Bank Mandiri berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang luar biasa hingga kuartal III 2025. Raksasa perbankan ini membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp37,3 triliun, sebuah angka fantastis yang menarik perhatian banyak pihak. Pencapaian ini menjadi bukti nyata kekuatan dan stabilitas Bank Mandiri di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.
Angka laba bersih yang mencapai puluhan triliun rupiah ini tentu bukan tanpa alasan. Di balik kesuksesan tersebut, terdapat pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) yang solid, mencapai Rp61,9 triliun. PPOP adalah indikator penting yang menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan dari operasional intinya sebelum dikurangi biaya cadangan, menandakan efisiensi yang tinggi.
Pendapatan Meroket, Bikin Investor Tersenyum
Kinerja cemerlang ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tumbuh 4,90 persen secara tahunan (yoy), mencapai Rp78,3 triliun. Ini menunjukkan kemampuan bank dalam mengelola aset produktifnya, terutama dari penyaluran kredit.
Tak hanya itu, pendapatan non-bunga juga menunjukkan performa yang tak kalah impresif. Sektor ini tumbuh 7,97 persen yoy menjadi Rp33,2 triliun. Pendapatan non-bunga ini biasanya berasal dari biaya transaksi, layanan perbankan digital, hingga aktivitas treasury, yang menandakan diversifikasi sumber pendapatan bank.
Secara keseluruhan, total pendapatan Bank Mandiri tumbuh sebesar 4,79 persen yoy, mencapai angka Rp112 triliun. Angka ini menegaskan bahwa seluruh lini bisnis Bank Mandiri bekerja secara optimal, menghasilkan arus kas yang kuat dan berkelanjutan. Novita Widya Anggraini, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, menegaskan bahwa kinerja ini terjaga dengan baik berkat pertumbuhan yang berkelanjutan.
Aset dan Kredit Tumbuh Melebihi Rata-rata Industri
Hingga akhir September 2025, total aset konsolidasi Bank Mandiri turut meningkat pesat, mencapai Rp2.563 triliun. Angka ini naik 10,3 persen secara yoy, menunjukkan ekspansi dan penguatan posisi Bank Mandiri di industri perbankan nasional. Pertumbuhan aset yang sehat adalah cerminan dari kepercayaan pasar dan ekspansi bisnis yang solid.
Salah satu pendorong utama pertumbuhan aset adalah penyaluran kredit. Kredit konsolidasi Bank Mandiri mencapai Rp1.764,32 triliun, tumbuh 11 persen yoy. Angka pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan nasional yang tercatat sebesar 7,70 persen yoy, menurut data Bank Indonesia. Ini membuktikan agresivitas dan efektivitas Bank Mandiri dalam menyalurkan pembiayaan.
Novita menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit yang kuat ini merata di berbagai segmen. Kredit wholesale, yang menyasar korporasi besar, tumbuh 14,7 persen yoy atau mencapai Rp982 triliun. Sementara itu, kredit retail, yang melayani individu dan UMKM, juga tumbuh 4,58 persen yoy atau mencapai Rp403 triliun. Keseimbangan pertumbuhan ini menunjukkan strategi penyaluran kredit yang komprehensif dan terukur.
Manajemen Risiko Terjaga, Bikin Bank Makin Aman
Pertumbuhan kredit yang solid ini juga diimbangi dengan manajemen risiko yang sangat hati-hati. Pada akhir September 2025, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross secara bank only tercatat sangat rendah, yaitu 1,03 persen. Angka ini jauh di bawah batas aman yang ditetapkan regulator, menunjukkan kualitas aset Bank Mandiri yang prima.
Tak hanya NPL yang rendah, rasio pencadangan atau coverage ratio Bank Mandiri juga tetap terjaga baik pada level 271 persen. Ini berarti Bank Mandiri memiliki cadangan dana yang sangat kuat untuk menutupi potensi kerugian dari kredit macet, memberikan bantalan yang sangat tebal terhadap risiko. Investor tentu sangat menyukai rasio pencadangan setinggi ini.
Dukungan dari pencadangan yang kuat dan disiplin manajemen risiko turut menjaga cost of credit (CoC) secara bank only tetap berada pada level yang optimal, yaitu 0,51 persen pada September 2025. CoC yang rendah menandakan bahwa biaya yang dikeluarkan bank untuk mengelola risiko kredit sangat efisien, sehingga berdampak positif pada profitabilitas.
Dana Pihak Ketiga Melimpah, Didorong Digitalisasi
Dari sisi pendanaan, Bank Mandiri juga menunjukkan performa yang tak kalah gemilang. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13 persen yoy, mencapai Rp1.884 triliun hingga akhir kuartal III 2025. Pertumbuhan DPK yang masif ini menunjukkan kepercayaan masyarakat dan nasabah terhadap Bank Mandiri sebagai tempat menyimpan dana.
Komposisi dana murah (Current Account Savings Account/CASA) tetap dominan, mencapai 69,3 persen dari total DPK. Tingginya rasio CASA ini mencerminkan keberhasilan strategi Bank Mandiri dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memperkuat likuiditas. Dana murah jauh lebih menguntungkan bagi bank karena biaya bunganya lebih rendah dibandingkan deposito.
Pertumbuhan DPK yang solid tersebut tidak lepas dari peran penting transformasi digital Bank Mandiri. Peningkatan transaksi melalui super app Livin’ by Mandiri, Livin’ Merchant, dan Kopra by Mandiri menjadi pendorong utama. Platform digital ini tidak hanya memudahkan nasabah, tetapi juga berhasil menarik lebih banyak dana masuk ke Bank Mandiri.
Likuiditas Kuat, Siap Dorong Pertumbuhan Lebih Lanjut
Likuiditas Bank Mandiri tercatat sangat kuat, sebagaimana tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 92,6 persen pada September 2025. Level LDR ini mencerminkan posisi yang baik dan optimal, menandakan bahwa Bank Mandiri memiliki ruang yang cukup untuk terus mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan secara berkelanjutan tanpa khawatir kekurangan dana.
Kinerja Bank Mandiri yang baik juga tercermin dari rasio-rasio utama lainnya per akhir September 2025. Salah satunya adalah aspek permodalan dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) secara konsolidasi sebesar 20,1 persen. CAR yang tinggi menunjukkan kekuatan modal bank untuk menyerap potensi kerugian dan mendukung ekspansi bisnis di masa depan.
Profitabilitas juga membaik dengan Return on Asset (ROA) 2,39 persen dan Return on Equity (ROE) 21,2 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa Bank Mandiri sangat efisien dalam menghasilkan keuntungan dari aset dan modal yang dimilikinya. Kualitas aset juga terjaga baik di mana rasio kredit berisiko (Loan at Risk/LaR) hanya 6,53 persen, menunjukkan bahwa sebagian besar portofolio kredit Bank Mandiri dalam kondisi sehat.
Pendapatan Berbasis Fee Makin Moncer, Diversifikasi Sumber Cuan
Selain itu, rasio fee based income (FBI) terhadap total pendapatan juga menunjukkan tren peningkatan yang kuat, mencapai level 32,7 persen pada September 2025. Ini adalah kabar baik, karena diversifikasi pendapatan dari fee membuat bank tidak terlalu bergantung pada pendapatan bunga saja.
Peningkatan yang kuat tersebut didorong oleh peningkatan fee digital yang signifikan, seiring dengan masifnya penggunaan aplikasi Livin’ dan Kopra. Selain itu, pertumbuhan fee dari aktivitas treasury juga tumbuh sangat kuat, mencapai 57 persen yoy hingga September 2025. Ini menunjukkan keahlian Bank Mandiri dalam mengelola investasi dan transaksi pasar uang.
Secara keseluruhan, kinerja Bank Mandiri hingga kuartal III 2025 adalah cerminan dari strategi yang tepat, manajemen yang solid, dan adaptasi yang cepat terhadap perubahan pasar. Dengan fondasi yang kuat ini, Bank Mandiri siap untuk terus mencetak prestasi dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional.


















