangkan saja, dari target awal 1.200 barel minyak per hari (BOPD), Pertamina sukses mencetak angka fantastis 3.388 BOPD. Angka ini jauh di atas ekspektasi, menunjukkan betapa efektifnya metode pengeboran berkelompok yang mereka terapkan. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata komitmen Pertamina dalam mengadopsi teknologi mutakhir demi ketahanan energi nasional.
Inovasi yang Dimulai dari Sebuah Visi
Pencapaian luar biasa ini bukanlah hasil instan. Drilling Superintendent Zona 4 PDSI, Ernez Febriant, menjelaskan bahwa perjalanan panjang dimulai sejak dua tahun lalu. Proyek ambisius ini pertama kali diinisiasi pada Februari 2023 dan resmi berjalan penuh pada April tahun ini. Dedikasi dan kerja keras tim menjadi kunci utama di balik kesuksesan ini.
"Alhamdulillah, endurance kita mulai di April sampai saat ini di Oktober," ujar Ernez dalam media briefing di wilayah kerja Pertamina EP Adera Field, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Rabu (8/10). Ia menambahkan, dari lima sumur yang ditargetkan, empat di antaranya sudah rampung dan satu lagi sedang dalam tahap produksi. Ini menunjukkan progres yang sangat cepat dan efisien.
Apa Itu Batch Drilling? Metode Pengeboran Anti Ribet
Mungkin banyak yang bertanya, apa sebenarnya batch drilling ini? Berbeda dari metode konvensional yang sering kita dengar, batch drilling memungkinkan beberapa sumur dibor dari satu lokasi atau wellpad secara berurutan. Artinya, tim tidak perlu lagi membongkar dan mendirikan ulang rig setiap kali mereka berpindah titik pengeboran.
Ini adalah game changer. Dalam metode lama, setiap perpindahan rig memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Dengan batch drilling, prosesnya jauh lebih ringkas dan efisien. Rig tetap berada di lokasi yang sama, namun bisa menjangkau beberapa titik sumur sekaligus.
Rig ‘Jalan Kaki’ yang Bikin Kagum
Salah satu bintang utama di balik keberhasilan ini adalah Rig PDSI 41.3 yang digunakan. Rig canggih ini memiliki kemampuan unik yang disebut walking job atau sequence walking. Ini bukan sekadar istilah keren, melainkan teknologi yang memungkinkan rig bergerak secara horizontal dari satu sumur ke sumur lain tanpa perlu dibongkar.
"Tidak semua rig darat bisa melakukan hal ini. Di Indonesia saja, mungkin masih bisa dihitung jari," jelas Ernez. Kemampuan walking job ini adalah kunci efisiensi. Rig tetap tegak, hanya bergeser sedikit demi sedikit, layaknya berjalan, untuk mengebor sumur berikutnya. Ini memangkas waktu persiapan dan mobilisasi secara signifikan.
Dengan teknologi ini, satu rig mampu mengebor hingga lima sumur sekaligus dalam satu siklus kerja. Mulai dari pengeboran awal hingga mencapai pay zone atau zona target produksi, semua bisa dilakukan tanpa jeda panjang. Kedalaman rata-rata pengeboran mencapai 2.600 meter, sebuah tantangan teknis yang berhasil ditaklukkan dengan gemilang.
Dampak Nyata: Produksi Melejit, Biaya Menciut
Hasilnya? Empat dari lima sumur berhasil diselesaikan, dan seperti yang disebutkan di awal, produksinya melampaui target. "Saat ini total produksi kami sekitar 3.300 barel per hari," tambah Ernez. Angka ini menegaskan bahwa inovasi batch drilling bukan hanya teori, melainkan praktik yang menghasilkan dampak nyata dan positif.
Tidak hanya produksi yang melonjak, proyek ini juga membawa efisiensi biaya yang sangat signifikan. Setiap sumur memerlukan investasi sekitar US$6,5 juta, atau setara dengan Rp107,7 miliar (kurs Rp16.570). Namun, berkat metode batch drilling, Pertamina berhasil menekan pengeluaran hingga 15 persen dari total biaya pengeboran.
"Semakin banyak sumur, semakin besar potensi penghematan yang bisa dicapai," tutur Ernez. Ini berarti, untuk setiap sumur yang dibor, Pertamina bisa menghemat sekitar Rp16 miliar. Bayangkan jika ada puluhan atau ratusan sumur, penghematannya bisa mencapai triliunan rupiah! Sebuah angka yang sangat fantastis dan menguntungkan.
Efisiensi Waktu dan Lingkungan: Keuntungan Berlipat Ganda
Fakta lapangan menunjukkan bahwa penerapan batch drilling onshore di PHR Regional 1 Sumatra tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mempercepat waktu pengeboran. Metode ini terbukti 66 hari lebih efisien dibandingkan metode konvensional. Artinya, dalam periode waktu yang sama, lebih banyak sumur bisa dibor, memperkuat nilai keekonomian proyek secara keseluruhan.
Selain efisiensi teknis dan finansial, metode ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan operasional. Aktivitas alat berat di lokasi pengeboran menjadi jauh lebih sedikit. Ini berarti jejak karbon yang dihasilkan juga berkurang. Kebutuhan air permukaan juga berkurang, sebuah keuntungan besar di tengah isu kelangkaan air.
Pengelolaan limbah pengeboran di area berdekatan pun menjadi lebih efektif. Dengan minimnya pergerakan alat berat dan konsentrasi aktivitas di satu wellpad, pengawasan dan penanganan limbah bisa dilakukan dengan lebih terstruktur dan bertanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa inovasi Pertamina tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan.
Lapangan Benuang: Saksi Bisu Inovasi Bersejarah
Lapangan Benuang, tempat teknologi revolusioner ini diterapkan, berlokasi sekitar 25 kilometer di barat laut Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Lapangan ini punya sejarah panjang, telah berproduksi sejak tahun 1941. Dikenal sebagai penghasil gas kondensat dan minyak ringan dari formasi Pratalang, Benuang kini menjadi saksi bisu dari lompatan teknologi yang dilakukan Pertamina.
Keberhasilan batch drilling di Adera Field, khususnya di Lapangan Benuang, membuka peluang baru yang sangat menjanjikan. Pertamina kini menatap masa depan dengan optimisme untuk memperluas penerapan metode ini ke wilayah kerja lain di seluruh Indonesia. Ini adalah langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi migas nasional.
Penerapan inovasi ini membuktikan bahwa efisiensi operasional dan peningkatan produksi bisa berjalan seiring. Pertamina tidak hanya berhasil menekan biaya dan mempercepat waktu, tetapi juga meningkatkan hasil produksi secara signifikan. Ini adalah langkah konkret yang memperkuat ketahanan energi nasional, memastikan pasokan energi yang stabil untuk masa depan Indonesia. Sebuah pencapaian yang patut dibanggakan dan menjadi inspirasi bagi industri lainnya.


















